Cari di Blog Ini

Selasa, 30 Juli 2013

Untuk Menjadi Kaya Dibutuhkan Kapasitas Psikologis Yang Besar

Kotabumi Lampung Utara: Untuk bisa menjadi orang yang kaya raya, seseorang harus memiliki kapasitas psikologis yang besar. Dalam benaknya bukan hanya berfikir tentang cara mendapatkan uang dalam hitungan jutaan rupiah, tapi triliunan rupiah. Orang yang tidak punya bakat menjadi orang kaya biasanya tidak memiliki kemampuan psikologis seperti itu. Mereka tidak akan mampu membayangkan risiko, tanggungjawab, dan cara atau kerja keras untuk menghimpun uang hingga dalam hitungan triliunan rupiah. Sebuah tulisan bagus yang disusun oleh Hasan Zein Mahmud mencoba membahas masalah ini.
Sejahtera. Kotabumi Lampung Utara
Kaya Itu State of Mind
Oleh: Hasan Zein Mahmud (Tim Ekselensi Learning Center dan Staf Pengajar pada KWIK KIAN GIE School of Business)

Ya, kaya itu state of mind. Kalimat itu saya baca pertama kali pada buku Robert G. Allen, Creating the Wealth. Ketika saya membaca bukunya yang lain, Multiple Streams of Income and The One Minute Millionaire, kalimat itu saya temukan lagi. Walau terlambat, akhirnya makna kalimat itu bisa saya mengerti. Itu setelah saya memasuki usia purna tugas pada umur menjelang 60 tahun, persis pada saat saya harus menghadapi flows of income yang berhenti, sementara flows of expenses yang belum kunjung mengecil. Kita selalu cenderung mengukur kekayaan itu dari jumlah asset atau harta yang dimiliki oleh seseorang. Padahal harta adalah hasil dari state of mind. Ibarat pohon, harta adalah buah, sementara sumber yang menentukan kualitas buah, sebenarnya adalah akar.

Mengubah paradigma memang tak mudah. Sebagai up bringing moslem, saya selalu meyakini bahwa rizki disediakan oleh Tuhan yang maha kuasa. Terlebih lagi saya sering, secara keliru, diajarkan bahwa mengejar kekayaan itu merupakan penjelmaan sifat serakah. Setelah pensiun, kondisi "terpaksa" menggiring saya lebih banyak membaca buku buku tentang bagaimana membuat perencaan keuangan. Usia senja juga memotivasi saya untuk lebih banyak membaca buku buku agama. Dari situ saya berusaha untuk memrogramkan kembali pengertian saya yang hanya sepotong-sepotong, baik dalam ilmu agama, maupun dalam ilmu perencanaan keuangan, terutama dengan membaca makin banyak artikel di bidang ini.

Pertama, kini saya meyakini bahwa menjadi kaya bukan perbuatan tercela, tentu saja sepanjang kekayaan itu diperoleh secara halal di jalan Allah. Agama saya mengajarkan bahwa tangan di atas lebih mulia dari tangan di bawah. Agama saya mengajarkan bahwa Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum (tentu juga nasib seorang manusia) bila kaum (dengan demikian juga individu yang bersangkutan) itu tidak berusaha mengubah nasibnya sendiri. Agama saya juga mengajarkan bahwa sedekah itu mulia, dan kekayaan yang halal membuka peluang untuk berjihad di jalan Allah.

Kedua, saya mulai mengubah paradigm yang cenderung menilai karya dengan pendekatan "the end results that count". Akhirnya saya juga setuju dengan T. Harv Eker yang menuliskan perjalanan hidupnya dalam bukunya Secrets of the Millionaire Minds bahwa the most important ingredient to the success is the state of minds. Eker mengatakan bahwa setiap orang memiliki di bawah sadarnya semacam financial blueprint, yang merupakan produk dari nilai nilai yang diperoleh dan dipegangnya selama perjalanan hidupnya.

Mengambil formula psikologis, Eker mengatakan bahwa kondisi bawah sadar akan menentukan cara seseorang berpikir, cara berpikir akan menuntun perasaan, perasaan akan menggerakkan aksi dan aksi menentukan hasil. Thoughts lead to feelings. Feelings lead to action. Actions lead to results. Oleh karena itu, Eker menganjurkan pembacanya untuk memprorgam kembali bawah sadar, agar proses selanjutnya juga berubah. Your new programming leads to new thoughts.

Dengan cara pandang itu, saya mulai mencoba memahami kenapa seorang teman yang mendapat gelar doktor di bidang keuangan, dan telah belasan tahun menjadi professor yang mengajar displin keuangan, tokh kinerja keuangan pribadi dan keluarganya biasa-biasa saja. Sementara itu, beberapa mahasiswanya yang indeks akademisnya biasa-biasa saja, sangat sukses dalam mengakumulasikan kekayaan. Dan dengan cara pandang itu, saya juga mulai melakukan program ulang cara pandang saya sendiri terhadap kekayaan. Boleh jadi dengan umur menjelang 62 tahun, peluang saya untuk mengakumulasikan kekayaan sudah amat terbatas, tapi paling tidak saya bisa menjalani usia pensiun saya dengan kemerdekaan finansial.

Ternyata dibutuhkan kapasitas psikologis untuk menjadi kaya. Orang-orang yang menjalani hidupnya dengan bantuan orang lain, cenderung menderita sindrom ketidakmampuan. Mereka tidak percaya bahwa tanpa uluran tangan dalam bentuk bantuan materi dari orang lain, mereka bisa menjalani kehidupan dengan layak. Orang-orang seperti saya yang seumur hidup menghabiskan waku sebagai pegawai, walaupun dengan jabatan eksekutif puncak, kapasitas psikologs saya tetap saja berputar-putar dalam nilai uang puluhan juta setiap bulan. Seorang yang mempersiapkan dirinya sebagai pengusaha, berpikir dalam nilai triliunan, kalaupun suatu saat dia gagal, obsesi untuk mengakumulasikan kekayaan tidak pernah surut.

Bayangkan sebatang pohon buah. Nilai pohon tersebut selalu dikaitkan dengan buah yang dihasilkannya. Buah buah itu terlihat di dahan dan ranting-ranting yang tinggi. Kita cenderung lupa bahwa untuk menghasilkan buah yang baik, pohon tersebut harus memiliki akar yang sehat dan kokoh. Yang disebut belakangan itu, terhujam di dalam tanah, dan tak kelihatan. Buah yang sudah tergantung ranum di dahan, kualitasnya tidak lagi bisa diubah. Kita harus mengubah kualitas akar untuk memperbaiki buah pada musim panen yang akan datang.

Eker menyebut buah yang dihasilkan pohon itu sebagai outer law, dan kondisi akarnya sebagai inner law. Pengetahuan ekonomi dan bisnis yang dimiliki oleh sang professor doktor adalah outer law, demikian juga dengan money management dan investment strategies yang diajarkannya kepada para mahasiswa adalah outer law. Apa yang dia tidak punya adalah inner law, kapasitas psikologis untuk menjadi kaya.

Kembali berbicara tentang diri sendiri, selama 30 tahun saya mengajar disiplin yang berkaitan dengan analisis investasi. Tapi posisi saya sebagai pegawai di sektor keuangan dan investasi, tidak memberi saya ruang untuk ikut aktif menjadi pemain. Baru setelah pensiun saya mulai aktif melakukan investasi di bursa saham. Ibarat orang yang selama ini mengetahui dengan lengkap teori tentang berenang tapi belum pernah nyebur ke kolam, sekarang saya tahu bahwa belajar renang tidak bisa dilakukan dengan hanya membaca buku dan menghapal teori.

Menghitung risiko tidak indentik dengan memikul risiko. Bersamaan dengan kegiatan nyebur ke kolam paradigma kita tentang berenang akan mengalami program ulang. Lewat tulisan ini saya ingin menyeru: "Kalau Anda ingin menjadi kaya, mulailah menyusun perencanaan keuangan sejak dini. Mulailah melakukan investasi sejak dini. Bersamaan dengan itu kita memperbaiki paradigm kita tentang bagaimana menjadi kaya...."

www.bisnis.com

1 komentar: