Cari di Blog Ini

Kamis, 04 Juli 2013

Ilmuwan Italia: Transplantasi Kepala Manusia Bisa Jadi Kenyataan Pada Abad Ini

Kotabumi Lampung Utara: Transplatasi kepala manusia bisa segera dilakukan pada abad 21 ini, kata Dr Sergio Canavero dari Turin Advanced Neuromodulation Group di Italia. Masalah teknis mungkin bukan menjadi kendala untuk melakukan transplatasi kepala manusia, masalahnya adalah pada soal etika. Praktek ini pernah dilakukan pada seekor monyet di tahun 1970, namun sayangnya monyet tersebut hanya berhasil bertahan hidup selama 8 hari setelah dilakukan operasi. Ilmuwan Italia ini menguraikan prosedur metode pelaksanaan transplatasi kepala manusia tersebut pada jurnal ilmiah Surgical Neurology International.
Transplantasi Kepala Manusia. Kotabumi Lampung Utara
Transplantasi Kepala Segera Jadi Kenyataan

Seorang ilmuwan Italia mengatakan, transplantasi kepala manusia bisa menjadi kenyataan di abad ini. Transplantasi kepala menjadi populer di dunia medis ketika untuk pertama kalinya dilakukan pada monyet di tahun 1970. Akan tetapi, sang monyet hanya bertahan hidup selama 8 hari. Dr Sergio Canavero, yang bekerja di Turin Advanced Neuromodulation Group di Italia, mengatakan sains bisa mewujudkan dongeng fiksi ilmiah, seperti Frankenstein dan transplantasi kepala menjadi mungkin. "Masalahnya adalah bukan terkait dengan hal-hal teknis, tapi etis," katanya kepada ABCNews.com.

Dalam jurnal Surgical Neurology International, Canavero menguraikan prosedur untuk mengambil kepala dari donor dan menanamkannya ke tubuh orang lain. Langkah ini melibatkan induksi hipotermia dan memotong syaraf sumsum tulang belakang dengan 'pisau ultra-tajam', sehingga dapat menyatu dengan sumsum tulang belakang donor. "Hal ini, tentu saja, benar-benar berbeda dari apa yang terjadi dalam cedera tulang belakang klinis, di mana kerusakan dan jaringan parut menghambat regenerasi," tulis Canavero.

Dr Sergio Canavero menguraikan skenario hipotetis, di mana donor adalah orang yang menglami mati otak. Dia mengatakan, penerimanya bisa siapa saja yang berada dalam kondisi terminal, karena kanker atau apa pun yang meninggalkan otaknya dalam kondisi utuh.

Untuk transplantasi kepala, dua operasi harus dilakukan di ruang yang sama, di mana kedua tali tulang belakang akan terputus secara bersamaan untuk kemudian segera disambungkan, direkatkan dengan zat yang disebut polyethylene glycol, atau PEG. Akan tetapi, Dr Sergio Canavero menyatakan operasi itu akan menciptakan sebuah "chimera", makhluk mitologis, dan bertabrakan dengan isu-isu etika yang kompleks -- misalnya, pasien akan menurunkan sifat genetiknya atau genetik donor. Namun, lanjutnya, langkah ini bisa menjadi penyelamat bagi orang-orang dengan kondisi kesehatan terminal.

www.tempo.co

Tidak ada komentar:

Posting Komentar