Cari di Blog Ini

Jumat, 28 Juni 2013

Peneliti BATAN: Pengawetan Makanan Dengan Teknologi Nuklir Tidak Mengubah Rasa Aslinya

Kotabumi Lampung Utara: Pengawetan makanan jadi dengan menggunakan teknologi nuklir tidak akan mengubah rasa asli makanan tersebut selain bisa tahan lama. Hal ini diusulkan oleh seorang peneliti dari BATAN (Badan Tenaga Atom Nasional), Prof. Zubaidah Irawati. Peneliti ini menyampaikan usulannya usai acara pengukuhan dirinya sebagai Profesor Riset Bidang Ilmu Pangan dan Gizi di BATAN.
BATAN (Badan Tenaga Atom Nasional). Kotabumi Lampung Utara
Batan Usul Awetkan Makanan Gunakan Nuklir

Peneliti dari lembaga Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) mengusulkan agar kedepan kebutuhan makanan untuk jemaah calon haji Indonesia di Arab Saudi merupakan makanan hasil awetan dengan teknologi nuklir. Pasalnya, jenis makanan awetan ini bisa tahan lama tanpa mengubah rasa aslinya. "Makanan apapun di Indonesia seperti semur, rendang dan jenis makanan lainnya bisa diawetkan hingga berbulan-bulan tanpa rasanya berubah," kata Prof. Zubaidah Irawati, seusai pengukuhan Profesor Riset Bidang Ilmu Pangan dan Gizi di Batan, pada Kamis (13/6/2013) lalu.

Hal ini tentu saja akan banyak memberikan keuntungan. Misalnya, makanan lebih enak karena dimasak oleh bangsa sendiri, lebih praktis, lebih bersih, serta lebih ekonomis karena bisa dikerjakan di tanah air. Dengan dikerjakan di tanah air Indonesia tidak perlu terlalu banyak mengirim orang ke Arab Saudi untuk sekadar memasak makanan. "Makanan jadi bisa dikirim dari Indonesia dalam bentuk kemasan. Kemudian di sana tinggal dihangatkan sehingga tetap enak dikonsumsi," katanya.

Selain untuk jemaah calon haji, makanan yang diawetkan dengan teknologi iradiasi nuklir bisa juga untuk tujuan komersial. Makanan tradisional yang biasnya cepat basi bisa diawetkan dengan bantuan teknologi iradiasi. Dengan cara ini banyak jenis makanan tradisional yang bisa diawetkan sehingga bisa memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Selama ini jenis makanan tardisional sangat mudah rusak sehingga banyak yang terbuang atau sulit dikirim ke daerah lainnya. "Jika bisa diawetkan maka makanan tahan lama dalam penyimpanan sehingga bisa dikirim ke wilayah yang membutuhkan," kata alumnus IPB, Bogor ini.

Sementara itu, Kepala Batan Prof. Djarot Wisnubroto mengaku senang dengan dikukuhkannya tiga profesor riset bidang nuklir. Sebab selamaini jumlah professor riset wanita dirasakan masih sangat kurang. "Saya bangga dengan dikukuhkannya tiga profesor riset wanita ini. Selama ini professor riset yang kita miliki kebanyakan dari kaum pria," tambah Djarot.

Dua profesor riset lainnya yang kemarin dikukuhkan masing-masing Prof. Dr. Muhayatun alumnus Fakultas Teknik ITB dan Prof. Dr. June Mellawati alumnus Pasca Sarjana Jurusan Pengelolaan Sumber Daya Alam IPB, Bogor.

www.poskotanews.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar