Cari di Blog Ini

Kamis, 09 Mei 2013

Fleksibilitas Dunia Kerja

Kotabumi Lampung Utara. Kondisi dunia kerja dewasa ini semakin dinamis. Sebuah fenomena telah berlangsung sejak cukup lama, lowongan kerja yang tersedia justru banyak diburu oleh orang-orang yang saat ini sedang memiliki pekerjaan tetap. Ini bisa dimengerti mengingat banyak perusahaan yang lebih menginginkan calon karyawan yang sudah memiliki pengalaman kerja.
Pekerja. Kotabumi Lampung Utara
Seorang teman yang bekerja pada perusahaan yang cukup bonafid, salah satu perusahaan yang kerap kali mendapat penghargaan karena kinerjanya di bidang pengembangan bisnis, mengeluhkan tentang langkah perampingan yang diambil oleh pihak direksi. Bahkan perusahaan tersebut kini benar-benar colaps dan tidak mampu lagi beroperasi. "Menyedihkan sekali melihat keadaan perusahaan di tempat saya bekerja itu. Banyak orang yang sudah saya kenal selama bertahun-tahun terpaksa diberhentikan, diturunkan jabatannya, atau dipindahkan ke tempat lain. Keadaan ini menjadi sulit diterima para karyawan. Saya masih bekerja di bagian saya, tapi sudah tidak punya perasaan yang sama terhadap tempat saya itu lagi seperti dulu", teman itu bercerita dengan wajah murung. Seperti orang yang sudah kehilangan ketenangan masa lalu.

"Sudah lebih dari 20 tahun saya bekerja di tempat itu. Saya juga menjadi saksi saat pergantian managemen oleh pihak lain hingga perusaahn punya nama baru. Dan selama itu kami selalu diyakinkan oleh pihak direksi bahwa selama kami bekerja dengan baik dan rajin, perusahaan akan melindungi dan membantu kesejahteraan hidup karyawannya. Tapi secara tak terduga kami diberitahu, tak seorang pun dijamin bisa tetap bekerja disini", kini dia mengusap wajah dengan telapak tangannya.

Seperti yang sudah sering kita dengar, saat ini tidak ada lagi seorang pun yang dijamin untuk tetap bekerja di manapun. Ini masa yang sulit bagi para pekerja atau karyawan. Semua orang jadi merasa bahwa tidak ada lagi pekerjaan yang aman. Pekerjaan yang bisa ditekuni hingga masuk ke usia pensiun. Meskipun perusahaan dimana mereka bekerja sedang mengalami kemajuan sekalipun. Rasa takut, kekhawatiran, dan kebingungan itu makin besar.

Saat ini, lowongan pekerjaan tidak hanya dicari oleh para fresh graduate, lulusan lembaga pendidikan, atau pencari kerja lainnya yang memang belum mencicipi lapangan pekerjaan. Tapi lowongan pekerjaan itu pun sering diburu oleh orang-orang yang justru sudah atau masih bekerja. Orang-orang ini sudah takut kehilangan pekerjaannya dan sudah mencari lowongan kerja di tempat lain. Saya hanya bisa menduga bahwa makin banyak orang yang cemas dan khawatir akan kehilangan karier yang selama ini ditekuninya.

Kecemasan atau kekhawatiran seperti itu sepertinya akan terus ada meskipun perekonomian di negeri ini sudah makin membaik. Mengapa begitu? Dulu ada sebuah teori di bidang dunia kerja yang disebut-sebut sebagai "fleksibilitas dunia kerja". Penyesuaian yang terjadi dengan sendirinya pada mekanisme perkembangan pada banyak perusahaan. Kecenderungan ini sekarang menjadi kenyataan yang menyulitkan. Gejala ini melanda bagian manapun di dunia ini dengan tanpa ampun. Bahkan dimanapun kekuatan ekonomi yang paling besar sedang bersemayam. Seperti pada negara-negara maju itu.

Kemakmuran perekonomian pada suatu wilayah atau negara tidak lagi menjamin kelangsungan pekerjaan. Tingkat PHK masih terus berlanjut meskipun tingkat pertumbuhan perekonomian sedang membumbung. Paul Krugman, seorang ekonom dari MIT mengatakan, "Itulah harga yang harus dibayar karena memiliki ekonomi dinamis seperti sekarang ini".

Seseorang eksekutif pernah mengatakan, kita bekerja dalam suasana yang mirip dengan medan perang. Bukan zamannya lagi untuk loyal pada perusahaan dan berharap kesetiaan ini akan mendapat balasan. Tiap orang harus setia pada dirinya sendiri. Selalu bersiap untuk ditinggal sendirian. Tapi juga harus selalu siap untuk menjadi bagian dari sesuatu yang lain. Harus siap berpindah kemanapun hanya untuk sekedar bertahan hidup. "Kamu boleh mencintai pekerjaanmu, tapi jangan pernah mencintai perusahaan dimanapun kamu bekerja".

Bagi banyak pekerja dari era terdahulu, yang diajari bahwa pendidikan dan keterampilan teknis adalah tiket untuk menuju keberhasilan, pondasi pemahaman baru tentang pokok-pokok karier ini mungkin sangat tidak mereka duga. Orang mulai sadar bahwa bukan hanya keunggulan akademis (intelektual) atau keterampilan teknis yang dibutuhkan untuk menuju keberhasilan. Kita memerlukan keterampilan lain yang lebih bersifat psikologis untuk sekedar bertahan hidup atau menjadi yang terdepan. Keterampilan itu misalnya ketangguhan dan inisiatif, optimisme, dan kemampuan beradaptasi sejak kini telah menjadi dasar penilaian baru. Menjadi bekal untuk terjun di tengah pasar lapangan kerja di masa datang yang akan makin bergolak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar