Cari di Blog Ini

Rabu, 03 April 2013

Peran Kata Hati Dalam Pengambilan Keputusan Bisnis

Menggunakan naluri dalam mengelola sebuah bisnis seringkali memberikan hasil yang memuaskan. Namun tidak semua orang bisa memahami naluri atau kata hatinya untuk digunakan dalam mengambil keputusan penting untuk sebuah terobosan bisnis. Daniel Goleman pernah menjabarkan tentang menggunakan kata hati dalam mengambil sebuah keputusan penting dalam berbisnis. Apa katanya? Baca pada artikel wirausaha ini.
Berbisnis. Kotabumi Lampung Utara
Dalam sebuah bukunya, Daniel Goleman pernah menulis tentang peran penting kata hati untuk menentukan keberhasilan atau kegagalan dalam keputusan bisnis. Setelah dikaji lebih jauh, juga berperan untuk mengambil keputusan dalam berbagai aspek kehidupan. Bagaimana sebuah kata hati bisa kita gunakan untuk dasar utama dalam pengambilan sebuah keputusan penting? Lalu bagaimana korelasinya dengan keputusan yang diambil berdasarkan hasil analisa rasionalistis? Dibawah ini merupakan cuplikan dari sebagian tulisannya.

Seorang teman yang berprofesi sebagai dokter mendapat tawaran sebuah kesempatan usaha. Jika dia bersedia meninggalkan usaha prakteknya dan menjadi direktur medis sebuah kawasan hunian elite yang berorientasi kesehatan dan menanamkan saham sebesar hampir sebesar Rp.1 milyar untuk ikut memiliki usaha tersebut, bagian keuntungan yang menjadi haknya dari usaha itu bisa mencapai Rp.35 milyar setelah tiga tahun. Saya yakin, keuntungan seperti itu akan sangat menggiurkan bagi siapa saja, termasuk Anda, pembaca. Janji seperti itu lah yang diperoleh si dokter dari pihak pengembang hunian tadi.

Gambaran tentang kawasan hunian yang lebih mirip menjadi tempat berlibur bagi orang-orang yang ingin meningkatkan kualitas kesehatan, ditambah dengan potensi penghasilan yang luar biasa membuatnya tak mampu menolak tawaran peluang usaha tersebut. Si dokter menjual praktek dokternya lalu menanamkan uangnya dalam proyek pengembangan hunian itu dan menjadi direktur medis di tempat tersebut.

Pada tahun pertama di tempat kerjanya yang baru, si dokter merasakan belum ada program kesehatan yang dapat membuatnya sibuk. Maka, sehari-hari sebenarnya ia hanya bertindak sebagai penjual dan kesana-kemari membujuk orang agar mau membeli kapling atau unit di kawasan hunian elite tersebut. Hingga pada suatu hari saat mengendarai mobil untuk menuju tempat kerjanya yang baru itu, tanpa sadar ia memukul-mukul dasbor sambil berteriak, "Aku tidak bisa lagi!"

Satu tahun kemudian proyek kawasan hunian berorientasi kesehatan itu bangkrut, demikian juga dengan dirinya. Belakangan dia mengakui bahwa sejak awal dirinya sudah merasakan ada sesuatu yang tidak beres dalam penawaran peluang usaha itu. Proyeksi yang digambarkan dalam rencana bisnis terasa begitu muluk. Ia menyadari proyek itu lebih berorientasi pada pengembangan real estate, bukan peningkatan kesehatan. Tapi bagi orang yang sedang memimpikan sebuah perubahan seperti dirinya, intensif finansial yang ditawarkan menjadi begitu sangat menggiurkan sehingga peringatan dari dalam hati dikuburnya dalam-dalam, sampai akhirnya semua sudah menjadi sangat terlambat. Nasi sudah menjadi bubur.

Sebenarnya, hidup sudah seringkali menawarkan kepada kita informasi atau solusi, tapi samar-samar, tidak jelas seperti pola "kalau tidak begini, maka begitu" seperti pelajaran tentang analisa risiko dan pengambilan keputusan yang diajarkan di sekolah. Pendekatan seperti itulah yang sering ditawarkan secara berlebihan dalam usaha menjadikan semuanya menjadi nyata dalam hal penetapan pilihan-pilihan di dunia kerja sehari-hari. Siapa yang harus dipromosikan, perusahaan mana yang layak diajak merger, strategi pemasaran seperti apa yang harus diterapkan, atau kontrak bisnis mana yang harus diterima. Saat harus membuat keputusan-keputusan seperti itu, kata hati sebagai indera kita yang paling mendalam tentang apa yang dirasa benar atau salah menyediakan informasi penting yang semestinya tidak kita abaikan karena dapat membuahkan penyesalan di kemudian hari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar