Cari di Blog Ini

Sabtu, 20 April 2013

Bayi Kecil Yang Malang Ini Membutuhkan Bantuan

Seorang bayi berusia 9 bulan menderita penyakit hydrocephalus dengan gejala bertambahnya cairan otak sehingga ukuran kepalanya makin membesar. Orang tua bayi perempuan yang bernama Azahra ini tidak mampu membiaya pengobatan yang mahal untuk buah hatinya itu karena pekerjaan mereka hanya sebagai buruh tani. Penyakit hydrocephalus ini sudah diderita oleh bayi Azahra sejak 5 bulan yang lalu. RSUD Ryacudu Kotabumi yang menjadi rumah sakit rujukan bagi Azahra tidak memiliki peralatan yang dibutuhkan untuk merawat Azahra sehingga akhirnya bayi ini dirujuk lagi ke RSUD dr. Hi. Abdul Moeloek Bandarlampung.
RSUD Ryacudu. Kotabumi Lampung Utara
Azahra Butuh Uluran Tangan

Kesedihan terus menggayuti wajah pasangan suami-istri (pasutri) Ade Mukhson Alimi (21) dan Marliah (23). Kesedihan ini dipicu oleh kondisi buah hati mereka, Azahra (9 bulan), yang kini menderita hydrocephalus atau pembesaran kepala karena banyaknya cairan pada otak.

Penyakit ini sebenarnya sudah menimpa Azahra sejak lima bulan silam. Karena terkendala dana, pasutri warga Dusun I, Desa Muaradua, Kecamatan Abungtinggi, Lampung Utara, tersebut baru bisa membawa Azahra ke rumah sakit beberapa hari lalu. Itu pun menggunakan fasilitas jamkemas dengan pelayanan yang terbatas. "Sebenarnya, kami sudah lama ingin membawa Azahra ke rumah sakit. Karena kami tak punya biaya, akhirnya ditunda sampai dia (Azahra) berusia 8 bulan. Ketika diperiksa bidan desa akhir Maret lalu, Zahra divonis hydrocephalus dan harus di rujuk ke rumah sakit," ujar Ade, Jumat (18/4/2013).

Dijelaskan, akhirnya Azahra dirujuk ke di RSU Ryacudu Kotabumi dan sempat dirawat selama satu minggu. Karena pihak rumah sakit tidak memiliki peralatan memadai, Azahra akhirnya dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah dr. Hi. Abdul Moeloek (RSUDAM) Bandarlampung. Di rumah sakit pelat merah ini, Azahra dirawat selama 13 hari. "Yang menjadi kekhawatiran kami adalah soal mahalnya alat yang berupa selang untuk mengalirkan cairan otak yang berlebihan ke saluran kencing. Sebab, alat tersebut tidak termasuk dalam jaminan jamkesmas. Menurut dokter, harganya sekitar Rp 6 juta. Dari mana saya uang sebanyak itu. Apalagi alat yang dibutuhkan bukan cuma satu," keluh Ade yang sehari-hari hanya bekerja sebagai buruh tani itu. Ia sangat berharap pemerintah dapat membantu meringankan beban.

Senada, bidan desa setempat, Rusnawati, mengatakan, Azahra harus dikontrol secara berkala untuk mengetahui perkembangan kesehatannya. "Seminggu sekali Azahra harus dibawa ke RSUDAM untuk mendapat perawatan medis. Ini juga untuk memastikan alat yang terpasang cocok atau tidak dengan kondisi pasien. Kalau tidak cocok, harus diganti. Sebab, selang tersebut bisa pecah dan mengakibat aliran cairan otak terganggu," terang Rusnawati.

www.radarlampung.co.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar