Jumat, 29 Maret 2013



: Posted on Jumat, 29 Maret 2013 - 04.18 with No comments

Pulau St. Helena bisa dianggap sebagai pulau berpenghuni yang paling terisolir di dunia. Hal ini dikarenakan begitu jauhnya jarak Pulau St. Helena dengan daratan atau pulau-pulau lain yang terdekat. Kondisi geografis seperti itu membuat pulau ini seperti terputus hubungannya dengan dunia luar. Hingga orang-orang menjuluki Pulau St. Helena sebagai masa lalu Inggris di zaman modern ini.
St. Helena. Kotabumi Lampung Utara
Kapal bernama RMS St Helena merupakan satu-satunya penghubung Pulau St Helena dengan dunia luar. Kapal ini milik jawatan pos kerajaan Inggris yang mempunyai rute pelayaran Cape Town di Afrika Selatan, Pulau Ascension dan kemudian Pulau St Helena. St Helena terletak persis di tengah-tengah antara Afrika dan Amerika Selatan. Dibutuhkan waktu tiga hari untuk mencapai St Helena dari Ascension yang merupakan pulau terdekat. Jadwal antara satu pelayaran tak menentu. Kadang bisa satu atau dua minggu, atau kadang bahkan tidak ada sama sekali untuk beberapa minggu kalau kapal sedang dalam perbaikan. Pemerintah Inggris sempat berencana untuk membangun bandar udara kecil di pulau mungil itu, tetapi kini ditunda.

Ford Escorts

Pergi ke St Helen dari Inggris bukan sebuah perjalanan murah. Pesawat pulang pergi ke Ascension membutuhkan biaya sedikitnya £1000. Masih ditambah £1.600 untuk ongkos kapal pulang pergi Ascension-St Helena. Mungkin karena begitu mahal dan juga kondisi geografis pulau yang sangat susah, St Helena sering dikatakan terperangkap dalam mesin waktu. Wajah masa lalu Inggris.

St Helena seperti muncul begitu saja dari lautan, dengan tebing-tebing batu yang terjal dan hantaman ombak lautan yang tidak selalu ramah. Diantara tebing-tebing terjal itu, seperti bersarang di sebuah selokan panjang, terdapat kota kecil Jamestown. Wajah kota ini layaknya pedesaan Inggris Tengah, mungkin campur-campur sedikit dengan wajah khas daerah penjajahan jaman dulu. Mobil Ford Escorts sekali-kali melintas jalan utama kota itu sementara orang-orang dengan santainya berbincang di pinggir jalan memandanginya. Ford Escorts banyak ditemui di pulau ini.

Tidak ada jaringan toko serba ada di sini. Beberapa toko yang melayani keperluan penduduk tutup pukul 4 sore. Hari Rabu adalah hari kerja setengah hari. Sementara kegiatan bisnis berhenti sama sekali di akhir pekan. Di dalam toko serba ada Star, walau kapal baru saja mendarat, tidak banyak barang tersedia. Di rak untuk sayur-sayuran yang tersedia hanya wortel, mentimun dan kentang. ''Ini tak terlalu buruk,'' kata Bronwen Yon yang sedang berbelanja di toko itu. ''Kadang tak tersedia apapun sama sekali. Dalam dua minggu lagi hal itu akan terjadi.''

Dengan hanya satu kapal melayani pulau itu maka penduduknya harus menyusun sebuah strategi untuk bisa bertahan. ''Kalau kapal datang dari Cape Town maka anda bersiap untuk membeli kebutuhan seperti mentega, gula, minyak dan semacamnya. Anda juga akan tahu kapan barang-barang dari kapal itu akan muncul di rak-rak toko dan harus menghitung kebutuhan untuk setidaknya satu bulan.''

Tetapi tidak setiap orang bersedia hidup seperti itu. Konon setiap kapal datang, dua keluarga akan meninggalkan pulau itu. Akibatnya jumlah penduduk terus berkurang. Padahal St Helena dulunya adalah pulau yang ramai. Sebagai pulau persinggahan dalam jalur pelayaran internasional pulau itu menerima sekitar seribu kapal setiap tahunnya. Datangnya era perjalanan udara dan buruknya jaringan komunikasi membuat pulau ini lama-lama terlupakan.

Mahal

Gaji rata-rata di Pulau St Helena sekitar £70 per minggu dan setiap satu dari empat penduduknya dalam sepuluh tahun terakhir pindah ke daratan untuk mendapat gaji yang lebih baik. Akibatnya pulau itu semakin hanya ditinggali oleh kalau bukan anak-anak maka mereka yang lanjut usia. Saat ini keseluruhan penduduk pulau tersebut 7.637 jiwa. Melvina Caeser misalnya, harus berjuang sendirian membesarkan cucu-cucunya sementara orang tua mereka pergi mencari makan. ''Repot tetapi tidak ada pilihan,'' katanya. ''Makanan sangat mahal, begitupun pakaian. Itu sebabnya orang harus pergi dari pulau. Berat bagi anak-anak karena ibu mereka tidak ada di sini. Tetapi saya mencintai mereka seperti anak saya sendiri.''

Warga menyambut meriah Ketika pemerintah Inggris berencana untuk membangun bandar udara. Untuk memerintah St Helena pemerintah Inggris setiap tahunnya harus merogoh kocek senilai £20 juta. Walau bandar udara itu akan menelan biaya £300 juta diharapkan bandar udara itu akan memungkinkan warga pulau untuk mandiri. Namun ada juga yang menolak rencana tersebut. Mereka khawatir bandar udara akan menyebabkan peningkatan jumlah penduduk yang pada akhirnya mengganggu atmorfir keakraban yang selama ini menjadi kekuatan penduduk St Helena. ''Banyak orang tidak menginginkan perubahan. Mereka khawatir bandar udara akan membuat teroris masuk ke pulau ini,'' kata seorang pekerja hotel bernama Annabel Plato.

Annabel sendiri sempat pergi dan bekerja di Inggris tetapi memutuskan untuk pulang. Ia tidak peduli apakah bandar udara jadi dibangun atau tidak. ''Pulau ini seperti desa. Setiap orang bertegur sapa dan saling membantu,'' katanya. ''Kalau ada pemakaman atau perkawinan dan mereka kekurangan bunga misalnya, maka orang akan mengambil dari kebun mereka untuk membantu. Sangat mengharukan.''

Walau kontak dengan dunia luar sangat terbatas, Annabel mengatakan ia tidak merasa terisolir dari dunia luar karena tersedia telefon, televisi dan internet. Tentu saja semuanya dengan serba terbatas. Sambungan telefon keluar sering hidup dan mati, sementara internet sangat mahal dan super lambat sehingga lebih baik tidak menggunakannya. Kalau anda sekadar berkunjung, rasa terpencil dan terasing sungguh kuat terasakan. ''Anda benar-benar terputus dari dunia luar,'' kata Jamie Peters dari lembaga purbakala dan lingkungan National Trust. ''Itulah yang menarik. Karena di dunia ini sudah tidak banyak lagi tempat seperti itu.''

www.bbc.co.uk


Bagikan :


Artikel terkait :
thumbnail St. Helena, Pemukiman Paling Terisolir Di Dunia Prokimal Kotabumi 2013-03-29T04:18:00+07:00 4.9 100 Reviews

Poskan Komentar


Copyright © 2013. Kotabumi Lampung Utara | Template by Full Blog Design | Proudly powered by Blogger
Kotabumi Lampung Utara
Prokimal Raya Kotabumi, North Lampung, Lampung, Indonesia ID-LA