Cari di Blog Ini

Rabu, 27 Maret 2013

Charlie Chaplin, Si Ketawa Esperanto

Nama Charlie Chaplin sudah begitu akrab bagi para penggemar film komedi, terutama pada awal sejarah film komedi yang masih berupa film bisu. Charlie Chaplin adalah legenda film komedi ini. Meskipun pria yang lahir di kota London ini telah meninggal dunia pada tahun 1977 silam, namun sampai sekarang film-filmnya yang kebanyak dibuatnya sendiri itu tetap disukai dan ditonton banyak orang di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.
Charlie Chaplin. Kotabumi Lampung Utara
Charlie Chaplin yang punya nama lengkap Charles Spencer Chaplin dilahirkan pada tanggal 16 April 1889 di kota London – Inggris. Ayah dan ibunya berprofesi sebagai penyanyi. Tapi karena tabiat ayahnya yang pemarah, pemabuk, dan kasar membuat ibunya tidak tahan. Mereka bercerai ketika Charlie baru berumur satu tahun. Karena keadaan ini, semasa kanak-kanaknya Charlie selalu kekurangan uang, namun ia dan kakaknya yang berlainan ayah (Sidney) tidak pernah merasa kekurangan kasih saying dari ibu mereka.

Sejak kecil Charlie selalu dibawa ibunya yang bekerja sebagai penyanyi di teater pada malam hari. Sebab di kamar sewaan mereka tidak ada orang yang mengasuhnya. Pada suatu malam suara ibu Charlie pecah di panggung sehingga penonton mengejek-ejeknya. Manager panggung yang pernah melihat Charlie "jual lagak" di belakang panggung segera memaksa Charlie untuk naik keatas panggung menggantikan ibunya. Diantara kepulan asap rokok, Charlie menyanyikan lagu Jack Jones yang pada masa itu sedang populer.

"Baru setengah lagu, penonton melemparkan uang hingga bertebaran diatas panggung. Saya berhenti bernyanyi untuk memunguti uang-uang itu dulu sehingga penonton tertawa tergelak-gelak dan manager panggung buru-buru membantu saya untuk mengumpulkan uang-uang itu. Saya kira ia akan mengambil uang itu sehingga saya segera mengejarnya. Penonton menjadi tertawa lebih keras lagi. Baru setelah manager panggung menyerahkan uang-uang itu kepada ibu, saya meneruskan nyanyian", kata Chaplin dalam biografinya yang diterbitkan secara serempak dalam delapan bahasa pada tanggal 1 Oktober 1964.

Charlie memang sangat dikenal di Inggris maupun di China, di AS maupun di Rusia, di Swedia maupun di Indonesia. Sebab ia berkomunikasi dengan penontonnya dalam bahasa hati, sehingga komedi Chaplin di juluki sebagai "Ketawa Esperanto" oleh seorang pujangga Perancis, Jean Cocteau.

Pesuruh Sherlock Holmes

Pada umur delapan tahun Charlie sudah menjadi seorang penari professional di London. Saat itu suara ibunya sudah tidak laku lagi. Namun karena penghasilan yang kecil membuat mereka akhirnya terpaksa tinggal di penampungan orang-orang melarat. Ibu dan anak dipisahkan. Hanya pada hari-hari tertentu mereka boleh bertemu di sebuah ruangan. Pertama kali bertemu, Charlie menangis melihat ibunya mengenakan pakaian seragam rumah penampungan. Sang ibu lalu mengusap-usap kepala Sidney dan Charlie yang digunduli di panti itu dan memberi mereka sekantung permen yang dibelinya dari hasil merajut.

Kemudian anak-anak dipindahkan ke sekolah berasrama, sehingga jika ingin bertemu mereka bertiga kabur dan berkumpul di taman. Hingga suatu hari Sidney diberi tahu bahwa ibunya menjadi gila dan dimasukkan ke rumah sakit jiwa. "Sidney tidak memperlihatkan reaksi apa-apa. Ia meneruskan bermain lagi bermain bola. Setelah permainan selesai, ia mencari tempat sepi untuk menangis", Charlie bercerita.

Setelah ibunya dimasukkan ke rumah sakit jiwa, lalu Sidney dan Charlie diserahkan kepada ayah Charlie yang sudah menikah lagi dan juga sudah memiliki anak. Di rumah itu mereka berdua tidak betah. Beruntung ibu mereka kemudian sembuh walaupun hanya sebentar sehingga bisa berkumpul dengan mereka berdua lagi. Charlie pun mencoba beberapa macam pekerjaan, antara lain ia pernah menjadi pesuruh.

Ketika penyakit gila ibunya kambuh lagi, Charlie mendapat pekerjaan sebagai pesuruh dalam lakon Sherlock Holmes pada sebuah rombongan sandiwara kecil. Sejak saat itulah secara perlahan kariernya dalam dunia pertunjukkan mulai naik.

Dalam perlawatan ke AS, Charlie "ditemukan" oleh sutradara Mark Sennet yang termahsyur dan main film Making a Living pada tahun 1914. Pakaiannya yang khas : celana kedodoran, topi bulat, sepatu kebesaran, dan "kumis Chaplin" baru ia temukan kemudian.

Rajin membaca dan menabung

Untuk menambah pengetahuannya, Charlie rajin membaca buku. Awalnya membaca buku-buku bekas. Buku bacaannya mulai dari Mark Twain sampai Schopenhauer. Penghasilannya semakin naik, tapi ia tidak lupa diri. Ia hidup dengan hemat sekali. Uangnya sebagian besar ditabung. Sidney didatangkannya dari Inggris untuk dijadikan sebagai managernya, sebab penghasilannya pada waktu itu sudah mencapai jutaan dollar. Charlie bisa ditonton antara lain pada film The Gold Rush, The Time Machine, dan Monsieur Verdun. Ibunya yang gila itu pun ia datangkan juga.

Saat itu Charlie Chaplin sudah banyak memiliki teman, mulai Einstein hingga Lord Mountbatten. Ia diperkenalkan kepada para presiden dan raja-raja. Namun ia tidak berhasil dalam pernikahan. Pernikahannya dengan istri pertamanya, Mildred Harris, hanya bertahan selama dua tahun. Saat dinikahinya, Mildred baru berusia 16 tahun. Kemudian ia menikah lagi dengan Lita Grey. Dari pernikahan ini, Charlie memperoleh dua orang anak, Charles Spencer dan Sidney Earl. Lita Grey juga baru berusia 16 tahun saat dinikahi oleh Charlie. Tapi pernikahan ini gagal juga. Enam tahun setelah bercerai dengan Lita Grey, Cahrlie menikah dengan seorang bintang film, Paulette Godard. Pernikahan ini pun hanya berumur singkat.

Baru setelah umurnya 54 tahun, Charlie menemukan istri idamannya, Oona, putrid pujangga Eugene O’Neil. Saat itu Oona baru berumur 18 tahun. Mereka menikah pada tahun 1943. Sampai berpuluh tahun kemudian mereka masih sering dipergoki bermesraan seperti orang berpacaran. Oona memberinya delapan orang anak. Yang bungsu lahir pada tahun 16 April 1963 ketika Charlie Chaplin sudah berusia 73 tahun!

Sejak tahun 1952, Chaplin dan keluarganya menetap di tepi danau Leman yang terletak di sebuah desa yang bernama Vevey di negara Swis. Charlie Chaplin mendapat gelar "Sir" dari mertua Putri Diana dan bintang kehormatan La Legion d’Honneur dari Presiden Perancis. Bekas anak miskin itu meninggal dengan tenang pada malam natal tahun 1977 dan dimakamkan di pemakaman umum yang kecil, tidak jauh dari rumahnya yang berhalaman 15 hektar itu.

Sampai sekarang film-filmnya yang berjumlah banyak itu, yang sebagian ia buat sendiri, ternyata masih ditonton orang di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar