Cari di Blog Ini

Sabtu, 23 Maret 2013

Akio Morita, Pendiri Sony Corporation

Dua nama ini tidak bisa dipisahkan, Akio Morita dan Sony. Akio Morita, orang yang menidirikan perusahaan Sony. Dan Sony, perusahaan elektronik kelas dunia yang membuat nama Akio Morita begitu mendunia. Apa persamaan dari dua nama itu? Keduanya sama-sama berkualitas. Pada artikel ini disajikan bagaimana perjuangan Akio Morita untuk membangun Sony menjadi perusahaan kelas dunia.
Akio Morita. Kotabumi Lampung Utara
Jika disebutkan nama Akio Morita mungkin banyak yang tidak tahu siapa orang ini. Selain tebakan bahwa pasti orang ini berasal dari Jepang. Tapi jika disebutkan nama Sony, ingatan orang segera tertuju pada merk produk elektronik yang terkenal itu. Produk yang sudah mendunia dan bisa dipastikan menjadi jaminan kualitas. Bahkan kini usahanya sudah merambah ke bidang bisnis yang lain. Kedua nama itu tidak dapat dipisahkan, Akio Morita pendiri Sony Corporation. Hingga ada pertanyaan yang menggelitik, Akio Morita yang membesarkan nama Sony atau Sony yang membuat nama Morita jadi terkenal?

Lahir ditengah-tengah keluarga terhormat yang terkenal sebagai pembuat minuman sake berkualitas nomor satu di Jepang bagian tengah, sejak kecil Akio Morita sudah menjadi pewaris tunggal bisnis keluarga itu. Seharusnya masa depan yang terjamin dan nyaman sudah ada digenggamannya. Tapi dikemudian hari Akio lebih memilih berusaha sendiri dari bawah. Dan kini orang dapat melihat bahwa apa yang dipilihnya itu sama sekali tidak salah. Nama Akio Morita dengan Sony Corporation-nya terus berpendar sebagai penghasil inovasi di bidang elektronik hiburan.

Sempat berdinas sebagai ilmuwan pada jajaran Angkatan Laut Kerajaan Jepang, tugas utamanya waktu itu adalah membuat senjata pelacak panas, sistem deteksi bawah laut, dan sebagainya. Tentunya untuk kepentingan militer Jepang itu. Bahkan sebelum kekalahan Jepang pada PD-II, Akio Morita pernah menulis tentang kemungkinan atom untuk dijadikan bom.

Akio Morita merintis pendirian Sony Corporation dengan seorang teman yang bernama Masaru Ibuka. Temannya ini seorang ahli di bidang elektronik. Mereka berdua mendirikan Tokyo Tsushin Kogyo Kabushiki Kaisha, dalam versi Inggris-nya : Tokyo Telecommunications Engineering Inc. Perusahaan inilah yang kelak dikemudian hari menjelma menjadi Sony Corporation yang terkenal itu. Untuk selanjutnya Akio dan Masaru membagi tugas. Masaru Ibuka memimpin pembuatan produk yang akan dipasarkan, sedangkan Akio sendiri memegang bagian finansial dan pemasarannya.

Pada tahun 1955 Akio berangkat ke Amerika untuk memasarkan produk terbaru mereka, radio saku. Sebuah radio transistor dengan ukuran kecil sehingga kata Akio Morita bisa dimasukkan kedalam saku baju atau celana. Setelah berhasil menghubungi beberapa distributor, ternyata hanya sedikit diantara mereka yang berminat dengan produk yang ditawarkan itu. Tapi ada seorang agen dari perusahaan jam Bulova yang tertarik dengan radio mini itu. Si agen berminat untuk membelinya sebanyak 100.000 unit, tapi dia meminta agar radio itu dipasarkan dengan merk Bulova.

Sebenarnya jumlah pesanan sebesar itu termasuk hal yang luar biasa. Nilainya lebih besar dibandingkan total asset Sony pada masa itu. Ibuka dan rekan-rekanya di Jepang meminta Akio untuk menerima order itu. Tapi dengan tegas Akio Morita menolak permintaan mereka. Akio sudah bertekad bahwa mereka hanya akan menjual produk mereka dengan label Sony. Dia yakin bahwa memiliki merk sendiri adalah sangat penting. Dan itu terbukti sebagai pilihan yang paling tepat dalam perkembangan perusahaan mereka selanjutnya.

Keyakinan Akio Morita pada merk atau nama suatu produk berhasil ia buktikan. Misalnya pada saat Sony akan memasarkan sebuah perangkat sound system mini yang didengarkan dengan menggunakan headphone. Akio meminta agar perangkat itu dinamakan Walkman. Tapi para manager Sony di Amerika menganggap nama itu tidak sesuai dengan grammar dalam bahasa Inggris. Menurut mereka, bahkan artinya pun tidak bisa untuk menggambarkan tentang perangkat penghasil suara. Maka perangkat sound system mini itu dipasarkan dengan nama lain. Tapi ternyata permintaan pasar menjadi tidak sesuai seperti yang mereka harapkan. Ketika namanya diubah lagi menjadi Walkman, perangkat ini pun segera diserbu konsumen.

Produk Walkman akhirnya memang telah menjadi fenomena yang fantastis. Pemakaian Walkman seketika itu juga menjadi gaya hidup yang mendunia. Menjadi semacam ikon budaya yang baru. Bahkan memiliki kosa kata tersendiri yang tercantum pada kamus. Dan tentu saja itu makin menempatkan Sony sebagai nama yang dianggap dapat dijadikan sebagai jaminan kualitas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar