Cari di Blog Ini

Jumat, 22 Februari 2013

Pilih Investasi Surat Berharga Atau Investasi Aset Riil?

Ada beberapa cara yang bisa kita pilih untuk menginvestasikan uang kita. Misalnya pilihan berinvestasi dengan membeli surat berharga, bisa juga membeli asset riil berupa tanah, emas, bangunan, atau pembelian bentuk investasi lain yang bisa melipat gandakan uang kita. Sebagian orang memiliki pandangan yang berbeda untuk pilihan berinvestasi. Tentu hal ini lebih banyak dikarenakan perbedaan selera atau penguasaan bidang investasi yang dipahaminya.
Emas. Kotabumi Lampung Utara
"Surat berharga membuat ekonomi makin bubbling saja. Lebih baik membeli tanah atau emas."
Membeli surat berharga adalah salah satu cara untuk berinvestasi. Contohnya pembelian sukuk ritel seri 002 yang laris manis merupakan fenomena yang patut dicermati. Namun, reaksi yang berseberangan seperti komentar-komentar di atas juga tak jarang menghiasi diskusi di berbagai komunitas.

Dari pandangan umum masyarakat, bagaimanapun surat-surat berharga hanyalah kertas yang mewakili atas beberapa hal antara lain sebagai pernyataan berutang, penyertaan modal, hak pemanfaatan aset juga hak atas sejumlah arus kas dari objek yang ditransaksikan. Karakter surat berharga yang transferable atau bisa diperjualbelikan dianggap mendorong suburnya kecenderungan spekulasi dibandingkan dengan investasi. Kalau begitu apakah memegang aset keras lebih menguntungkan daripada membeli aset kertas?

Istilah aset keras mengacu pada kategori pilihan investasi yang dicirikan oleh kenyataan bahwa secara fisik nyata, antara lain properti yaitu tanah dan bangunan, komoditas seperti emas dan barang koleksi. Ini berlawanan dari saham, obligasi, reksa dana, kontrak berjangka juga sertifikat deposito.

Aset keras dapat memainkan peranan penting dalam portofolio investasi apa pun, terutama jika profil investor lebih mengutamakan kepada keamanan dan pendapatan. Namun, ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan sebelum mengalokasikan uang Anda ke aset keras ini. Mari kita analisis kelebihan dan kekurangannya.

Properti

Secara fisik memiliki properti dapat menjadi media pelindung nilai yang baik terhadap inflasi. Sewa properti (baik perumahan atau komersial) juga dapat memberikan arus kas relatif konsisten bagi investor yang mencari pendapatan. Namun, investasi properti secara fisik dapat memakan waktu dan biaya yang tinggi yang tidak muncul dalam investasi jenis lain. Misalnya, biaya perawatan dan renovasi, juga jika harus berurusan dengan dengan penyewa yang sulit. Properti juga memerlukan investasi awal yang besar, yang sulit dijangkau investor kecil. Properti juga kurang likuid dari kebanyakan kelas aset lainnya sehingga sulit bagi investor untuk mendapatkan uang tunai jika perlu.

Cara yang lebih mudah untuk memiliki properti adalah dengan membeli surat berharga yang didukung oleh sejumlah properti. Surat berharga ini dapat berupa saham dari emiten di industri properti, reksa dana indeks berbasis saham properti, atau obligasi (sekuritas beragun aset). Membeli surat berharganya dalam banyak hal lebih mudah daripada fisik propertinya . Namun, investor kehilangan manfaat dari memiliki aset fisik.

Hampir kebanyakan orang menyarankan jika investor bersedia dan mampu untuk berinvestasi langsung dalam properti, sebaiknya melakukannya. Jika tidak, bisa mempertimbangkan membeli surat berharganya .

Emas

Selama bertahun-tahun, investor memandang emas sebagai salah satu investasi paling aman. Pada masa-masa krisis atau pasar panik, investor memborong emas membuat harganya melejit. Selain itu, emas dianggap sebagai pelindung terhadap inflasi dan harganya cenderung naik selama masa inflasi. Umumnya emas dalam jangka panjang memberikan kinerja yang biasa saja, walaupun biasanya diikuti dengan keuntungan yang besar dalam periode pendek karena terjadi gejolak ekonomi. Emas bisa menjadi bagian dari portofolio yang terdiversifikasi, jika investor mengutamakan keamanan. Namun, penting untuk diingat bahwa emas tidak memberikan penghasilan apa pun dan karena itu tidak sesuai bagi investor yang menginginkan arus kas dari portofolio mereka.

Investor memiliki beberapa pilihan untuk membeli emas. Pertama, mereka bisa membeli fisik emas dalam bentuk emas batangan atau koin emas. Pendekatan ini memiliki beberapa kekurangan, termasuk biaya penyimpanan dan keamanan. Pendekatan yang lebih mudah adalah dengan membeli reksa dana indeks dari saham-saham perusahaan penambangan emas. Instrumen ini memberikan eksposur ke harga emas tanpa perlu menyimpan aset yang mendasarinya. Kekurangannya adalah biaya manajemen yang akan sedikit mengurangi total return investasi emas.

Cara lain adalah membeli kontrak berjangka atau opsi emas. Pilihan ini cocok untuk investor yang suka berspelukasi bukan yang mengutamakan keamanan. Investor juga dapat membeli saham perusahaan yang terlibat dalam industri emas.

Barang koleksi

Koleksi seperti perak, perhiasan, seni, atau bahkan prangko dan buku komik semua bisa dianggap aset riil. Barang koleksi dapat bertindak sebagai penyimpan nilai dan memberikan keamanan kepada portofolio investor di samping potensi capital gainnya. Namun, pasar barang koleksi sangat khusus, sehingga investor harus memiliki pemahaman yang jelas tentang apa yang mereka hadapi.

Pembelian barang koleksi biasanya bermotifasikan hobi atau alasan lain yang tidak terukur secara materi. Oleh karena itu, investor akan menghadapi tantangan unik saat mencoba menjelajahi pasar barang koleksi ini dengan maksud untuk investasi, antara lain kurangnya informasi, kurangnya data harga yang dapat diandalkan, biaya penyimpanan tinggi, dan besarnya perbedaan harga diantara barang-barang koleksi sejenis. Juga, kebanyakan dari aset tersebut tidak menghasilkan pendapatan.

Semua faktor itu menyebabkan barang koleksi kurang layak untuk investor kecil. Hanya jika investor tertarik pada koleksi sebagai bagian dari hobi atau untuk alasan estetika, dan jika aspek investasi hanya dipandang sebagai bonus, maka barang koleksi sangat mungkin menjadi bagian dari portofolio yang terdiversifikasi.

Berinvestasi di aset riil memiliki tantangan tersendiri dibandingkan dengan investasi lain. Investor harus hati-hati mempertimbangkan tantangan-tantangan ini sebelum memutuskan apakah akan menyertakan aset riil sebagai bagian dari portofolio investasi yang terdiversifikasi. Ini sangat berguna untuk menjaga kepala Anda tetap dingin dalam berinvestasi.

bisnis.com