Cari di Blog Ini

Minggu, 10 Februari 2013

Membagi Portofolio Investasi Untuk Menekan Risiko

Untuk bisa selalu memperoleh keuntungan dan menghindari risiko kerugian yang besar, seorang investor hendaknya membagi asetnya kedalam beberapa portofolio investasi secara bijaksana. Portofolio investasi sebaiknya dibagi-bagi dalam kelas investasi yang berbeda. Strategi ini digunakan agar jika satu bentuk investasi untuk sementara waktu belum memberikan keuntungan maka kerugiannya bisa ditutup dengan keuntungan yang diperoleh dari bentuk investasi yang lain.
Investasi. Kotabumi Lampung Utara
"Lokasi, lokasi, lokasi" adalah mantra sakti yang mengantarkan resto burger cepat saji McDonald mendunia, selain standar pelayanan yang cepat dan seragam. Para pesaingnya boleh saja mengklaim bahwa mereka mampu membuat burger yang jauh lebih lezat dari McD. Namun, hanya McD yang mampu berada di sudut-sudut paling strategis di berbagai kota. Begitu mencolok mata, menghipnotis orang untuk berkunjung ke dalamnya. Tak heran jika Ray Kroc pemiliknya secara bergurau mengatakan bahwa bisnis McD bukanlah makanan cepat saji tetapi properti!

Membangun sebuah bisnis yang berhasil kurang lebih sama seperti membangun portofolio investasi yang sukses. Hanya mantranya sedikit digubah menjadi "alokasi, alokasi, alokasi". Lokasi atau alokasi dalam hal ini bisa berarti hidup dan matinya sebuh bisnis, demikian juga dalam sebuah portofolio investasi. Sebelum memilih lokasi, pemilik bisnis benar-benar melakukan pekerjaan rumahnya, bukan semata-mata mengandalkan insting. Sebagai seorang investor Anda pun harus memperlakukan portofolio investasi dengan keseriusan yang sama. Investor yang hati-hati mengetahui bahwa penyusunan kebijakan alokasi portofolio investasi yang tepat, tidak boleh diremehkan.

Pengertian alokasi aset

Alokasi aset secara sederhana adalah membagi penyusunan portofolio aset Anda ke dalam jenis kelas aset yang berbeda risiko dan return-nya. Diharapkan dengan membagi portofolio aset tersebut, secara keseluruhan Anda dapat mengurangi tingkat risiko portofolio di satu sisi dan meningkatkan return di sisi lain.

Alokasi aset didasarkan pada asumsi bahwa tidak semua jenis aset memberikan kinerja terbaiknya tiap tahun. Sulit untuk memperkirakan jenis kelas aset mana yang akan memiliki performa terbaik dalam suatu tahun tertentu. Jadi, meskipun secara psikologis menarik untuk mencoba memprediksi jenis investasi (katakanlah) saham terbaik berikutnya, para pendukung teori alokasi aset mempertimbangkan bahwa pendekatan investasi seperti itu berisiko tinggi.

Seorang investor yang melompat dari satu aset dengan melakukan jual beli instrumen investasi secara aktif belum tentu mendapatkan hasil yang lebih baik daripada orang yang secara konsisten menerapkan kebijakan investasi pasif melalui alokasi aset.

Kelas aset dapat digolongkan dalam pengerti-an luas aset finansial berupa uang tunai, saham, obligasi, realestat, modal usaha, dan investasi alternatif lainnya. Masing-masing kelas aset dapat dibagi lebih lanjut, misalnya, menjadi saham berkapitalisasi besar, saham berkapitalisasi kecil, saham pertumbuhan, saham internasional, dan lain-lain. Sementara itu, obligasi dapat dibagi lagi menjadi obligasi jangka pendek, menengah, dan jangka panjang, obligasi convertible, dan lain-lain.

Tujuan alokasi aset

Pembenaran mendasar untuk alokasi aset adalah pendapat bahwa kelas aset yang berbeda menawarkan tingkat pengembalian dan risiko yang tidak memiliki korelasi searah. Artinya jika kinerja satu jenis kelas aset turun, kinerja jenis kelas aset yang lain malah naik. Oleh karena itu, memiliki campuran kelas aset lebih mungkin untuk memenuhi keinginan investor untuk mengurangi tingkat risiko portofolio investasi secara keseluruhan, tetapi tetap membuka kesempatan untuk mendapatkan keuntungan investasi yang solid dari waktu ke waktu.

Cara melakukan alokasi aset dipengaruhi oleh berbagai faktor penting, antara lain: kondisi keuangan saat ini, horison waktu investasi, kekuatan dana investasi, tujuan keuangan, kewajiban utang dan profil risiko individu. Khususnya, tiga faktor paling utama yang membentuk alokasi portofolio yaitu tujuan keuangan, horison waktu dan profil risiko. Untuk membangun portofolio yang optimal, pemahaman terhadap profil risiko sangat penting. Profil risiko pribadi ini terdiri dari tiga variabel, yaitu bagaimana sikap atau toleransi Anda terhadap risiko, seberapa besar kemampuan/kapasitas keuangan Anda dalam menghadapi risiko, dan berapa asumsi risiko yang ditetapkan.

Tujuan dari alokasi aset adalah untuk mencapai return tertinggi untuk tingkat risiko yang dapat diterima, atau sebagai alternatif risiko terendah untuk tingkat pengembalian yang diperlukan. Dengan menggabungkan aset berkarakteristik yang berbeda dalam portofolio, investor dapat mencapai hasil yang lebih tinggi dengan risiko rendah dalam jangka panjang.

Kombinasi pasif aktif

Membangun dan menjaga sebuah portofolio yang berhasil bergantung pada seberapa baiknya portofolio tersebut didesain dan dikelola. Faktor penentu dari bagaimana hasil akhir dari sebuh portofolio adalah bagaimana alokasi aset dilaksanakan. Saat dikerjakan dengan baik, Anda bisa mendapatkan kinerja investasi yang bisa diandalkan dalam jangka panjang.

Walaupun begitu sudah menjadi rahasia umum bahwa suatu susunan portofolio investasi tidak selalu bisa mengalahkan return pasar yang menjadi benchmark-nya tiap tahun. Ini agak mengkhawatirkan ketika rencana yang sudah disusun sedemikian rupa berakhir dengan tidak optimal.

Mungkinkah penyebabnya kondisi ekonomi yang buruk, salah memilih saham atau belum hokinya? Tak satu pun dari jawabannya ini yang akurat. Paling tidak kita tahu bahwa kegagalan dalam menyusun dan melaksanakan formula alokasi aset yang tidak tepat bisa mengakibatkan kinerja suatu portofolio investasi berada di bawah kinerja pasar yang menjadi acuannya. Karena itu pelaksanaan kebijakan investasi alokasi aset harus selalu dikaji ulang dari waktu ke waktu.

Investor dapat mengombinasi kebijakan investasi dengan strategi investasinya yaitu pasif-aktif. Terlebih dulu menetapkan kebijakan investasi (alokasi aset dan portofolio investasi), barulah memilih instrument investasinya melalui strategi Security selection dan market timing yang merupakan strategi untuk menentukan kapan harus membeli atau menjual investasi untuk mendapatkan harga terbaik dengan mencoba untuk memprediksi pergerakan harga pasar. Prediksi didasarkan pada asumsi pasar atau kondisi ekonomi yang dihasilkan dari analisis teknikal atau fundamental.

Security selection adalah pemilihan jenis investasinya, yaitu suatu strategi investasi yang menentukan pemilihan jenis instrumen finansial apa yang akan dibeli atau dijual untuk mendapatkan kualitas terbaik dari jenis kelas aset tertentu yang akan dimasukan ke dalam portofolio. Selanjutnya lakukan evaluasi secara berkala misalnya minimal setahun sekali untuk membandingkan kinerja portofolio investasi terhadap indeks pasar yang menjadi acuannya.

www.bisnis.com