Cari di Blog Ini

Jumat, 01 Februari 2013

Manfaat Kemitraan Dalam Berbisnis

Menjalankan bisnis dengan sistem kemitraan atau dikenal juga dengan sebutan waralaba dan dalam istilah asing disebut franchise memiliki beberapa manfaat dan keunggulan. Beberapa alasan para pebisnis megoperasikan bisnisnya dengan sistem kemitraan adalah untuk melanggengkan usaha bisnisnya. Cara ini juga terbukti menjadi strategi jitu untuk memperluas jaringan pemasaran produk atau jasa.
Waralaba. Kotabumi Lampung Utara
Pebisnis selalu punya cara untuk melanggengkan usahanya. Contohnya, Maulin's Brownies. Meski menerapkan sistem sederhana, bisnis ini membuktikan bahwa caranya bisa mempopulerkan brownies industri rumahan dari Bekasi hingga area Jabodetabek.

Adi Sunyoto, pemilik Maulin's Brownies, membangun sistem kemitraan untuk menjaring sebanyak mungkin pelanggan. Saat ini Adi memiliki 5 toko cabang, kebanyakan di kawasan Jakarta Timur dan Bekasi. Sedangkan untuk kemitraan Adi membuka diri kepada siapa saja untuk memperlebar pasar brownies-nya. "Total mitra ada 15, dan sempat bekerjasama dengan mitra di Bali. Namun sejak peristiwa bom Bali, usaha tak lagi berlanjut," papar Adi.

Menguntungkan bagi mitra

Adi menerapkan sistem saling menguntungkan dengan mitranya. Menurutnya cara ini lebih efisien dalam mengembangkan usahanya. Dengan bermitra, Adi bisa menghemat puluhan juta. Karena dibutuhkan Rp 25 juta jika ingin membuka toko cabang sendiri. Dengan sistem kemitraan, Adi cukup mengeluarkan Rp 4 juta untuk renovasi dan menyiapkan material promosi. "Mitra cukup menyediakan tempat, kami sediakan produk dan materi promosi seperti banner dan display," katanya.

Adi membangun sistem beli putus. Artinya, selain menyediakan tempat, mitra menyiapkan dana tunai untuk membeli lebih dari 15 kardus brownies Maulin. Mitra mendapatkan insentif 2,5 persen dari total omzetnya, ditambah bonus jika berhasil menjual kue pada nilai nominal tertentu. Adi memiliki perhitungan sendiri untuk sistem bonus ini. Belum lagi, mitra mendapatkan keuntungan dari selisih harga jual. "Setiap mitra bisa mengatur sendiri nilai jual kue, namun tetap ada acuan harga pabrikan. Mitra bisa menyesuaikan daya beli pasarnya," kata Adi.

Penyesuaian satu bulan

Mitra perlu menyesuaikan penjualan dengan karakter pasar selama sebulan. Artinya kue yang laris di segmen pasarnya bisa diketahui dalam waktu tertentu. Dengan pola ini, mitra akan mempertimbangkan kue mana yang lebih laris di tempatnya, dan mana yang tidak, kata Adi. "Jika masih baru memulai memang masih belum mendapatkan polanya. Kadang mitra ada yang mengeluhkan kue tidak laku. Memang butuh waktu sebulan untuk menyesuaikan pasar," ujar Adi.

Meski begitu, brownies Maulin tetap laris-manis. Dalam dua hari, stok kue di agen atau mitra kecil misalnya bisa habis. Toko pusat juga selalu memproduksi 1.000 kardus per hari untuk memenuhi permintaan agen dan mitra. Omzet rata-rata di mitranya bisa mencapai Rp 40 juta per bulan, lanjut Adi. "Pengembangan agen harus lebih luas, masih banyak pasar yang belum terjangkau," kata Adi, yang menyebutkan omzet total usahanya bisa lebih dari Rp 300 juta per bulan.

Kebutuhan pasar atas kue memang bervariasi. Hari raya menyumbang kontribusi besar atas penjualan kue Maulin ini. Namun, acara kecil mingguan seperti arisan, atau hadiah kecil untuk acara keluarga juga menjadikan brownies panggang Maulin dan varian produknya semakin dicari pelanggan setianya.

kompas.com