Cari di Blog Ini

Senin, 14 Januari 2013

Determinasi sosial

Proses kelahiran seorang tokoh pada setiap zaman. Bagaimana seorang tokoh bisa lahir dari masyarakat biasa. Kemunculan seorang tokoh bukanlah sebuah proses yang ajaib. Tapi seorang tokoh selalu lahir dari proses refleksi, perenungan, dan pembelajaran yang merupakan reaksi terhadap keadaan pada zamannya.
Determinasi sosial. Kotabumi Lampung Utara
Kita memang tidak punya pilihan didepan takdir Yang Maha Kuasa seperti ini : bahwa kita dilahirkan dari rahim siapa, diatas tanah mana, pada zaman apa, dari etnis apa, pada situasi seperti apa. Itulah nasib yang tidak mungkin diubah. Kumulasi dari itu semua yang selanjutnya kita sebut lingkungan. Para ahli pendidikan kemudian memberikan porsi yang sangat besar terhadap lingkungan sebagai faktor determinan yang mempengaruhi dan mewarnai pertumbuhan seseorang. Tapi sejarah memberikan beberapa kesaksian yang mungkin bisa disebut pengecualian. Dan para tokoh memang merupakan pengecualian.

Mereka pada mulanya juga lahir dari kumulasi lingkungan yang sama, tapi pada akhirnya muncul dengan warna yang sama sekali berbeda dengan generasi angkatanya yang lahir dari lingkungan tersebut. Jadi input lingkungannya sama, tapi output efeknya berbeda.

Ia tumbuh sebagaimana yang lainnya tumbuh, pada lingkungan yang sama tempat saudara-saudaranya berkembang, pada sekolah yang sama tempat saudaranya belajar, tentunya dengan kurikulum yang sama. Ia juga menyaksikan dan merasakan kemiskinan, penderitaan, keterbelakangan serta kerusakan akidah dan sosial sebagaimana orang-orang umumnya. Ia juga membaca buku dan media cetak yang sama-sama mereka baca. Tidak ada yang istimewa dalam latar belakang lingkungannya, baik di dirumah, disekolah maupun yang ada di masyarakat. Tapi kemudian hasilnya berbeda. Ia muncul sebagai pembaharu dan pemimpin. Lantas, dimanakah rahasianya ?

Tidak mudah memang memberikan jawaban yang sangat definitif untuk masalah ini. Pertama itu sepenuhnya adalah karunia Allah swt untuk masyarakat yang hidup dilingkungannya. Karena Rosulullah saw pernah bersabda : Jika Allah swt meridhai suatu kaum, maka Allah akan mengangkat orang-orang terbaik dari mereka sebagai pemimpin. Dan jika Allah memurkai suatu kaum, maka Allah akan mengangkat oarang-orang terjahat dari mereka sebagai pemimpin (HR.Tirmizi).

Jadi, para tokoh itu adalah hadiah langit untuk penduduk bumi. Karena itu mereka memang mendapat inayah Allah swt sejak awal pertumbuhan hingga saat mereka mementaskan peran kesejarahan mereka. Kadua, para tokoh biasanya mempersepsi lingkungannya dengan cara yang berbeda dari kebanyakan orang. Pada banyak orang, kesulitan-kesulitan yang tercipta dari kumulasi lingkungan dianggap sebagai nasib yang niscaya dan tidak dapat diubah. Sejak awal mereka kalah didepan nasib itu. Para tokoh justru melihat lingkungan itu sebagai objek yang harus diubah dan kendali perubahan itu ada pada manusia. Sejak awal mereka berpikir sebagai pelaku atau perubah.

Mereka mungkin lapar, tapi mereka lebih banyak memikirkan kemiskinan sebagai fenomena sosial yang harus diubah. Mereka mungkin dari keluarga yang tidak terdidik, tetapi kemudian mereka berfikir menjadi otodidak dan berpikir bagaimana mengembangkan pendidikan. Begitulah akhirnya mereka menjadi lebih cerdas dari lingkungannya. Atau pikiran-pikiran mereka bahkan mendahului zamannya.