Cari di Blog Ini

Rabu, 31 Oktober 2012

Aksi Begal Di Lampung Utara Masih Mengganas

Begal Kembali Mengganas di Lampung Utara

Kawanan begal di Lampung Utara kembali beraksi. Bahkan dalam sehari terjadi tiga pembegalan terhadap tiga pengendara motor di tiga tempat berbeda.

Siswanto ,27, warga Tulungmili Indah, Kelurahan Kotabumi Ilir, Kecamatan Kotabumi, Lampung Utara, Abdul Rohman ,38, warga Desa Cabangempat, dan Rahman Efendi ,21, warga Desa Kembang Tanjung, Kecamatan Abung Selatan, Lampung Utara, ketiganya telah menjadi korban pembegalan bandit bersenpi di Jalan Lintas Tengah Sumatera, Senin (29/10) sekitar pukul 19.00 WIB.

Siswanto saat melapor ke Polres Lampung Utara mengatakan pelaku sepertinya sudah menunggu di Jalan Perumnas Tulumili Indah, Kotabumi Ilir, Kecamatan Kotabumi, Lampung Utara. "Soalnya saat itu tiba-tiba saja saya sudah dibuntuti dan berhasil mengejar, dengan menodongkan senjata api kedua pelaku memaksa saya untuk berhenti, karena takut sayapun berhenti. Salah seorang pelaku yang membawa senjata api, langsung merampas dan membawa kabur motor Honda Revo warna merah dengan nomor polisi BE-8257-JV, yang saya kendarai," kata Siswanto.

Sementara itu Abdul Rohman mengatakan pelaku berjumlah enam orang dengan mengendarai tiga sepeda motor. Peristiwa itu terjadi saat korban melintas di Jalan Alamsyah, Kelurahan Kelapa Tujuh, Kotabumi Selatan, Lampung Utara, tiba-tiba ditodong pistol lalu pelaku membawa kabur motor Yamaha Vega R tanpa nomor polisi.

Kasat Reskrim Lampung Utara, AKP. Bunyamin mengatakan,pihaknya belum bisa memprediksikan kawanan ini pemain lama atau baru, karena anggota yang bertugas masih mengumpulkan keterangan korban, kemudian akan dilanjutkan dengan pengembangan penyelidikan, guna mendapatkan titik terang mengenai keberadaan pelaku berikut motor yang dicuri. Jika telah mendapatkan titik terang, secepatnya pihaknya akan menangkap kawanan bandit jalanan itu.

www.poskotanews.com

Human Capital

Human Capital
Kapital cenderung dimaknai dan memiliki persepsi sebagai aset, atau kekuatan. Dalam lingkungan bisnis, kapital berkonotasi sebagai sumber uang dimana berarti seluruh kegiatan ekonomi perusahaan dapat dimulai atau diawali. Pada era industrialisasi, dimana banyak perusahaan-perusahaan manufaktur atau minyak dan gas menitikberatkan usahanya dengan penguasaan sumber daya yang seluas-luasnya. Baik itu mulai dari hulu ke hilir, dari bahan mentah ke barang jadi, dari pembuatan barang jadi sampai ke perakitan, semua hal tersebut dilakukan sendiri dengan tujuan mereka dapat lebih fleksibel untuk melakukan penghematan biaya, menguasai pasar, atau masuk ke lingkungan pasar yang berbeda. Kemampuan ini merupakan bagian dari sistem kapitalis, yang menyatakan barang siapa yang memiliki sumber daya yang lebih besar, maka ia akan memimpin segalanya.

Pada kira-kira pertengahan tahun 1980-an, hal sepert tersebut diatas telah bergeser. Muncul pertanyaan yang sangat mendasar, siapakah yang akan mengelola semua sumber daya tersebut? Apa yang membedakan kesuksesan antara sebuah perusahaan yang mempunyai margin laba yang besar dengan yang memiliki volume produksi yang tinggi pada sebuah industri? Jawabannya adalah, selamat datang di era Human Capital (modal berbasis manusia).

Mungkin ini bukan sebuah ide yang spektakuler, atau bahkan fenomenal, semua orang secara rasional dapat membenarkan alas an tersebut. Namun setelah sekian lama teori tersebut dikenal keberadaannya, nampaknya hal ini tidak semudah yang kita bayangkan dalam penerapannya.

Berbicara mengenai Human Capital, berarti tidak boleh kita lewatkan mengenai knowledge capital (modal berbasis pengetahuan). Dimulai dari pada pertengahan dasawarsa 1990, perusahaan Microsoft yang kita kenal saat ini digunakan sebagai pembuat software sistem pengoperasian komputer sampai ke word office yang memudahkan kita saat ini dalam bekerja. Pada saat itu saham mereka melambung signifikan dengan nilai rata-rata $70 yang padahal sebenarnya tercatat pada nilai buku sebesar $7. Dengan kata lain untuk setiap $1 dolar yang tercatat berarti pasar melihat $9 tambahan sebagai nilai tambah. Bagaimana hal ini terjadi? Jawabannya bukan pada asset tangible (jelas, terlihat, kongkrit), tetapi semuanya terletak pada asset intangible-nya (tidak jelas, tidak terlihat, tidak konkrit) yakni kemampuan menggunakan pengetahuannya dalam memahami produk, pasar/bisnis, dan keinginan pelanggan.

Tiga langkah yang harus ditempuh dalam mengimplementasikan pengetahuan sebagai fokus strategi pengembangan perusahaan jangka panjang adalah: kepemilikan kompetensi dari tiap karyawan, struktur internal perusahaan yang meliputi system manajemen, teknologi, dan penelitan pengembangan, serta struktur eksternal perusahaan yang mencakup hubungan dengan pelanggan dan vendor / partner bisnis yang dimiliki.

Ada dua hal yang berbeda disini antara pemberdayaan pengetahuan dan kepemilikan informasi. Perbedaan yang sama dapat dijumpai juga pada definisi umum antara efektif dan efisien. Efektif berhubungan dengan keluaran / hasil / output yang terjadi akibat masukkan / input. Efisien hanya berhubungan dengan besarnya ukuran variabel input. Strategi pengetahuan mengedepankan peningkatan kualitas proses, sedangkan dengan informasi secara umum menempatkan input diatas segalanya sebagai pertimbangan.

Maka kesimpulannya, apakah kita akan mengelola perusahaan dengan moto bahwa karyawan adalah sebagai biaya, atau karyawan sebagai keuntungan. Mari kita jawab dengan memberdayaan diri kita masing-masing pada area atau lingkungan kerja yang menjadi tanggung jawab kita agar lebih efektif, sehingga berarti mencapai efisiensi dan menaikkan produktifitas.

Bendungan Way Rarem

Bendungan Way Rarem Lampung Utara
Bendungan Way Rarem berlokasi di Desa Pekurun Kecamatan Abung Barat atau 36 km dari Kotabumi, atau 113 km dari Bandar Lampung. Objek wisata Way Rarem memiliki luas 49,2 ha, tinggi bendungan 59 m dan kedalaman air 32 km, luas genangan 1200 ha.

Bendungan Way Rarem, obyek wisata di Lampung Utara. Peningkatan kebutuhan air untuk berbagai sektor pembangunan cenderung meningkat di masa mendatang. Salah satu upaya dalam pengelolaan sumber daya air adalah dengan pembangunan waduk yang berfungsi untuk menampung kelebihan air di musim hujan yang dapat dimanfaatkan pada saat kekurangan air di musim kemarau. Dalam tesis ini akan dikaji pola operasi waduk dengan menggunakan teknik optimasi. Bendungan Way Rarem. Program Dinamik Deterministik merupakan salah satu teknik optimasi yang digunakan dalam kajian operasi waduk dengan menetapkan batasan atau kurva pengatur sebagai batas operasional waduk berdasarkan tinjauan kondisi kritis musim dalam tahun air yaitu tahun basah, tahun normal dan tahun kering. Dalam tesis ini akan ditinjau studi kasus pada Bendungan Way Rarem yang berfungsi melayani irigasi yang berada di Kabupaten Lampung Utara Provinsi Lampung. Hasil analisis dari penelitian menunjukkan pola operasi waduk yang optimal untuk fungsi tujuan meminimumkan kekurangan air dengan melihat hubungan antara elevasi dan bulan dalam siklus satu tahunan yang dapat dilihat pada kurva pengatur bulanan. Sedangkan kehandalan volume tampungan dan kehandalan waktu pelayanan cukup baik dalam memenuhi kebutuhan irigasi untuk siklus satu tahunan.
Di samping untuk objek wisata, Bendungan Way Rarem juga berfungsi sebagai irigasi yang dapat mengairi seluas 22.000 ha, untuk Kecamatan Abung Timur, Tulang Bawah Tengah, Tulang Bawang Udik, dan Kotabumi. Terdapat beberapa spesies ikan hias air tawar seperti Ikan Sumatera, dan lain-lain. Lingkungan alam dan suasana perkampungan merupakan ciri khas lokasi ini.

Terletak di desa Pekurun Kecamatan Abumg Barat dengan jarak tempuh :
  • Dari Ibukota Kecamatan (Ogan Lima) : 20 Km
  • Dari Ibukota Kabupaten (Kotabuni) : 16 Km
  • Dari Ibukota Propinsi (Bandar Lampung) : 113 Km
Obyek Wisata Bendungan Way Rarem memiliki luas : 49,20 ha, luas genangan air : 1.200 ha, tinggi bendungan : 59 m, kedalaman air 32 m. Disamping untuk Obyek Wisata, Bendungan Way Rarem juga berfungsi sebagai irigasi yang dapat mengairi sawah seluas : 22.000 ha, untuk Kecamatan Abung Timur, Tulang Bawang Tengah, Tulang Bawang Udik, Kotabumi.

Kabupaten Lampung Utara

Tugu Lampung Utara
Kabupaten Lampung Utara adalah salah satu kabupaten di Provinsi Lampung, Indonesia. Kabupaten ini dulunya adalah kabupaten terluas/terbesar di Provinsi Lampung yang sekarang meliputi Kabupaten Lampung Utara sendiri, Kabupaten Way Kanan, Kabupaten Lampung Barat, dan Kabupaten Tulang Bawang (yang melahirkan Kabupaten Tulang Bawang Barat dan Kabupaten Mesuji).

Pada awal masa kemerdekaan, berdasarkan UU RI Nomor 1 Tahun 1945, Lampung Utara merupakan wilayah administratif di bawah Keresidenan Lampung yang terbagi atas beberapa kawedanan, kecamatan dan marga.

Pemerintahan marga dihapuskan dengan Peraturan Residen 3 Desember 1952 Nomor 153/1952 dan dibentuklah “Negeri” yang menggantikan status marga dengan pemberian hak otonomi sepenuhnya berkedudukan di bawah kecamatan. Dengan terjadinya pemekaran beberapa kecamatan, terjadilah suatu negeri di bawah beberapa kecamatan, sehingga dalam tugas pemerintahan sering terjadi benturan. Status pemerintahan negeri dan kawedanan juga dihapuskan dengan berlakunya UU RI Nomor 18 Tahun 1965.

Berdasarkan UU RI Nomor 4 (Darurat) Tahun 1965, juncto UU RI Nomor 28 Tahun 1959, tentang Pembentukan Daerah Otonom Kabupaten-Kabupaten dalam Lingkungan Sumatera Selatan, terbentuklah Kabupaten Lampung Utara di bawah Propinsi Sumatera Selatan. Dengan terbentuknya Propinsi Lampung berdasarkan UU RI Nomor 14 Tahun 1964, maka Kabupaten Lampung Utara masuk sebagai bagian dari Propinsi Lampung.

Kabupaten Lampung Utara telah mengalami tiga kali pemekaran sehingga wilayah yang semula seluas 19.368,50 km² kini tinggal 2.725,63 km². Pemekaran wilayah pertama terjadi dengan terbentuknya Kabupaten Lampung Barat berdasarkan UU RI Nomor 6 Tahun 1991, sehingga Wilayah Lampung Utara berkurang 6 kecamatan yaitu: Sumber Jaya, Balik Bukit, Belalau, Pesisir Tengah, Pesisir Selatan dan Pesisir Utara.

Pemekaran kedua tejadi dengan terbentuknya Kabupaten Tulang Bawang berdasarkan UU RI Nomor 2 Tahun 1997. Wilayah Lampung Utara kembali mengalami pengurangan sebanyak 4 kecamatan yaitu: Menggala, Mesuji, Tulang bawang Tengah dan Tulang Bawang Udik. Pemekaran ketiga terjadi dengan terbentuknya Kabupaten Way Kanan berdasarkan UURI Nomor 12 Tahun 1999. Lampung Utara kembali berkurang 6 kecamatan yaitu: Blambangan Umpu, Pakuan Ratu, Bahuga, Baradatu, Banjit dan Kasui. Kabupaten Lampung Utara, saat ini tinggal 8 kecamatan yaitu: Kotabumi, Abung Selatan, Abung Timur, Abung Barat, Sungkai Selatan, Sungkai Utara, Tanjung Raja dan Bukit Kemuning.

Berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 20 Tahun 2000 jumlah kecamatan dimekarkan menjadi 16 kecamatan dengan mendefinitifkan 8 kecamatan pembantu yaitu : Kotabumi Utara, Kotabumi Selatan, Abung Semuli, Abung Surakarta, Abung Tengah, Abung Tinggi, Bunga Mayang dan Muara Sungkai. Sedangkan hari kelahiran Kabupaten Lampung Utara Sikep ini, setelah melalui berbagai kajian, disepakati jatuh tanggal 15 Juni 1946 dan ini disahkan dalam Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2002.

Berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2006 tanggal 15 Agustus 2006 telah dimekarkan kembali 7 kecamatan yang baru, yaitu sebagai berikut:
  1. Kecamatan Hulu Sungkai ibukota Gedung Maripat
  2. Kecamatan Sungkai Tengah ibukota Batu Nangkop
  3. Kecamatan Sungkai Barat ibukota Sinar Harapan
  4. Kecamatan Sungkai Jaya ibukota Cempaka
  5. Kecamatan Abung Pekurun ibukota Pekurun
  6. Kecamatan Abung Kunang ibukota Aji Kagungan
  7. Kecamatan Blambangan Pagar ibukota Blambangan
Sehingga saat ini di lampung Utara menjadi 23 kecamatan, yaitu:
  1. Kecamatan Abung Barat
  2. Kecamatan Abung Kunang
  3. Kecamatan Abung Pekurun
  4. Kecamatan Abung Selatan
  5. Kecamatan Abung Semuli
  6. Kecamatan Abung Surakarta
  7. Kecamatan Abung Tengah
  8. Kecamatan Abung Timur
  9. Kecamatan Abung Tinggi
  10. Kecamatan Blambangan Pagar
  11. Kecamatan Bukit Kemuning
  12. Kecamatan Bunga Mayang
  13. Kecamatan Hulu Sungai
  14. Kecamatan Kotabumi Kota
  15. Kecamatan Kotabumi Selatan
  16. Kecamatan Kotabumi Utara
  17. Kecamatan Muara Sungkai
  18. Kecamatan Sungkai Barat
  19. Kecamatan Sungkai Jaya
  20. Kecamatan Sungkai Selatan
  21. Kecamatan Sungkai Tengah
  22. Kecamatan Sungkai Utara
  23. Kecamatan Tanjung Raja
Secara geografis Kabupaten Lampung Utara terletak pada 104' 40 sampai 105'08 bujur timur dan 4'34 sampai 5'06 lintang selatan dengan batas-batas wilayah sebagai berikut:
  • Sebelah utara dengan Kabupaten Way Kanan
  • Sebelah selatan dengan Kabupaten Lampung Tengah
  • Sebelah timur dengan Kabupaten Tulang Bawang
  • Sebelah barat dengan Kabupaten Lampung Barat
Pada tahun 2008 suhu udara rata-rata siang hari berkisar antara 21,8oC sampai 23,8oC. Rata-rata curah hujan lebih rendah (182,54 mm) dibandingkan dengan tahun 2007 (133,6 mm). Curah hujan tertinggi terjadi pada Maret mencapai 455,4 mm dan terendah pada bulan Mei (28,7 mm).

wikipedia.org

Selasa, 30 Oktober 2012

Peran Dan Tanggungjawab Organisasi

Organisasi
Peran Dan Tanggungjawab Organisasi

Perusahaan didefinisikan sebagai sekumpulan orang yang bersama terikat oleh peraturan, proses, dan prosedur, yang dari masing-masing individu tersebut memiliki nilai pribadi yang berbeda, dan dibawa dalam interaksinya untuk menghasilkan suatu tujuan yang berorientasi pada fungsi, peran, hubungan, atau pengaruhnya di sebuah kelompok. Inilah yang disebut dengan organisasi!

Peran organisasi di dalam perusahaan mempunyai tanggung-jawab untuk memperoleh hasil. Input– process–outcome. Oleh karenanya setiap perusahaan akan sangat terobsesi dengan yang disebut kinerja (performance). Karena ketika mereka tidak dapat memenuhi harapan / ekspektasinya tersebut maka semuanya akan menjadi sirna dan berantakan. Tetapi, bagaimanakah menjelaskan sebuah bentuk organisasi yang sudah efektif dan dapat dipertanggungjawabkan?

Penjelasan sederhana adalah buat klarifikasi hubungan antara desain jabatan, struktur organisasi, dan proses. Ketika jabatan memiliki wewenang tindak lanjut, dan tingkat pengambilan keputusan yang jelas dan spesifik, maka orang akan mempunyai inisiatif, tindakan yang sesuai, dan berimprovisasi atau inovasi bila memang dibutuhkan karena dia, dan mereka yang lainnya di organisasi tersebut, mengerti cakupan peran dan hubungannya dalam mencapai tujuan. Bila tanggung-jawab, wewenang telah ditransfer ke seluruh tingkat jabatan yang ada, dan terdapat keseimbangan diantara jabatan tersebut dengan setiap fungsi dalam organisasi, maka organisasi akan menjadi sukses.

Permasalahan kerap kali muncul ketika dalam membuat organisasi hanya memfokuskan pada jabatan dan fungsi, terpisah dari tanggung-jawab dan peran atau roles accountability apa yang dapat diberikan kepadanya.

Pada sebuah film (industry), naskah / script (strategy) terbagi dan disusun dalam beberapa skenario (department). Setiap skenario tadi terdapat individu (employee) yang akan bertanggung-jawab memerankan berbagai macam hal dengan kondisi yang berbeda-beda dalam setiap situasi (process & procedure). Tujuannya adalah menjalani kegiatan yang sesuai agar cerita (goals) tersebut dapat sampai kepada penonton (customer) dengan sangat memuaskan (KPI = Key Performance Indicator).

Tidak mungkin seorang aktor pemeran utama (line manager) melaksanakan seluruhnya agar semua pesan yang diharapkan dapat dicapai. Maka untuk itu, agar tercapai tujuan tersebut seorang sutradara (director) harus mendelegasikan tugas kedalam beberapa kelompok (structure), seperti pembantu peran utama, peran pendukung, dan figuran. Memang tidak menutup kemungkinan bahwa seorang figuran dapat berperan sebagai wakil peran pembantu, bahkan mungkin menjadi peran utama. Namun yang perlu kita cermati dalam ilustrasi ini bahwa keberhasilan organisasi akan terlihat efektif, bila setiap individu mengetahui peran dan tanggung-jawabnya di lingkup jabatannya, kemudian dapat secara optimal melakukan tindaklanjut sesuai tuntutan kinerjanya.

Selalu Menjaga Semangat

Selalu Menjaga Semangat

Produktifitas hanya bisa terwujud jika ditunjang dengan semangat dan kemampuan bekerja dalam waktu tertentu yang harus dimiliki oleh pekerja. Tapi, tentu saja tidak mudah untuk bisa selalu menjaga semangat atau konsentrasi kerja kita dalam dalam waktu yang lama. Harus ada kiat-kiat yang bisa dipergunakan untuk keperluan ini. Ada beberapa hal kecil yang biasa saya pergunakan dan mudah-mudahan dapat juga Anda lakukan dalam mempertahankan semangat kerja. Ingin tahu kebiasaan apa saja yang bisa mempertahankan semangat kerja? Simak saja yang berikut ini.

Pergunakan waktu yang walaupun hanya beberapa menit, untuk bisa beristirahat. Meskipun pekerjaan tengah menumpuk dan harus cepat diselesaikan, tidak ada salahnya untuk beristirahat selama sekitar lima menit, karena waktu istirahat sejenak dapat memompa kembali semangat kita untuk kembali bekerja.

Jangan biarkan diri kita terlalu larut dalam pekerjaan, seolah-olah tidak ada hal lain selain kerja. Ngobrol dengan teman kerja? Kenapa tidak! Dengan cara berbicara dengan orang lain sejenak maka otak dan mood bisa terus siap siaga dan ternyata berbicara terbukti ampuh melenyapkan rasa kantuk, karena kita melakukan aktifitas yang melibatkan interaksi dengan orang lain, jadi asalkan tidak sampai lupa pekerjaan, kenapa tidak menjalani aktifitas sederhana yang satu ini.

Ngemil? Boleh saja asal sehat, masih urusan makanan, ada baiknya ketika makan siang jangan mengkonsumsi makanan terlalu banyak atau terlalu sedikit. Perut yang terlalu kenyang sangat potensial untuk membuat kita mengantuk dan kehilangan konsentrasi. Sementara makan terlalu sedikitpun bisa membuat perut ini tidak merasa nyaman dan membuat kita kehilangan konsentrasi juga.

Jangan lupa sesekali menggerakan anggota badan. Cara ini bermanfaat untuk mengembalikan mood yang menguap. Karenanya begitu ada waktu untuk bergerak seperti ; menggelengkan kepala, menggerakkan tangan atau berjalan dari meja satu ke meja lainnya, ya lakukan saja.

Bagi yang terbiasa minum kopi, silahkan. Kenapa? Karena unsur kafein yang ada di dalamnya, dapat membuat mata ini tetap terbuka tak terganggu oleh rasa kantuk, cuma masalahnya, tidak sedikit yang mengalami sakit perut atau buang air kecil sesudahnya. Makanya, cara ini hanya disarankan untuk mereka yang memang sudah terbiasa minum kopi.

So,……keep on spirit ….!!!!!

Manufaktur Dalam Pandangan Ekonomi Baru

Manufaktur
Manufaktur Dalam Pandangan Ekonomi Baru

Millenium baru telah membuat sebuah pola ekonomi baru (new economy) menjadi sebuah wacana yang perlu menjadi perhatian. Kita sadar bahwa perekonomian saat ini telah melalui beberapa model peradaban. Dimulai dari era pertanian 1750-an (agriculture), kemudian era industri 1960-an (industrial). Lalu apa yang terjadi pada saat ini? Era informasi merupakan gelombang peradaban baru yang perlu kita ketahui, yang akan merubah semua paradigma peradaban lama, serta membuka kesempatan menjadi semakin transparan dan kian kompetitf. Industri manufaktur (baca: pabrik produksi) adalah salah satu yang juga akan memberi dampak pada ekonomi baru tersebut.

Mengapa industri manufaktur? Karena di industri ini bila kita perhatikan pada tingkatan tenaga kerja permanen memiliki level gaji yang cukup tinggi bila dibandingkan dengan industri lainnya seperti jasa maupun perdagangan. Lebih dari itu industri ini terkenal juga dengan tunjangan (fringe benefits) yang sangat kompetitif bagi para karyawannya. Ada alasan yang sangat kuat mengapa industri manufaktur seperti demikian. Antara lain adalah tenaga kerja yang lebih produktif dibandingkan industri lainnya, seiring dengan investasi besar atas pembiayaan dan perawatan peralatan. Pengelolaan modal untuk memaksimalkan produksi dan efisiensi atas pemenuhan kompetensi tenaga kerja dan peralatan / teknologi yang canggih menjadikan industri ini sangat kompetitif dalam hal memenuhi kesejahteraan karyawannya.

Namun ada kecenderungan menurut survey belakangan ini mulai terjadi penurunan tenaga kerja langsung (direct employee), khususnya terhadap tenaga kerja dengan ketrampilan sedang (semi-skill worker) dan less-skill worker. Pekerjaan tersebut tidaklah menjadi berkurang, karena semakin dibutuhkannya tenaga kerja yang semakin ahli dan terikat oleh perusahaan, yang pada dasarnya perusahaan lebih fokuskan diri pada bisnis inti (core bussines). Investasi dititik beratkan terhadap teknologi/peralatan yang kian berkembang guna produktifitas yang maksimum. Intinya, industri manufakturpun segera mengalami proses yang akan berubah. Efisiensi tenaga kerja dan peralatan yang semakin canggih adalah salah satunya.

Tenaga kerja yang kian terbatas menjadikan pekerjaan tersebut membutuhkan tenaga kerja yang semakin ahli dengan penguasaan alat yang lebih lengkap atau menyeluruh. Mereka bisa saja dituntut untuk dapat menjalankan satu departemen, dan mengetahui apa saja, serta mengelola proses pabrik secara menyeluruh. Oleh sebab itu industri manufaktur akan ikut berperan dalam ekonomi baru (new economy).

Menjadi manufaktur baru yang berbasis komputer untuk mendisain, melakukan pengembangan, memproduksi dan mendiagnosa, serta memperbaiki jalannya proses. Komputer membuat fungsi produksi, desain, inventory control, dan monitoring menjadi terintegrasi melalui satu kendali, bahkan menggunakan data yang sama untuk menjalankan suatu kegiatan proses. Singkatnya, manufaktur seperti satu rangkaian elektronik yang dapat mengontrol seluruh jalannya proses dan dapat meningkatkan produktifitas sesuai kebutuhan perusahaan. Perusahaan manufaktur baru akan menginvestasikan lebih banyak kepada peralatan dan teknologi. Paradigma bahwa keahlian dalam menggunakan komputer hanya akan berlaku pada jabatan-jabatan tertentu, dan perusahaan tertentu sudah saatnyalah berubah. Selamat datang tahun baru, selamat memasuki era ekonomi baru.

Senin, 29 Oktober 2012

Sebutir Pasir Bisa Menjadi Sumber Bencana

Gurun Pasir Sahara
Sebutir Pasir Bisa Menjadi Sumber Bencana

Sir Edmund Hillary penjelajah ulung sang penakluk Mount Everest untuk pertama kalinya, puncak tertinggi dunia di pegunungan Himalaya, pernah ditanya oleh para wartawan apa yang paling ditakutinya sebagai seorang penjelajah alam. Dia mengaku yang paling ditakutinya adalah "Sebutir Pasir yang terselip di sela jari kaki". Wartawan heran, kemudian sang penjelajah melanjutkan pembicaraannya, "Sebutir pasir yang masuk disela jari kaki sering kali menjadi awal malapetaka. Ia bisa masuk menyelinap diantara kuku dan mengifeksikan kulit tersebut sehingga membusuk. Tanpa sadar kaki tidak dapat digerakkan, inilah petaka yang besar bagi seorang penjelajah karena ia harus ditandu".

Singa, buaya, beruang, walaupun buas secara secara naluriah mereka takut kepada manuasia. Sedang untuk menghadapai ganasnya padang pasir, dinginnya bongkahan es dan terjalnya gunung, seorang penjelajah telah menyiapkan dirinya secara optimal, jadi tidak perlu terlalu dikawatirkan. Tetapi menghadapi sebutir pasir yang akan masuk kedalam kulit seorang penjelajah, tak pernah mempersiapkan diri dan cenderung mengabaikannya.

Jika direnungkan apa yang dikatan Hillary sama dengan kita kala menunda-nunda serta menumpuk-numpuk pekerjaan yang dianggap kecil, begitu sampai pada waktunya kita merasa tercekik karena masalah-masalah kecil tersebut telah menggelayuti semua energi kita untuk menyelesaiankan pekerjaan tersebut dalam waktu yang bersamaan.

Banyak orang yang kebablasan menganggap remeh hal-hal kecil akhirnya menjadi kebiasaan dan membudaya sehingga sulit untuk berubah lagi. Satu hal yang pasti "Semua masalah besar berawal dari hal kecil". Seperti perang dunia ke I berawal dari huru-hara di Sarajevo (Bosnia), dari masalah lokal menjadi international dan menyeret para negara super power saat itu, saling unjuk gigi untuk memenangi perperangan.

Bukankah Hadist Nabi telah mengingatkan kita tentang manajemen waktu yang berbunyi :
"gunakan waktu luangmu sebelum waktu sibukmu sampai, manfaatkan waktu mudamu sebelum masa tuamu datang dan pakai sehatmu sebelum sakitmu menjemput".

Jadi, bercermin dari hal diatas, sudahkah kita mengunakan waktu dengan bijak?

Dibalik Kesulitan Selalu Ada Kemudahan

Kepompong
Dibalik Kesulitan Selalu Ada Kemudahan

Alkisah, suatu hari akibat perjalanan yang panjang, seseorang yang kelelahan menghentikan langkahnya untuk beristirahat, duduk dibawah pohon yang rindang untuk melepas penatnya dan mengusir gerahnya udara, hembusan angin yang pelan membuat hampir saja ia tertidur. Tetapi sebelum tertidur matanya menatap pemandangan aneh. Dari pandanganya ia melihat sesuatu yang menempel pada ranting pohon, bergerak-gerak dalam tempo yang cukup lama. Tanpa disadari ia bangkit dan menggerakan kakinya untuk mendekat agar dapat mengamati lebih jelas lagi.

Ternyata benda yang menarik perhatiannya itu adalah sebuah kepompong yang sedang dalam proses metamorfosis akhir, proses yang akan mengubahnya dari seekor ulat menjadi seekor kupu-kupu. Pergerakan yang cukup lama, tiba-tiba kepompong itu berhenti, padahal anggota badannya baru sedikit yang keluar dari lubang kecil tersebut. Ia menunggu dengan harapan mudah-mudahan kepompong itu bergerak lagi. Tapi setelah cukup lama menunggu, kepompong itu tetap diam. ” Mungkin janin kupu-kupu yang ada di dalam kepompong itu sedang kelelahan,” fikirnya.

Terdorong oleh rasa kasihan pada binatang kecil itu, ia tergerak untuk memberikan pertolongan. Kebetulan orang tersebut membawa gunting kecil. Sambil mengucap Bismillah , dengan gunting kecil itu ia membedah lubang kecil pada kepompong itu. Setelah lubang diperbesar, dengan sangat mudahnya seekor kupu-kupu berhasil keluar dari kepompong yang telah berhari-hari membungkus tubuhnya. Ia berharap sebentar kemudian kupu-kupu itu akan segera terbang menari-nari di antara bunga-bunga.

Lama ia menunggu, tapi kupu-kupu itu tak kunjung terbang. Jangankan untuk terbang, menggerakkan tubuhnya saja sudah kesulitan. Mengapa demikian? Orang tersebut memang telah berhasil mengeluarkan sang kupu dengan sebuah ’operasi caesar’, tapi ia tak tahu bahwa proses kelahiran yang dilakukannya tergolong ’premateur’. Bayi kupu-kupu itu lahir terlalu cepat dari yang seharusnya. Badannya masih terlalu gemuk, perutnya masih terlalu besar, sedangkan sayapsayapnya masih berkerut, belum mengembang. Sayapnya masih terlalu lemah untuk dapat menerbangkan badannya yang besar.

Dalam proses kelahiran yang alamiah, lubang untuk keluarnya memang kecil saja.Ukuran itu sudah sesuai dengan hasil rancangan Sang Pencipta, Allah subhanahu wa ta’ala. Dengan lubang kecil itu, janin yang masih dalam kepompong itu harus berjuang untuk bisa keluar. Untuk itu ia harus bergerak dan terus bergerak, sehingga seluruh tenaganya dikerahkan dan otot-ototnya dikencangkan. Melalui proses alamiah seperti itu, maka lahirlah kupu-kupu yang langsing, cakap dan bersayap indah. Tak lama setelah keluar dari kepompongnya, kupu kupu tersebut langsung dapat terbang, mengepakkan sayapnya hinggap dari daun ke daun, menghisap bunga dan terbang secara merdeka.

Niat dan proses

Setidak-tidaknya ada dua pelajaran yang bisa diambil dari peristiwa ini.

Pertama, bahwa niat baik saja masih belum cukup. Niat untuk memberi pertolongan itu memang suatu kebaikan tapi tanpa disertai dengan ilmu. Niat baik itu bahkan sering mencelakakan, baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap orang lain. Alangkah banyaknya orang yang berusaha menolong, tapi justru menjadi korban. Itulah sebabnya, niat baik itu haruslah disertai dengan ilmu. Dengan ilmu, niat baik itu akan bernilai berlipa ganda. Tanpa ilmu, niat baik itu sering justru merugikan.

Kedua, bahwa segala sesuatu itu terjadi melaui proses, tidak ada yang tiba-tiba. Sebagai manusia, setelah lahir tidak bisa langsung berlari. Semasa bayi kita belajar merangkak, jatuh bangun, akhirnya bisa berdiri, kemudian mulai menggerakkan kaki selangkah demi selangkah, baru kemudian bisa berjalan. Setelah bertahun-tahun kemudian, barulah kita bisa berlari. Semuanya itu harus dicapai dengan melakukan usaha yang keras. Bersusah-susah dahulu, bersenang-senang kemudian, begitulah kata pepatah. Untuk meraih sebuah keberhasilan, harus didahului dengan jerih payah yang cukup. Dalam Al-Qur’an, hal ini digambarkan oleh Allah dalam surat Al Insyirah ayat 6 dan 7 :
"Sesungguhnya sesudah kesukaran itu ada kemudahan, dan sesungguhnya sesudah kesukaran itu ada kemudahan".

Begitu besar makna ayat ini, sehingga Allah perlu mengulangnya dua kali. Ayat ini mengajarkan kepada kita untuk tidak berputus asa manakala menghadapi kesukaran dalam hidup. Kita harus berusaha semaksimal mungkin mencari jalan keluar dari berbagai kesulitan yang dihadapi, dengan keyakinan akan datang kemudahan di satu saat nanti. Bahkan datangnya kegagalan pun, tak patut membuat kita surut. Lebih selamat jika kita ber prasangka baik (ber-khusnuzhan) dalam menerima seberapapun besar kesukaran yang kita hadapi.

Bukankah manusia terlalu bodoh untuk mengetahui apa yang akan dan sebenarnya terjadi di balik sebuah kesukaran ? Allah SWT telah berfirman didalam surah An-Nisa ayat 19 :
"Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka (maka bersabarlah), karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak".

Hikayat tentang kisah seekor burung bersama sapi dan kucing, cukup memberikan gambaran tentang hal ini. Dikisahkan seekor burung sedang terbang terhantam oleh butiran-butiran salju, terhempaslah si burung yang sudah kelelahan itu ke permukaan salju yang dingin, sementara badannya mulai tertimbun salju sedikit demi sedikit, akibat dingin si burung tak lagi mampu menggerak-gerakan sayapnya untuk terbang kembali.

Disaat itu melintas seekor sapi yang tiba-tiba mengeluarkan kotorannya tepat mengenai tubuh si burung yang malang. Kotoran yang menyebarkan bau busuk membuat si burung merasa jengkel dan marah dan si sapipun terus berjalan tanpa merasa bersalah.

Diluar dugaan si burung, kotoran sapi yang menimpanya justru menebar kehangatan yang sedikit demi sedikit mengaliri sekujur tubuhnya, maka hilanglah kedinginannya, kekuatan pun berangsur pulih kembali. Kotoran sapi yang bau ternyata menjadi penyelamat jiwa sang burung.

Sesaat kemudian, terlihat seekor kucing datang mengendap-endap. Sang burung merasa ajalnya sudah dekat, karena ia tak memiliki kesempatan untuk bisa terbang menyelamatkan diri dari terkaman kucing.

Setelah kucing mendekat, ia menjilat-jilatkan lidahnya ke sekujur badan burung yang masih kotor tertimpa kotoran sapi. Melihat tingkah kucing yang lembut itu, tenanglah hati si burung. Dikiranya kucing itu memang berniat membantu membersihkan bulunya dari kotoran. Lantaran nyaman, siburung justru tertidur. Namun yang terjadi kemudian, setelah badan si burung bersih, si kucing segera menerkam leher burung yang sedang tertidur. Dengan sekali terkam saja, matilah burung tadi terkoyak taring kucing yang tajam.

Ternyata, sebuah peristiwa menyenangkan bagi burung yang merasa dibelai dan disayang, hanyalah sebuah awal dari datangnya sebuah bencana besar. Si burung telah tertipu jilatan dan belaian yang melenakan. Ia terlena kenikmatan sesaat yang menipu dan membuatnya binasa.

Lewat perumpamaan ini, manusia diperintah untuk dapat berfikir positif pada kesulitan yang ia hadapi. Satu kesulitan dan keburukan, belum tentu mendatangkan kerugian. Harus dihadapi dengan terus berupaya bekerja keras untuk bisa keluar dari belitan kesukaran, berbekal sebuah keyakinan, bahwa di balik kesusahan itu ada kemudahan yang dijanjikan Allah SWT.

Menyelenggarakan Rapat Secara Efektif

Menyelenggarakan Rapat Secara Efektif

Defisini dari rapat kurang lebih merupakan pertukaran informasi, ide, atau pendapat diantara dua orang atau lebih yang berperanan aktif untuk mencapai hasil tertentu. Sebagian orang tampaknya mempercayai bahwa satu-satunya cara untuk berkomunikasi dengan sekelompok orang adalah melalui sebuah rapat. Namun pernahkah Anda hadir dalam suatu rapat yang pada intinya percakapan diantara peserta rapat dapat diselesaikan melalui telepon dan media lainnya? Anda mungkin perlu mencermati apakah persoalan tersebut dapat diselesaikan lewat telepon atau dengan sebuah memo, bukan dengan mengumpulkan semua orang untuk duduk dalam rapat sampai berjam-jam.

Sayangnya, rapat kadang-kadang telah "melembaga", sehingga pembenarannya menjadi sebagai berikut : "Ya, sebenarnya tidak ada yang perlu didiskusikan, tetapi karena hari ini hari Senin, dan biasanya kita selalu mengadakan rapat di masing-masing departemen pada hari Senin, maka rapat pun tetap diadakan!" Dalam kondisi seperti ini, peserta rapat termasuk manajer, harus duduk dalam rapat tanpa bahan yang perlu untuk didiskusikan sehingga sebenarnya dalam hati merekapun bertanya-tanya mengapa mereka semua berada di tempat itu. Akibatnya orang akan tergoda untuk mencari-cari masalah hanya untuk mendapatkan sesuatu yang dapat didiskusikan.

"Menyelenggarakan rapat bukanlah merupakan ide yang menyenangkan bagi kebanyakan orang", demikian yang disampaikan oleh John & Shirley Payne dalam bukunya Sucsessful Meetings in a Week. Anda mungkin sering mendengar ucapan seperti ini :
"Rapat hanya membuang-buang waktu saja"
"Rapat hanya ingin menyerang orang"
"Rapat tidak pernah mencapai hasil apapun terkecuali ngerumpi"
"Rapat kan cukup 30 menit, tapi malah menghabiskan waktu sampai empat jam, apa tidak ada pekerjaan lain?"
"Tidak ada kontrol sama sekali"
"Mengapa saya diundang? Saya bosan"

Lalu, ada sebuah pertanyaan, "Mengapa ada orang yang mampu menyelenggarakan rapat dengan sangat efektif, sementara yang lain tidak? Padahal situasinya sama". Berikut ini beberapa langkah yang bisa diambil untuk menyelenggarakan rapat yang melibatkan Anda agar rapat menjadi lebih efektif, di ambil dari berbagai sumber yang terutama lebih didominasi oleh buku Successful Meeting in a Week yang ditulis John & Shirly Payne.
Langkah-langkah tersebut adalah sebagai-berikut :
  1. Pastikan apakah Anda benar-benar perlu penyelenggaraan sebuah rapat.
  2. Persiapkan secara matang tujuan, sasaran, peserta rapat, agenda, tempat, ruangan, dan perlengkapan.
  3. Beritahu peserta rapat pada waktu yang tepat
  4. Susunlah agenda rapat secara tepat
  5. Kendalikan semua input atau masukan secara efektif
  6. Lakukan follow up selanjutnya. Sebab tanpa adanya tindak-lanjut yang aktif, rapat sama saja dengan ngerumpi.

Management Gimmick

Management Gimmick

Kalau kita melihat definisi gimmick pada kamus Oxford adalah, "a trick or device to attract attention". Maksudnya adalah Management Gimmick berarti sebuah istilah yang popular yang biasa dilakukan dalam mengelola sesuatu (produksi) agar dapat lebih mudah diingat dan diilhami. Manajemen gimmick bukanlah suatu hal yang perlu kita hapal, khawatirkan, hindari, ataupun kita benci. Yang perlu dilihat adalah apa manfaatnya? Dan bagaimana konsep serta prakteknya di lapangan? Banyak telah kita dengar diantaranya adalah reverse engineering, TQC/TQM, just-in-time management, management by objective, dan yang di akhir tahun 90an telah muncul adalah benchmarking, six sigma, business process reeingineering serta masih banyak lagi lainnya.

Kesemuanya saling melengkapi dari tools yang sebelumnya, seiring berjalannya waktu serta pengembangan / continous improvement. Mengapa hal tersebut muncul? Sederhananya, bahwa yang dibutuhkan perusahaan adalah tumbuh dan berkembang (growth and survive). Namun management gimmick tadi bukanlah sebuah akhir, istilah tadi bukan bersifat seremonial ataupun sesuatu yang dibuat fenomenal, berkibar sesaat lalu kemudian akan hilang ditelan masa.

Dibalik itu jika kita melihat lebih jauh lagi merupakan sebuah prinsip-prinsip atau pedoman dari sebuah praktek-praktek yang terbukti secara global sangat produktif. Contohnya reverse engineering, seperti apa yang telah dilakukan oleh Toyota Jepang yang mengubah bisnis intinya dari industri tekstil menjadi industri otomotif dengan cara mengirimkan para ahli-ahlinya untuk belajar ke Ford Amerika. Kemudian mereka melakukan imitasi dan pengembangan, dan sekarang mobilnya pun telah beredar di pasar amerika (baca: toyota) bahkan di seluruh dunia. Oleh karenanya jepang dikenal dengan keahliannya dalam imitative innovation.

Kemudian benchmarking, yang definisinya adalah "metode manajemen yang mempelajari dan mengevaluasi secara sistematis dan berkesinambungan,terhadap barang dan proses kegiatan yang dilakukan organisasi superior tingkat dunia untuk kemudian hasilnya diterapkan di perusahaan sendiri dengan tujuan akhir mampu meningkatkan kinerja perusahaan melampaui organisasi panutan tersebut". Terbukti bahwa Steve Jobs, yang merupakan CEO Apple Computer inc. yang juga merupakan pendiri perusahaan tersebut, pun telah melakukan praktek benchmark terhadap Xerox melalui konsep mouse dan Graphical User Interface (GUI) pada saat itu. Yang kemudian dia kembangkan GUI tersebut dan menjadi sangat fenomenal melalui disain komputernya yakni Macintosh, yang sampai saat ini market leader untuk designed komputer.

Pada intinya adalah efisiensi, efektif, dan produktifitas secara berkesinambungan adalah basis dari aktifitas Management Gimmick. Lalu apa yang akan terjadi saat ini, apakah akan ada hal yang baru lagi muncul? Tulisan ini dibuat untuk menjadi sebuah wacana bagi kita bahwa pengalaman, observasi, analisa, dan pengembangan yang logis dan objektif secara menyeluruh serta terencana merupakan sebuah kesatuan yang tidak terpisahkan dalam membuat solusi lengkap dan terbaik. Pengalaman bukanlah absolut kebenaran. Jadi apakah anda Management Gimmick berikutnya?

Mencerdaskan Perusahaan

Mencerdaskan Perusahaan

Suatu ketika, di mata para petinggi Xerox, sudah terjadi pemborosan waktu yang dilakukan oleh para teknisi mereka yang bertugas untuk memperbaiki mesin-mesin foto copy buatan Xerox yang digunakan para pelanggan. Sebuah kinerja yang buruk menurut para manager itu. Mereka mendapati bahwa para teknisi itu sering terlihat menghabiskan waktu senggang di sela jam kerja dengan cara ngobrol di sebuah gudang suku cadang sambil menikmati kopi hangat. Mereka berbincang tentang pengalaman-pengalaman saat bertugas memperbaiki mesin foto copy yang rusak milik pelanggan mereka.

Jika dinilai dari sudut efisiensi secara umum, kebiasaan seperti yang dilakukan para teknisi itu bisa dianggap sebagai hanya buang-buang waktu saja. Apa lagi bagi orang-orang di belahan dunia barat sana, waktu adalah uang. Tapi John S. Brown tidak sependapat dengan anggapan itu. Pria ini bertugas sebagai imuwan kepala di Xerox, perusahaan yang memproduksi mesin-mesin foto copy kelas dunia itu. Brown lalu menindakinya dengan menugaskan seorang antropolog yang menguasasi bidangnya untuk mengamati kebiasaan para teknisi dengan lebih dekat. Dan antropolog itu mendapatkan bukti bahwa acara "ngobrol-ngobrol" itu bukan "hanya buang-buang waktu saja", tapi justru mempunyai peran penting dalam menentukan keberhasilan para teknisi itu untuk dapat menyelesaikan tugas dengan baik di lapangan.

"Pekerjaan lapangan" bisa digambarkan sebagai pekerjaan sosial. Banyak didapati pada pekerjaan dalam bidang yang sejenis akan membentuk komunitas profesi secara alamiah diantara para pelakunya. Para teknisi itu tidak hanya sekedar memperbaiki kerusakan pada mesin, tapi mereka juga menambah wawasan tentang cara memperbaiki mesin dengan cara yang lebih baik. Pekerja lapangan adalah orang-orang yang mengandalkan pengetahuan pada bidangnya. Secara naluriah, acara "ngobrol" di gudang itu akan menjelma sebagai ajang saling tukar pengetahuan diantara mereka. Dan itu akan makin melengkapi wawasan para teknisi tersebut terhadap bidang pekerjaannya. Selanjutnya Brown mengatakan, "Perusahaan yang benar-benar genius akan memanfaatkan cara-cara yang tidak formal, spontan, yang seringkali bersumber dari inspirasi, untuk mendapatkan solusi guna menyelesaikan masalah-masalah yang pelik, yang tidak terselesaikan dengan proses formal".

Bekerja atau pun belajar adalah proses interaksi sosial. Dan perusahaan bisa digambarkan sebagai jaringan partisipasi. Menanamkan antusiasme dan komitmen adalah kunci untuk mendapatkan kinerja yang prima. Dua hal tadi dapat diusahakan namun tidak bisa dipaksakan. Antusiasme dan komitmen menjelma dari ketertarikan. Dan itu bisa terjadi jika semua pekerja di sebuah perusahaan bersedia untuk bergabung dengan sukarela dalam membuat komitmen kepada sesama teman kerja, perusahaan tersebut dapat meraih keberhasilan. Satu hal yang harus dihindari, jangan menimbulkan situasi dimana diantara mereka akan menjadi saling curiga karena beberapa hal. Misalnya tentang isue anak emas, teman dekat, atau kelompok. Perusahaan yang cerdas akan membuang kemungkinan itu jauh-jauh.

Meningkatkan Motivasi Kerja

Kotabumi Lampung Utara
Meningkatkan Motivasi Kerja

Penelitian (research) mengenai kompeten atau tidaknya seseorang didalam melakukan sesuatu pekerjaan sebenarnya sudah dilakukan sejak lama. Pada tahun 1973 David McCleland sang guru "motivasi" telah memperkenalkan kompetensi pada bukunya yang provokatif yang berjudul "Testing competence rather than intelligence". Esensinya di buku tersebut dikatakan bahwa ada sesuatu karakteristik dasar yang lebih penting dalam memprediksikan kesuksesan kerja, yang lebih berharga daripada kecerdasan akademik, dan dapat ditentukan dengan akurat. Berawal dari hal ini lah nilai kompeten seseorang dapat dibedakan kedalam golongan star performer dan dead wood.

Dari hal tersebut muncul suatu ukuran yang mendasar terhadap keberhasilan kerja seseorang pada suatu posisi, dan menjawab satu pertanyaan, "Pengetahuan, keterampilan dan perilaku seperti apa yang dapat atau diperlukan untuk berhasil dalam suatu posisi tertentu?". Dengan demikian kompetensi (baca: becus) menjadikan supplemen atau pelengkap terhadap deskripsi jabatan atau spesifikasi jabatan yang kita sudah kenal selama ini. Orang yang sangat becus sekali, becus, tidak becus ,dan tidak becus sama sekali akan teridentifikasi terhadap lingkup pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya oleh kompetensi.

Didalam melakukan kegiatan sehari-hari pada pekerjaan yang kita laksanakan besar kemungkinan tidak disadari dan tidak menjadi perhatian oleh kita bahwa kita membawa perilaku atau sifat dasar kita untuk bekerja. Nilai dan sifat dasar kita yang secara gen yang kita bawa sejak lahir dari orang tua kita, lalu beradaptasi dengan lingkungan, dan berakhir pada budaya kerja di lingkungan kerja, dengan pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki telah membawa perilaku kita jauh dari perhatian / pandangan kita. Seluruh kegiatan yang kita lakukan baik di lingkungan keluarga, tempat tinggal, tempat kumpul sampai ke dalam lingkungan kerja membawa perilaku kita semakin jauh lagi dari pengamatan bahwa kita telah melakukan sesuatu.

Dari indikasi-indikasi tersebut merupakan indikator yang akan membedakan keunggulan seseorang di dalam melakukan sesuatu hal. Seseorang yang unggul melakukan pekerjaan tentunya memiliki indikator perilaku yang membuat dia kompeten dalam menyelesaikan pekerjaan, dan indikator tersebut pun memiliki tingkatannya. Apakah ia merupakan seseorang yang memiliki indikator perilaku yang cukup dalam bertindak; sangat menyadari terhadap tugas dan tanggung jawabnya, memahami kegiatan dan dapat mengendalikannya sesuai dengan tindakan yang dibutuhkan pada kondisi-kondisi tertentu; atau ia amat sangat terampil didalam menentukan, mengevaluasi, dan menjaga kesempurnaan didalam melakukan bermacam hal? Sebaliknya, bilamana indikator perilaku seseorang yang memiliki kekurangan dalam melakukan sesuatu?

Pertanyaan selanjutnya yang dapat kita renungkan bersama-sama adalah di mana posisi indikator perilaku kita masing-masing?

Minggu, 28 Oktober 2012

Performance Paradox

Performance Paradox

Performance atau lebih dikenal dalam bahasa sehari-hari adalah kinerja merupakan hal yang selalu dibicarakan disetiap perusahaan. Kinerja merupakan output dari beberapa proses dalam melakukan kegiatan tertentu yang dapat dilihat bilamana mempunyai sebuah ukuran. Sebuah pertandingan balap karung kemenangan ditentukan oleh jarak yang harus dilalui, dan catatan waktu yang diperoleh. Penjual sayur mendapat keuntungan dari biaya yang ia keluarkan untuk membeli, dan harga jual yang ia tawarkan ke pelanggan. Tanpa ukuran yang jelas, maka kinerja akan menjadi argumentatif bahkan cenderung subjektif yang pada akhirnya menjadi polemik.

Bayangkan bila seorang pilot berhasil membawa pesawatnya ke tujuan yang jaraknya 500 km dalam waktu 3 hari! Tentunya keberhasilan tersebut bila tidak mempunyai target sebagai ukuran spesifik, maka akan menjadi sebuah perdebatan yang berkepanjangan apakah kinerja tersebut dinilai baik, namun seberapa baik, atau buruk, tapi seberapa buruk.

Bila kita telaah mengenai ilustrasi tersebut, maka untuk memudahkan pengidentifikasian permasalahan sebenarnya kinerja memiliki mekanisme sistem yang menunjang sebuah keberhasilan optimal. Sebuah sistem membutuhkan manusia, material, teknologi, dan waktu.

Manusia merupakan pelaksana dari dimulainya sebuah aktifitas. Material merupakan informasi data atau bahan yang akan diproses. Teknologi merupakan cara / teknik yang digunakan untuk melakukan / mengolah proses produksi / jasa. Dan waktu, merupakan periode dimana aktifitas tersebut dimulai dan selesai.

Kinerja karyawan dalam perusahaan berkaitan dengan Manusia dan Teknologi. Dalam kasus pilot tadi, kinerjanya akan menjadi lebih jelas jika sistem atau bisnis proses telah di setup targetnya.

Pertama adalah bagaimana kemampuan pilot tersebut? Informasi atau indikasi apa yang ia peroleh sebelum dan selama penerbangan? Tindakan apa yang dilakukan dengan informasi yang ia miliki? Dan, berapa lama penerbangan dibutuhkan untuk sampai tujuan? Kinerja tanpa ukuran yang spesifik sudah pasti akan subjektif.

Di dalam perusahaan, hubungan tersebut akan terbawa pada hubungan kerja antar karyawan, motivasi kerja, komunikasi atasan dan bawahan, serta budaya kerja yang tidak produktif. Dampak terbesar dari hasil kinerja yang tidak terukur secara spesifik adalah kerugian. Kinerja beserta penilaiannya merupakan proses pembelajaran bagi setiap individu.

Tantangan saat ini tidak dapat dipastikan sama akan terjadi pada saat berikutnya. Keahlian kita sebelumnya belum tentu dapat digunakan untuk memecahkan masalah saat ini. Pengetahuan yang kita miliki tidak menjamin terjadi di masa yang akan datang. Dan sikap kerja kita sehari-hari tidak selalu dapat kita pertahankan dengan emosi yang baik. Pencapaian konsistensi dalam bekerja harus ditempuh setiap individu dengan cara belajar dan berbuat. Belajar mendengar, belajar melakukan, belajar berpendapat.

Kegagalan maupun keberhasilan menjadi bagian realita, dan konsekuensi yang harus dapat diterima dalam sebuah penilaian kinerja. Manusia dan teknologi adalah sebuah paradox dalam mencapai kinerja. Bila karyawan dinilai sama kinerjanya, apakah manusia atau teknologi-kah penyebabnya?

Menghargai Sesama

Menghargai Sesama

"Tak seorangpun dapat memahami hati manusia kecuali jika dia memiliki simpati yang dibangkitkan oleh cinta"
( Henry Ward Beecher )

Kunci pergaulan ada pada diri kita sendiri. Sebagai manusia, hendaknya kita selalu menjaga perbuatan kita sehari-hari, sehingga bermanfaat baik bagi kita sendiri maupun orang lain. Pergaulan akan langgeng kalau kita bisa menghargai orang lain layaknya kita menghargai diri sendiri. Orang lain akan menaruh hormat pada kita jika kita mampu menghormati dan menghargai orang lain.

Dalam hidup bermasyarakat tenggang rasa, tepa selira penting dikedepankan. Sifat-sifat mulia yang dimiliki orang timur ini terbukti menjadi salah satu daya tarik para wisatawan mancanegara. Banyak turis yang tertarik pada negeri-negeri di kawasan timur karena adat istiadat dan budayanya yang bernilai tinggi. Di negeri-negeri Barat budaya seperti ini tidak mungkin dijumpai. Namun bukan itu alasan utamanya, melainkan manfaatnya yang amat besar dalam menjalin interaksi dan membangun toleransi sesama manusia.

Orang dinilai bukan karena harta kekayaan dan ketinggian ilmunya, melainkan oleh sikapnya yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Bangsa Indonesia mengutamakan sikap dan perilaku manusia sebagai dasar dan etika pergaulan. Karena itu sejak dulu bangsa ini dikenal sebagai bangsa yang ramah tamah. Pemahaman akan pentingnya nilai-nilai luhur dalam pergaulan yang diwarisi dari nenek moyang kita, selanjutnya menjadi pesona tersendiri dalam menjalin hubungan di dalam lingkungan bisnis.

Kebanyakan kita menilai lingkungan bisnis adalah lingkungan yang keras, semuanya diatur dengan uang. Fokusnya adalah bagaimana mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya, kalau perlu dengan cara-cara yang tidak halal. Di manapun lingkungan bisnis memang keras. Perasaan dinormor duakan, kadang dibuang jauh-jauh karena dianggap tidak kondusif dalam menjaring konsumen sebanyak-banyaknya.

Kita tidak perlu heran jika menjumpai sales produk tertentu masuk di desa dan setengah memaksa warga untuk membeli produknya. Mereka bertindak begitu karena terikat oleh target yang ditetapkan perusahaan. Jika tidak memenuhi target, otomatis pendapatan mereka berkurang. Tetapi semakin pesatnya saingan, lingkungan bisnis yang semula tidak ramah berubah menjadi ramah. Walaupun keramahan tersebut tidak tulus, namun para penyelenggara perusahaan menyadari pentingnya perilaku dan sikap yang menghargai konsumen. Bahwa pembeli adalah raja, semua orang sudah tahu. Tetapi tak semua produsen mau mengaplikasikan dalam aktivitas bisnisnya sehari-hari.

Hidup memang keras, itulah soalnya. Kemballi pada sikap tadi, nilai-nilai luhur nenek moyang yang bersumber pada ajaran agama kemudian menghiasi kantor-kantor pemerintah dan swasta. Mereka berlomba-lomba menampilkan citra sebagai kantor yang berbudaya tinggi dengan slogan-slogan yang manis. Say with smile – katakan dengan senyum misalnya begitu. Dan senyum yang memang murah meriah itu menjadi komoditi yang bernilai tinggi. Mereka agaknya sudah mengerti bahwa untuk dihargai orang lain, dirinya sendiri harus terlebih dulu memberikan penghargaan kepada orang lain. Mana mungkin orang lain akan menghargai kita, jika kita bersikap cuek kepada mereka?

Membangun Kemampuan Pribadi

Membangun Kemampuan Pribadi

Tatkala tenaga dan pikiran terkuras oleh berbagai persoalan dan krisis yang mendera, sering kali orang merasa seperti ikut lumat bersama. "Habis, dunia sudah kiamat," begitu yang ada dibenaknya. Pikiran semacam itu harus segera dienyahkan. Sebab,sesungguhnya setiap individu memiliki kemampuan keluar dari kemelut persoalan. Syaratnya? Setiap SDM harus mau menggali seluruh potensi internalnya, selain memanfaatkan situasi eksternal untuk memperkuat daya pribadi (personal power), suatu potensi kekuatan yang tersembunyi dalam diri setiap manusia yang mampu menjadikannya sebagai manusia baru.

Lewat program pengembangan pribadi, banyak aliran dan konsep menempa daya pribadi ditawarkan, dengan iming-iming kesuksesan dan kebahagiaan dikemudian hari. Intinya, menempatkan pribadi sebagai sumber kekuatan dan inspirasi. Dialah yang mampu "mengatur" arah kebutuhan dan tuntutan hidup agar berjalan optimal. Untuk itu, ada nilai-nilai yang harus dipompa kencang, keras, atau sedang. Dan sebaliknya adapula nilai-nilai yang harus dikendalikan dalam kadar berbeda-beda. Dan semuanya itu kembali ke sasaran yang hendak dituju.

Dalam beberapa hasil diskusi dari para pengamat SDM, disimpulkan bahwa menempa daya pribadi bisa dipelajari sendiri. Yang terpenting, untuk bangkit dengan cepat dibutuhkan kondisi yang kondusif, dari segi eksternal maupun internal. Fakta yang terungkap, masih banyakSDM yang terkungkung dalam ketidak berdayaan, sikap pesimistis, kemalasan, mudah menyerah, putus asa, dan sebagainya. Mereka cenderung meletakkan nasib di tangan orang lain yang dianggap jauh lebih berdaya. Dibawah ini adalah tip menempa daya pribadi yang disimpulkan dari diskusi di atas.

Pertama, harus menghilangkan kecenderungan tergantung pada faktor eksternal, seperti guru, atasan, dan bahkan senior. Karena, hal itu akan melahirkan rasa takut, tidak bebas berpendapat dan berbuat. Kendala aktualisasi dan ekspresi diri membuat potensi SDM tidak muncul.

Kedua, agar daya pribadi muncul, harus berani introspeksi, menyadari kekurangan, kelemahan dan keterbatasan diri. Selain itu, kita juga perlu menggali kelebihan diri. Setiap orang pasti memiliki kelebihan dibanding orang lain, tanpa harus menjadi sombongatau lupa diri. Kelebihan dan kekurangan itu dapat digali dari aspek fisik, keterampilan, sikap, inteligensia, dan lain-lain. SDM juga harus memiliki kemauan berbagi dan belajar dari pengalaman orang lain. Hal ini mutlak karena pengalaman itu heterogen, sama dengan latar belakang manusia.

Tiga, SDM harus berusaha menumbuhka nenergi positif dalam dirinya. Ini akan melatih orang berpikir positif, karena pada dasarnya manusia itu makhluk rasional. Namun diingatkan, tak semua ide maupun informasi bisa melahirkan energi positif. Harus ada seleksi untuk mengasah daya pribadi.

Empat, menempa daya pribadi dibutuhkan pendekatan multidisiplin. Setiap SDM sah-sah saja mengembangkan daya pribadi dengan teknik yang dipercayai dan dikuasai. Namun, karena semua sisi kepribadian manusia tidak mungkin diolah sendiri, perlu kerjasama atau pendekatan terpadu dengan pihak lain.

Lima, kualitas hidup SDM ditentukan oleh kualitas komunikasinya, dengan diri sendiri, dengan sesama / alam dan dengan Tuhannya. Kalau komunikasi dengan diri-sendiri bagus, maka dasarnya memang bagus. Begitu pula, jika komunikasi dengan sesama bagus, maka dasarnya akan baik pula. Dalam hal ini, kesadaran pada keseimbangan yang membuat manusia berdaya. Manusia harus menyadari bahwa dirinya adalah hardware dan sekaligus software. Kecerdasan, keahlian, keterampilan, dan semua kebanggaan duniawi, tidak lebih dari atribut, bukan tujuan.

Enam, SDM harus siap menerima tanggung jawab sebagai pembelajaran, pemimpin dan guru. Sebagai pembelajar yang baik, ia tidak akan pernah berhenti belajar dan mempraktekkan pelajaran yang sudah didapat. Ia pun siap diuji dan dievaluasi kapan saja. Bila ia seorang pimpinan, selalu menjaga agar tindakannya sesuai dengan ucapannya. Sementara sebagai seorang guru, harus bias membimbing, mengarahkan dan member teladan.

Tujuh, daya pribadi akan tumbuh dan berkembang dengan efektif melalui proses pendidikan yang diikuti dengan penerapan. Dipercayai, hanya tindakan yang membuat perubahan, bukan pikiran atau ide-ide statis belaka. Secemerlang apapun ide itu, tak akan berarti apa-apa bila tidak diimplementasikan. Tantangan terhadap daya pribadi bukan terletak pada proses transfer of knowledge saja, melainkan juga pada kondisi internal.

Kikir, Sifat Yang Harus Dihindari

Kikir, Sifat Yang Harus Dihindari

Kikir atau bakhil termasuk akhlaq yang tercela, sebab orang yang kikir memiliki sikap mental "enggan mengeluarkan harta yang menjadi kewajibannya untuk dikeluarkan". Orang yang kikir amat cinta terhadap hartanya, yang karena kecintaannya itu ia melalaikan kewajiban yang harus ditunaikan. Dengan demikian pada hakekatnya ia lebih mementingkan harta daripada amal-ibadah.

Simbol dari sifat kikir, ( juga sombong dan iri ), dipersonifikasikan pada diri KABIL, putra Nabi Adam, ketika kepadanya disuruh untuk memberikan korban kepada Allah. Seperti diketahui , Kabil adalah gambaran manusia egoistis, yang hanya memburu kenikmatan hawa nafsu. Tujuan hidupnya semata-mata mengejar kepuasan hawa nafsu berupa harta, tahta dan wanita. Untuk mendapatkan apa yang dikehendakinya ia akan melakukan apa saja, terhadap siapa saja dan kapan saja.

Adiknya yang bernama HABIL menjadi korban dari perbuatannya yang sangat keji. Habil merupakan personifikasi dari sifat-sifat yang baik seperti dermawan, ikhlas dan rendah hati. Ketika keduanya dihadapkan dengan tugas berkorban untuk Allah, sikap, tanggapan dan perilakunya pun berbeda. Kabil, yang merasa bahwa harta benda sebagai surga yang dapat membahagiakannya bersikap negatif. "Mengapa harta benda yang membahagiakan itu mesti dikorbankan? Bukankah harta benda yang dimilikinya adalah sepenuhnya hasil cucuran keringat sendiri?"

Bisikan dan fikiran buruk sebagai konsekuensi logis dari sipak negatifnya, menyebabakan dia memberikan pengorbanan secara minimal, karena terpaksa. Dipilihnya buah-buahan yang paling buruk, tak enak dimakan dan tidak bermanfaat, serta dipilihnya binatang ternak yang kurus-kering tak berdaging. Sungguh berbeda sekali keadaannya dengan HABIL. Ketika menerima kewajiban berkorban, tumbuh rasa ikhlas dan syukur dihatinya, ia mempersaembahkan korban yang paling baik, buah-buahan segar dan ternak yang gemuk. Sikap mentalnya yang positif dalam menerima tugas kewajiban itu menyebabkan segala perilaku terarah pada tindakan yang baik.

Perbedaan sifat mental, anggapan serta perilaku tersebut menyebabkan berbeda pula penerimaan Allah terhadap amal (korban) yang dipersembahkan. Allah tidak menerima persembahan korban Kabil dikarenakan sifat kikir dan tidak ikhlas, sedangkan persembahan korban Habil diterima oleh Allah karena keikhlasan dan kedermawanannya.

Ternyata keputusan Allah yang adil itu masih membawa buntut lain. Kabil merasa tidak puas terhadap keputusan itu, ia merasa iri terhadap adiknya yang dianggap lebih rendah darinya. Sikap iri dan sombong inilah yang kemudian menyebabkan ia tega membunuh adiknya Habil.

Setelah peristiwa pembunuhan, dunia terasa sempit bagi Kabil yang selalu dikejar-kejar rasa bersalah, kemanapun ia lari suara lantang mengutuknya terngiang-ngiang ditelinganya, tak ada rasa aman dan udara yang segar, yang ada hanya suara dan udara yang senantiasa mengutuknya.

Begitulah keadaan orang kikir yang dilukiskan pada surah Al-Lail ayat 8-11:
"Adapun orang yang bakhil dan merasa tidak butuh pada pertolongan dan mendustakan kebaikan, maka akan kami mudahkan dia kepada jalan yang sempit. Tidak ada guna baginya harta kekayaannya bila dia terjerumus".

Kikir tidak akan mendapatkan manfaat apa-apa dari harta yang amat dicintai, sebaliknya akan mendapatkan kesulitan dan kerugian-kerugian besar dengan hartanya itu. Nabi Muhammad SAW telah memperingatkan akan bahaya sifat kikir ini dengan sabdanya yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:
"Jagalah dirimu daripada sifat aniaya, karena aniaya itu akan merupakan kegelapan di hari Qiyamat nanti, dan peliharalah dirimu dari pada sifat kikir, karena sifat kikir itu membinasakan ummat-ummat sebelum kamu, mendorong mereka mengadakan pertumpahan darah dan menghalalkan semua yang diharamkan Allah".

Abu Bakar Siddiq menggambarkan tujuh bahaya kikir :
  1. Orang kikir akan meninggalkan hartanya itu pada ahli waris yang tidak mampu mengurusnya, sehingga harta itu akan dihambur-hamburkan untuk sesuatu yang tidak bermanfaat.
  2. Harta yang ditinggalkan itu dirampas oleh pengusasa yang dzalim.
  3. Hartanya untuk melampiaskan keinginan nafsu seksualnya hingga ludes.
  4. Hartanya dipergunakan untuk membangun sesuatu yang rapuh, kemudian roboh.
  5. Hartanya habis karena dicuri, terbakar atau sebab-sebab lain.
  6. Hartanya yang tidak bermafaat itu semata-mata untuk biaya berobat dirinya yg menderita penyakit kronis.
  7. Hartanya itu hilang karena ditanam di suatu tempat yang dia lupa tempat manakah itu ?
Agar terhindar dari semua bahaya yang tidak kita harapkan, marilah sejak sekarang kita hilangkan sifat kikir secara bertahap. Pertama kali, kita introspeksi diri kita, sejauh mana tingkat kekikiran kita, kemudian setiap hari berusaha untuk mengurangi dengan selalu menyadari bahayanya. Selanjutnya kita tumbuh kembangkan dan suburkan sifat dermawan dengan cara selalu mengingat sabda Nabi Muhammad SAW:
"Tangan diatas (yang memberi) lebih baik dari pada tangan yang di bawah (yang diberi)".

Memberi tanpa banyak fikir apa yang kita miliki menurut kadar ukuran kita, apakah yang akan kita berikan itu berupa harta benda, ilmu pengetahuan ataukah tenaga. Dengan selalu membiasakan memberi, secara berangsur-angsur niscaya sifat dermawan akan tumbuh menjadi akhlaq kita, dan sebaliknya sifat kikir akan terkikis habis dari jiwa kita. Dan sungguh beruntung jika kita dapat terpelihara dari kekikiran (kebakhilan) dan bersifat dermawan. Allah menjanjikan kebahagiaan kepada kita seperti yang difirmankan dalam surah Al-Hasyr ayat 9:
"Dan barang siapa yang terpelihara dari kekikiran dirinya, maka merekalah orang-orang yang beruntung"

Ilmu Dan Iman

Ilmu Dan Iman

Beberapa tahun terakhir ini kita banyak belajar dari kejadian-kejadian yang mengejutkan. Banyak sekali orang pintar dan terpelajar melakukan kebodohan. Pemegang gelar sarjana hukum, magister hukum bahkan doktor ilmu hukum, terlibat jual-beli perkara. Dokter medis menggugurkan janin, profesor korupsi, insinyur nyedot minyak dilaut untuk dijual keluar negeri, akuntan menjual tanda-tangan untuk menyetujui kecurangan keuangan, buruh korupsi tidak disiplin dengan waktu, datang terlambat, tidak menjalankan tugas dengan semestinya, dan sebagainya yang masih banyak lagi. Bahkan ada sebagian yang membenarkan hal tersebut dengan justifikasi bahwa mereka semua adalah manusia dho’if, lemah dan sering lupa. Gejala dunia seperti apakah ini? Namun jika gejala / symphtom ini makin merebak, namanya menjadi sebuah permasalahan / problem.

Salah satu hasil analisis adalah bahwa lembaga perguruan (dasar/menengah/tinggi) ternyata hanya dapat menelurkan orang yang terpelajar dan pintar (intelek), yaitu membekali seseorang dengan pengetahuan, mengubah orang yang tidak tahu mejadi tahu, orang bodoh menjadi pintar tetapi tidak menelurkan orang yang mampu mengubah yang buruk menjadi yang baik, yang boros menjadi hemat, yang bermental bobrok menjadi beriman.

Jika kita bandingkan dengan uswatun hasanah, Nabi kita Muhammad S.A.W yang telah menjadi suri tauladan, mengubah masyarakat jahiliyah menjadi masyarakat yang beradab, menerapkan aturan permainan Islam / syariah dalam bidang ekonomi, politik, menjalankan kehidupan sosial budaya, pertahanan dan keamanan, maka untuk sementara kita artikan bahwa terpelajar adalah mengubah otak, sementara terdidik adalah mengubah mental atau hati seseorang.

Sebagai informasi bahwa dengan memperhatikan kepentingan dan kebutuhan akan manusia yang terdidik maka negara-negara maju pada dekade millenium ini telah bergeser pemikiran untuk mengubah kurikulumnya dengan memasukkan beberapa mata pelajaran listening skill, speaking skill, pleasant personalities. Kondisi dilapangan telah menunjukkan bahwa telah banyak manusia terpelajar tetapi tidak dapat mendengarkan secara empati keluhan si miskin, si fakir dan manusia yang tertindas, sehingga diperlukan manusia yang memiliki kemampuan mendengarkan (listening skill).

Banyak manusia terpelajar tetapi tidak memiliki kemampuan untuk berbicara tentang kondisi kebobrokan dan keadilan, oleh karenanya diperlukan manusia yang memiliki kemampuan berbicara (speaking skill) untuk menyuarakan adanya perihal tersebut. Banyak manusia terpelajar tetapi tidak memiliki personality (kepribadian) yang menyenangkan, berbicara menyakitkan hati orang lain, menyinggung perasaan orang lain, meremehkan kemampuan orang lain, tidak memiliki empati dan sensitif terhadap derita orang lain, sehingga dibutuhkan orang yang mampu dan memiliki kepribadian yang unggul untuk dapat dapat berempati dan sensitif terhadap orang lain.

Firman Allah, bahwa akan ditingkatkan derajat orang yang beriman dan berilmu satu derajat dari yang lain adalah merupakan bukti dan gambaran bahwa keduanya adalah satu hal yang tak dapat dipisahkan keberdayaannya. Iman tanpa ilmu berarti taqlid / ikut-ikutan / tanpa dasar. Sebaliknya ilmu tanpa iman akan menjadi tanpa arah positip bak pohon berduri yang rimbun tanpa buah yang hanya mencelakakan orang.

Untuk itu marilah berupaya agar kita senantiasa menjadi kelompok orang yang terpelajar dan terdidik, kelompok orang yang berilmu dan beriman, kelompok orang yang dapat mensinergikan keduanya dalam kehidupan kita. Dengan demikian kita menjadi golongan orang yang berguna bagi orang / golongan / masyarakat / makhluk lain.

Jumat, 26 Oktober 2012

Etika Berbicara

Etika Berbicara

Bangsa Indonesia sejak dulu dikenal sebagai bangsa yang memiliki kebudayaan adiluhung. Penduduknya ramah tamah, sopan santun, tutur katanya halus dan terbuka pada pendatang. Suku Jawa misalnya, memiliki tingkatan bahasa pergaulan baik lisan maupun tulisan. Ada Jawa ngoko, kromo dan kromo inggil. Masing-masing dipergunakan pada waktu dan tempat yang berbeda. Kepada orang tua kita harus memakai bahasa kromo inggil, kepada yang lebih muda kita boleh bicara ngoko. Hal ini menunjukkan sejak dulu bahasa memiliki kedudukan yang tinggi dalam pergaulan. Warisan nenek moyang kita ini harus kita jaga dan kita lestarikan. Sebab, didalamnya mengandung ajaran yang sarat dengan budi pekerti.

Saat ini pelajaran budi pekerti sepertinya kembali digalakkan oleh pemerintah karena manfaatnya sangat besar dalam mendidik anak didik memiliki pribadi yang berkualitas. Merosotnya moral di kalangan generasi muda sekarang ini salah satu penyebabnya adalah dangkalnya pemahaman akan budi pekerti.

Kita harus menjaga lisan kita untuk senantiasa bicara yang benar dan penuh hikmah. Tetapi kebenaran dan hikmah itu hanya akan sampai pada para pendengar manakala kita sampaikan dengan tutur kata yang halus dan sopan. Kata-kata yang diucapkan dengan kasar walaupun benar akan menyakitkan hati. Tiada kebenaran dalam kekasaran, sebab yang kasar itu biasanya tidak mujarab sebagai hikmah. Benar tetapi menyakitkan hati seperti air minum yang diberikan dengan bentakan.

Bertutur kata halus dan sopan tidak semua orang bisa, ini termasuk bekal menjadi manusia yang utama. Seorang biasanya sejak awal dapat diduga akan berhasil atau gagal dalam hidupnya dari tutur katanya. Orang yang terbiasa bertutur kata halus dan sopan akan terbiasa pula untuk menghadapi setiap persoalan dengan penuh ketenangan dan kesabaran.

Sebab, di dalam tutur kata yang halus dan sopan itu mengandung pelajaran tingkah laku yang benar dan baik. Kedengarannya tidak masuk akal. Tetapi marilah kita renungkan sejenak dengan hati yang jernih dan pikiran yang cerdas. Bertutur kata yang halus dan sopan itu bukan perkara mudah, khususnya bagi orang yang sejak kecil tidak memiliki budaya yang adiluhung. Bagi kita, bertutur kata yang halus dan sopan itu mudah karena sejak kecil kita sudah dibiasakan untuk berbicara seperti itu. Tetapi bagi orang lain, memerlukan latihan dan praktik yang tidak sekali jadi. Karena itu begitu berhasil, otomatis tingkah lakunya akan berubah mengikuti langgam tutur katanya yang baru itu.

Kenapa kita harus bertutur kata yang halus dan sopan? Kalau kita kaji lebih mendalam di balik ucapan yang kita keluarkan dari mulut kita, mencerminkan siapa diri kita sebenarnya. Kalau bahasa menunjukkan bangsa, maka kata-kata menunjukkan pribadi kita. Seseorang akan sulit mengelak dari dirinya sendiri pada saat ia berbicara. Kata-kata yang keluar secara spontanitas akan membuka siapa diri kita sebenarnya. Berkualitaskah atau kita cuma orang yang tidak punya ilmu sama sekali ?

Kata-kata yang halus dan sopan memiliki pengaruh lebih besar daripada kata-kata yang kasar dan serampangan. Lebih mudah menggaet orang lain menuruti kemauan kita dengan kehalusan kata daripada kita paksa dengan kasar dan tidak sopan. Sebab, manusia adalah makhluk berperasaan, kalau kita dapat menyentuh perasaannya maka manusia akan mematuhi apa saja yang kita perintahkan. Sebaliknya jika dikasari, mungkin awalnya menurut, tetapi lama-kelamaan ia akan berontak. Apapun yang bertentangan dengan hati pasti tidak akan langgeng. Tutur kata yang halus dan sopan harus dimiliki semua orang, bukan hanya untuk kaum wanita saja.

Ada kisah yang cukup menarik yang dapat menjadi pelajaran bagi kita semua. Ada seorang sekretaris wanita yang cantik, lincah dan energik. Siapapun pasti suka kepadanya, disamping cantik, otaknya cerdas. Tugas-tugasnya selalu dapat diselesaikan dengan baik. Sayang ada satu cacatnya, ia judes dan kasar.

Suatu hari ada tamu penting dating menemui bosnya. Tamu tersebut bertanya kepadanya, apakah bosnya ada. Ia menjawab ada tetapi tanpa mengalihkan pandangannya dari komputer di depan matanya. Rupanya tamu tadi kurang mendengar sehingga bertanya lagi. Mungkin saking jengkelnya karena merasa terganggu dijawab dengan kasar, “Ada. Silahkan masuk!”.

Beberapa saat kemudian ia dipanggil bosnya. Di depan tamu tadi ia dimarahi habis-habisan dan disuruh minta maaf. Dengan ketakutan ia menyalami tamu yang ternyata seorang mitra bisnis bosnya. Ia minta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya kembali. Namun dirinya sudah cacat, meskipun bosnya nampaknya memaafkan dirinya, tetapi ia merasa bosnya sudah berubah kepadanya.

Tutur kata yang halus dan sopan merupakan pintu pembuka dalam bergaul dengan orang lain. Orang akan menaruh simpati pada diri kita jika kita senantiasa dapat mengendalikan ucapan kita. Tutur kata yang halus dan sopan akan membuat diri kita disenangi baik kawan maupun atasan. Tugas-tugas akan menjadi lancer dikerjakan jika kita selalu berkomunikasi menggunakan kata-kata yang berkualitas yang diucapkan dengan halus dan sopan.

Bagaimanakah Wujud Manusia Modern?

Bagaimanakah Wujud Manusia Modern?

Ilmu psikologi menemukan bahwa secara umum manusia hidup 80% dipengaruhi oleh alam sadarnya, sedangkan 15% dipengaruhi oleh alam pra sadar, lalu sisanya dikontrol oleh alam bawah sadarnya. Penemuan ini selaras dengan teori hirarki kebutuhan Maslow, bahwa motivasi dasar manusia adalah memenuhi kebutuhan fisiologis untukbertahan hidup. Penelitian tersebut kemudian diperkuat lagi oleh prinsip ekonomi universal, mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya dengan menggunakan sumber daya sekecil-kecilnya. Singkatnya, manusia adalah mahluk ekonomi yang materialistis dan selalu mencari peluang dengan kemampuan rasionalnya untuk mendapatkan bagian yang lebih besar.

Perkembangan trend ekonomi global mungkin merupakan jalan keluar bagi kebutuhan manusia modern untuk terus memenuhi ambisi dan keinginannya, dengan cara menghapus batas dan norma kedaerahan lalu berkembang berekspansi mencari sasaran empuk ditempat lainnya. Agar dapat menang pada situasi seperti ini maka strategi yang dipilih pun digerakan oleh motivasi dan hasrat untuk menjadi nomor satu, individual, keserakahan, rasa takut, dan keresahan.

Dengan demikian sekalipun seluruh penjuru dunia telah dikuasai, manusia tidak akan pernah selesai dalam memenuhi kebutuhan ekonominya. Mungkinkah pada saatnya nanti dunia menjadi terlalu kecil bagi manusia?

Seandainya di kemudian hari ditemukan lebih dari satu dunia apakah cukup untuk memenuhi dahaga manusia? Dengan berkembangnya budaya tersebut, seperti apakah wujud manusia modern kelak? Kita semua mungkin sependapat, bahwa evolusi suatu budaya merupakan warisan dari kebiasaan atau norma-norma budaya sebelumnya. Dengan berpikir bahwa manusia adalah mahluk ekonomi, maka secara tidak kita sadari dan tersirat kita menginginkan generasi berikutnya seperti layaknya pemburu yang termotivasi hanya hidup untuk memenuhi selera membunuh buruan sebanyak-banyaknya. Pada akhirnya hasil buruan itu disajikan untuk menjadi alasan memenuhi kewajiban nilai kemanusiaan yang kita miliki, kasih sayang.

Kesimpulannya, secara turun temurun kita telah berperan dalam mencetak bentuk dan takdir manusia modern yang bertentangan dengan nilai-nilai dasar kita untuk saling peduli dan adil. Mungkinkah waktunya sudah terlambat?

Team Kerja Virtual Dan Dunia Kerja Masa Depan

Team Kerja Virtual

Kemampuan bersosialisasi dan bekerjasama yang tinggi dari para professional membuat mereka mampu membentuk kelompok kerja virtual. Berkumpul dan membentuk team saat ada pekerjaan yang harus ditangani dan membubarkan diri ketika pekerjaan tersebut telah selesai. Team kerja virtual seperti itu hanya bisa dibentuk oleh para professional yang sudah bisa bertindak sebagai agen indenpenden bagi dirinya sendiri. Mereka hanya jadi terikat ketika sedang menangani suatu proyek yang dikerjakan oleh team virtual.

Para professional yang sudah menjelma menjadi agen-agen bebas itu telah melahirkan dunia kerja baru yang kurang lebih berfungsi seperti sistem kekebalan. Ketika sel-sel bebas tersebut berkeliaran sebagai individu untuk mendeteksi suatu kebutuhan yang mendesak, secara spontan mereka akan berkumpul dan membentuk sebuah organisasi virtual dengan kerjasama yang sangat kuat untuk menangani pemenuhan kebutuhan tersebut. Setelah pekerjaan tersebut selesai ditangani, agen-agen bebas tersebut kembali berkeliaran masing-masing untuk mendeteksi kebutuhan mendesak lainnya. Begitulah seterusnya.

Kemudahan dan keakraban dalam menggunakan perangkat telekomunikasi menjadi sarana jitu untuk saling menghubungkan agen-agen tersebut jika suatu saat dibutuhkan. Dalam konteks organisasi, kelompok kerja virtual ini, yang masing-masing merupakan perpaduan sejumlah bakan dan keahlian khusus, bisa muncul dan melintasi batas-batas organisasi konvensional seperti yang terdapat pada perusahaan umumnya.

Modus kerja seperti itu sudah umum dan sejak lama terjadi pada industri hiburan, dengan dibentuknya sebuah organisasi semu selama penanganan suatu proyek, yang kemudian bubar setelah proyek tersebut selesai dikerjakan. Menurut para pengamat dunia kerja, ini akan menjadi standard dunia kerja masa depan.

Team kerja virtual bisa sangat luwes dan terampil karena memang dipimpin oleh siapa saja yang memiliki keahlian dan keterampilan yang paling diperlukan dalam penanganan suatu proyek. Bukan oleh seseorang yang kebetulan menduduki jabatan manager dalam perusahaan. Kelompok kerja khusus sekarang makin disukai oleh banyak perusahaan. Ini dikarenakan kemampuan mereka dalam menggali kemampuan-kemampuan yang sebelumnya tersembunyi dan menjadi muncul ke permukaan melalui acara-acara bebas untuk berbincang dan bertukar informasi atau gagasan.

Kini pertanyaannya adalah, apakah dunia kerja baru tersebut akan bertambah suram karena tekanan pekerjaan yang terus-menerus hingga merampas kesempatan kita untuk menikmati hidup ini? Apakah ada cara-cara yang bisa digunakan untuk membuat pekerjaan kita menjadi menggairahkan, memuaskan, dan mendewasakan? Karena bagaimana pun kita adalah manusia dengan sifat kemanusiaannya, bukan robot yang bagaimana pun canggihnya tetap tanpa emosi dan keinginan.

Kamis, 25 Oktober 2012

Cermin

Cermin

Semua orang mengenalnya, bahkan suka kepadanya. Tiada satu rumah, betapapun fakirnya sang pemilik, pasti ia punya benda yang satu ini. Begitu lekat benda ini dengan kehidupan kita, seakan ia adalah bagian dari hidup kita yang tak terpisahkan.

Kala becermin, kita curahkan seluruh perhatian kepadanya. Dengan penuh ketulusan hati, kita ikuti kritik dan nasihat-nasihatnya. Setelah itu, dengan kritik dan nasihat yang ia berikan, kita tampil dengan penuh percaya diri dalam panggung kehidupan ini.

Aktivitas bercermin kadang kita lakukan lebih dari sekali sehari, dan setiap kali kita lakukan, setiap kali pula kita peroleh kritik dan nasihat darinya. Semua itu, kita terima dengan penuh keikhlasan, tanpa merasa kritik atau nasihat itu menyakitkan hati.

Lalu, apa hikmah yang bisa kita ambil dari cermin? Nabi Muhammad saw menunjukkan kepada kita lewat hadis riwayat Iman At Tarmudzi. Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw bersabda, "Sesungguhnya setiap kalian adalah cermin bagi saudaranya, Maka, apabila ia melihat noda pada dirinya, hendaklah dibuangnya". Dalam riwayat Abu Dawud, hadis tersebut lebih dipertegas bahwa seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin yang lain.

Alangkah indahnya bila kita bisa bercermin kepada saudara kita tentang berbagai kebaikan yang dilakukannya. Demikian pula sebaliknya, mencoba menghindari serta mengoreksi saudara kita manakala berbuat keburukan. Dan ketika saudara kita memberi nasihat atau kritik, tak pernah terbesit dalam hati serta pikiran kita tentang niat buruk atas nasihat atau kritik tersebut. Yang ada, kesadaran bahwa itu hanya perwujudan dari keikhlasan seorang mukmin melihat saudaranya senantiasa selalu dalam kebaikan.

Sebaliknya, bila kita melihat salah seorang saudara kita berbuat kurang baik, adalah kewajiban untuk memberi nasihat dan kritik, ibarat bercermin, tak mau melihat wajah ’bayangan’ kita tercoreng atau kotor akibat lumpur atau kotoran’ dosa. Tentu saja, semua nasihat atau kritik disampaikan dengan penuh kelembutan dan kata-kata baik. Bukan persoalan kita lagi, bila nasihat dan kritik telah tersampaikan, namun ’wajah kotor’ tak hendak dibersihkan. Sebagaimana layaknya cermin, kita hanya berfungsi sebagai pantulan dari wajah sesungguhnya seorang mukmin, wajah penuh kebaikan. Untuk itu, tidak ada kata bosan dalam hal ini ketika mengingatkan saudara kita agar tetap dalam wajah terbaiknya sebagai seorang mukmin.

Berkaitan dengan upaya tersebut, Rasulullah saw juga mengingatkan agar pandai-pandai dalam memilih teman. Teman adalah cermin kepribadian seseorang. Sifat baik seseorang sangat tergantung kepada siapa ia berteman. Sebaliknya, sifat jahat dari teman akan memantul dalam diri seseorang kendati dirinya muslim. Bahkan, mengenali seseorang bisa dilakukan lewat pengenalan teman dekatnya. Bila demikian, sudahkah kita menjadi cermin terbaik bagi orang lain lewat semua kebaikan yang kita perbuat?

Organisasi : Kepemimpinan, Managemen Dan Struktur

Organisasi : Kepemimpinan, Managemen Dan Struktur

Sering disebutkan, bahwa pada era kompetisi saat ini setiap perusahaan harus berjuang untuk mendapatkan kinerja sesuai harapan. Untuk mendapatkan kinerja tersebut strategi pada umumnya memfokuskan pada ancaman external seperti, pertumbuhan perekonomian globalisasi yang kian melemah, atau biaya sumber daya yang semakin hari semakin meningkat, yang sebenarnya hal tersebut itu di luar jangkauan kendali mereka. Namun akar permasalahan yang menghambat kinerja tinggi sebenarnya secara internal dapat ditemukan pada 3 kategori dasar, yakni; leadership, performance management system, dan organization structure.

Berdasarkan hasil laporan penelitian dari Hay Group menunjukkan bahwa keberhasilan kepemimpinan mendorong iklim dalam berorganisasi, mereka memberikan energi, motivasi, serta budaya kerja yang secara dramatis dapat meningkatkan kinerja. Berarti peran seorang pemimpin dalam operasional, sebagai penyelia atau pembimbing, dan, kolaborator menjadi sangat kritikal untuk kemajuan kerja dalam sebuah tim/organisasi. Karena faktor kesanggupan (can-do) yang mencakup pengetahuan, ketrampilan, dengan factor kemauan (will-do) mencakup motivasi, minat, karakter, akan menghasilkan kinerja pekerjaan.

Kemudian bila kita evaluasi, tiap individu di dalam berorganisasi pada umumnya akan bekerja atas sebuah nilai yang diukur, apakah itu dalam wujud material, financial, pengalaman, pekerjaan, atau prestasi. Tetapi permasalahan dalam mengelola penilaian tadi kerap kali muncul dan terjadi apabila ukurannya tidak tepat, atau individu tersebut tidak memiliki sudut pandang yang jelas antara target yang harus dia selesaikan, dengan gambaran besar mengenai maknanya keberhasilan pekerjaan itu terhadap kemajuan kinerja perusahaan / organisasi.

Kembali, jabatan harus didesain sedemikian rupa bersamaan dengan peran, tanggung jawab, dan wewenang apa yang akan didelegasikan untuknya. Pada akhirnya, bila jabatan dan struktur organisasi tidak cukup mendukung tumbuhnya akselerasi kinerja sesuai strategi bisnis perusahaan maka semuanya akan menjadi kacau, dan secara umum, ketidakberfungsian tersebut akan menjalar keseluruh organisasi. Ketiga faktor ini, harus ter-koordinasi dengan baik agar tercapai dan memberikan kinerja yang menonjol.

Jika Seorang Bintang Mengambil Keputusan

Jika Seorang Bintang Mengambil Keputusan

Pada awal dasawarsa 1970an, pada saat memuncaknya protes dari para mahasiswa hampir di seluruh dunia untuk menentang Perang Vietnam, seorang wanita yang bekerja sebagai pustakawan pada sebuah kantor US. Information Agency di luar negeri menerima kabar buruk bahwa sekelompok mahasiswa mengancam akan membakar perpustakaan yang dikelolanya. Wanita itu beruntung karena memiliki beberapa teman dari aktifis mahasiswa yang menyampaikan ancamannya itu.

Semula tindakan yang diambilnya mungkin dianggap aneh. Si Pustakawan mengundang kelompok mahasiswa itu mengggunakan fasilitas perpustakaan untuk digunakan sebagai sarana beberapa pertemuan mereka. Tapi selain itu, ia juga menghubungi beberapa warga Amerika yang tinggal di negeri itu untuk bisa hadir di tempat itu dan mendengarkan pertemuan yang dilakukan oleh para aktifis tersebut. Timbulnya konfrontasi yang sudah dibayangkan banyak orang bakal terjadi pada pertemuan di perpustakaan itu ternyata tidak ada sama sekali. Justru dialog yang terbuka malah terjadi di antara mereka.

Dengan memanfaatkan hubungan pribadinya dengan beberapa tokoh aktifis mahasiswa yang dikenalnya dapat dipercaya dan juga bisa mempercayai dirinya, wanita pengelola perpustakaan tersebut berhasil melakukan semua itu. Dialog yang terjadi telah berhasil membuka saluran-saluran yang semula tersumbat. Sumbatan yang menimbulkan saling curiga. Proses dialog yang akhirnya membuat mereka yang hadir pada pertemuan di perpustakaan tersebut bisa saling memahami. Hal ini membuat rasa kebersamaan dan keakraban antara beberapa pihak dengan para aktifis mahasiswa. Dan perpustakaan itu pun selamat.

Wanita tadi berhasil memperagakan keahlian seorang penghubung, negosiator, penengah dan sekaligus agen perdamaian. Ia mampu membaca situasi yang mendadak berubah dan ketegangan yang makin memuncak dan berusaha menyatukan perbedaan yang tiba-tiba muncul ke permukaan. Tempatnya bekerja itu terhindar dari aksi pengrusakan seperti yang dialami oleh kantor-kantor perwakilan Amerika lainnya yang ditangani oleh orang-orang yang kurang terampil dalam menangani hubungan antar manusia.

Oleh Prof. David McClelland, sang Pustakawan tadi di-identifikasikan sebagai "super bintang" yang merupakan hasil penyaringan yang dilakukan oleh team yang dipimpin oleh si Profesor. Hasil penyaringan itu menghasilkan sebuah makalah yang membuat lahirnya revolusi dalam pola fikir tentang pangkal keberhasilan.

Pada awal abad ke-20, Frederick Taylor yang kemudian diikuti oleh banyak ahli, membahas secara mendetail dunia kerja. Melakukan analisa pada gerakan secara mekanis paling efisien tentang apa saja yang dapat dilakukan oleh tubuh seorang pekerja. Konsekwensinya, kerja manusia disamakan dengan mesin. Tidak lama kemudian paham Taylorisme digantikan oleh standard baru untuk melakukan test IQ. Keunggulan seorang pekerja dinilai dari kemampuan otaknya. Hal itu tidak lama berlangsung saat pemikiran Freud mulai mempengaruhi bahwa selain IQ, ternyata kualitas kepribadian dianggap menjadi unsur yang sangat penting untuk mencapai keberhasilan. Anda mungkin sering mendapati bahwa orang-orang yang tidak memiliki latar-belakang akademis yang bagus ternyata sering masuk dalam golongan orang-orang yang memiliki standard sukses. Cara memandang permasalahan dan daya juang seseorang lebih banyak ditentukan oleh kepribadian dan kebiasaan yang dijalaninya. Bukan pada teori-teori yang didapat dari buku.

Selasa, 23 Oktober 2012

Incentive Strategi Kedermawanan Korporat

Incentive Strategi Kedermawanan Korporat

Banyak usaha yang dilakukan oleh sebuah perusahaan guna menjaga kelangsungan bisnisnya. Dari mulai penerapan strategi manajemen yang lebih kompetitif, quality improvement, penggunaan teknologi yang modern, bisnis proses yang lebih pendek, dan berdaya guna. Namun hal demikian belumlah sempurna bila dalam mendapatkan keuntungan di satu sisi, menimbulkan dampak atau kerugian di sisi lainya. Kasus Buyat yang sempat mengemuka di surat-surat kabar merupakan satu contoh dimana perusahaan harus juga menjaga lingkungannya agar tetap sehat, aman, dan memberikan incentive bagi lingkungan.

Incentive? Incentive dalam kamus oxford adalah "something that encourage action or effort", yang berarti sesuatu yang dapat memberikan rangsangan untuk maju dan berusaha. Contoh konkrit salah satunya adalah dengan memberdayakan usaha-usaha kecil yang dikelola oleh masyarakat seperti program Community Development. Tujuan dilakukannya program tersebut adalah agar masyarakat dapat mengelola usahanya dengan lebih baik, melalui pelatihan-pelatihan pemberdayaan, manajemen, pengoprasian peralatan-peralatan modern, sampai dengan menginvestasikan tenaga untuk bekerja sama dengan masyarakat membangun sarana atau prasarana yang dapat digunakan untuk kepentingan orang banyak.

Belakangan ini telah muncul sebuah trend baru khususnya di perusahaan perusahaan besar di Amerika. Pepatah bahwa barang siapa menanam benih, ia akan menuai hasilnya ternyata sampai juga ke negara yang biasa dijuluki Paman Sam tersebut. Hal tersebut dinamakan kedermawanan global, atau di Indonesia dikenal dengan nama Corporate Social Responsibility. Intel Corporation, salah satu contoh perusahaan komputer terkenal membangun balai komputer yang menyediakan akses internet dan pelatihan teknologi untuk anak-anak di 32 negara.

Pfizer Incorporate, salah satu perusahan farmasi terbesar didunia juga mempunyai program yang dinamai Global Health Fellows membuat program pelatihan dengan ikut menangani kesehatan publik di Uganda. Alasannya adalah dengan meningkatnya sentimen anti-amerika, maka tidak ada cara lain untuk mereka selain lebih proaktif memberikan incentive kepada masyarakat baik sekitar maupun di luar. Hal tersebut juga memiliki nilai tambah bagi perusahaan sebagai jaminan sosial di era dimana berita negatif sebuah perusahaan bisa beredar ke seluruh penjuru dalam sekejap. Inilah suatu bentuk usaha meningkatkan korporat image di mata lingkungan dan terutama pesaing, melunakkan serangan yang mungkin muncul terhadap reputasinya.

Kedermawanan meningkatkan kemungkinan untuk membuat pelanggan menganggap perusahaan adalah warga negara korporat yang baik. Selain CSR tersebut sebelumnya tanggung jawab korporat terhadap lingkungan telah di pelopori dengan program-program seperti system manajemen lingkungan, PROKASIH, PROPER, dan yang lebih dikenal dalam hal sertifikasi lingkungan internasional ISO 14000.

Lalu bila perusahaan melakukan tanggung-jawabnya terhadap lingkungan sekitar agar mendapatkan citra baik di masyarakat dan pelanggan, maka apa strategi kita agar memiliki citra baik di mata perusahaan?