Cari di Blog Ini

Kamis, 17 Mei 2012

15 Teknologi Yang Bakal Tidak Digunakan Lagi

Teknologi
Nomor telepon akan segera ditinggalkan oleh konsumen teknologi pada masa mendatang seiring dengan inovasi dan kehadiran produk-produk baru. "Ketika anak saya tumbuh setinggi rak server komputer, saya terpikir akan semua perangkat elektronika yang tidak lagi dia pakai meskipun pernah sangat berarti bagi ayahnya," tulis Pengamat teknologi dari Amerika Serikat, Avram Piltch, seperti dikutip laptopmag.

Piltch menyebutkan 15 peralatan dan konsep teknologi yang masih dipakai saat ini di Amerika, misalnya nomor telepon, tapi tidak akan dipakai lagi dalam beberapa waktu mendatang. Kelimabelas teknologi itu yakni:
  1. kabel internet rumahan seiring dengan perkembangan layanan komunikasi pita lebar (broadband)
  2. kamera foto dan video akibat merebaknya fitur kamera pada telepon selular pintar (smartphone)
  3. Jaringan telepon kabel setelah layanan telepon nirkabel meningkat
  4. komputer dengan waktu 'booting' lama karena semakin banyak perangkat komputer berakses cepat
  5. sistem operasi komputer 'berjendela' selepas Microsoft mengembangkan Windows 8 dengan fitur kotak pengguna antarmuka (user interface) yang dapat ditarik pada layar.
  6. penyimpanan hard drive yang akan diganti sarana penyimpanan berbasis solid (solid-state storage)
  7. bioskop karena orang sudah bisa dengan mudah menonton film melalui banyak media
  8. kacamata tiga dimensi seiring dengan merebaknya televisi dengan kualitas layar tinggi (high definition) dan perangkat suara tiga dimensi
  9. peralatan penunjuk atau tetikus (mouse) setelah ditemukan layar dengan kemampuan sentuh
  10. pengendali jarak jauh (remote control) karena perkembangan kendali dengan gerakan tangan dan suara semakin pesat
  11. nomor telepon yang akan diganti dengan obrolan melalui internet dengan kemampuan video seperti Skype, Google Talk, ataupun Facebook audio
  12. waktu utama pada stasiun televisi setelah sejumlah situs televisi menyediakan tayangan via internet (streaming)
  13. mesin faksimili yang sampai sekarang juga sudah mulai diganti surat elektronik (e-mail)
  14. cakram optik (optical disk) yang akan diganti layanan komputasi awan (cloud)
  15. komputer meja (desktop) setelah sejumlah perangkat genggam elektronik seperti tablet dan ponsel pintar berkemampuan setara komputer meja.
www.gatra.com

Selasa, 08 Mei 2012

PLTN Indonesia Masih Harus Tempuh Perjalanan Panjang

Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir
Siapkah Indonesia hadapi bahaya laten PLTN?

Di tengah semakin gencarnya pemerintah Indonesia mempromosikan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Bangka, Jepang malah memadamkan reaktor PLTN terakhir yang masih aktif di negara itu awal Mei ini. Pemadaman PLTN di Jepang dipicu oleh sikap rakyat negara itu yang mulai semakin tidak percaya pada keamanan PLTN menyusul bencana yang melanda PLTN Fukushima pada 2011. PLTN memasok 30 persen kebutuhan listrik Jepang. Pemerintah negara itu sebenarnya menginginkan PLTN bisa segera dihidupkan kembali, namun tekanan masyarakat begitu kuat untuk melawannya.

Di Indonesia, sikap masyarakat juga lah yang membuat rencana PLTN yang digulirkan lebih dari 20 tahun lalu, tidak kunjung dapat diwujudkan. Menurut Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta beberapa waktu lalu, soal sikap masyarakat itu pula yang sedang ditunggu pemerintah untuk mewujudkan PLTN. "Pemerintah sudah siap untuk membangun pembangkit nuklir. Namun masyarakat kita belum siap," kata Gusti Muhammad Hatta dalam kunjungan kerja di Kabupaten Lebak, akhir Februari. Pernyataan itu juga diulangi pada kunjungannya ke ITB, Bandung, April.

Frasa "kesiapan masyarakat" yang disebut Menristek bisa diterjemahkan sebagai wujud dari masih adanya gelombang penolakan terhadap pembangkit listrik tenaga nuklir. Diskusi soal penerimaan atau penolakan PLTN langsung muncul begitu pemerintah Orde Baru menggulirkan rencana pembangunannya. Penolakan yang masif dan terencana dengan baik muncul dari warga Jawa Tengah yang terus-menerus dan teratur menolak pembangunan PLTN di Semenanjung Muria, Jepara.

Semenanjung Muria adalah tempat yang dinilai tepat bagi berdirinya reaktor PLTN hasil kajian konsultan asal Jepang, New Jec, yang selesai pada 1996. Studi tapak yang dilakukan New Jec itu berbiaya Rp22 miliar. Gelombang penolakan masyarakat terhadap rencana pemerintah itu terus marak dan bisa dibilang tidak putus dari tahun ke tahun, baik di Jakarta maupun di daerah setempat. Isu PLTN sempat terhenti beberapa tahun. Maka, ketika pada 2011 pemerintah kembali mempromosikan PLTN dan daerah yang disebut sebagai lokasi berdirinya reaktor itu bukan di Semenanjung Muria, bisa diterjemahkan bahwa PLTN Muria berakhir nasibnya. Belum ada keterangan resmi dari pemerintah soal itu. Namun, menurut pegiat Marem, organisasi penolak PLTN Muria, Lilo Sunaryo PhD, dia menerima informasi dari Batan bahwa Semenanjung Muria tidak lagi menjadi tapak prioritas bagi PLTN.

Titik Nol

Berpindahnya bakal PLTN ke Bangka mau tidak mau membuat pemerintah kembali ke titik nol dan bakal menghadapi masalah serupa dengan yang dihadapi PLTN Muria. Pemerintah, tentunya, kembali harus melakukan studi tapak untuk memilih daerah yang tepat bagi berdirinya reaktor dan, tentu saja, harus menghadapi penolakan masyarakat setempat. Penolakan itu sudah dimulai.

Dalam merencanakan suatu proyek penggunaan energi nuklir, suara masyarakat memang sangat penting untuk didengar, seperti yang dilakukan negara-negara Eropa Barat. Di negara-negara Skandinavia, misalnya, banyak reaktor riset nuklir yang ditutup akibat adanya protes dari masyarakat.

Menurut pakar nuklir AS, Ivan Selin, dalam suatu ceramahnya di Jakarta, beberapa tahun lalu, kedudukan "public hearing" dalam penentuan pembangunan PLTN di Amerika Serikat sangat kuat dan penting. Komisi Regulator Nuklir AS dalam "public hearing" melakukan diskusi dengan anggota legislatif, menteri terkait, dan LSM yang memiliki komitmen pada masalah penggunaan nuklir. Selain itu, pembangunan tenaga nuklir hanya akan berhasil jika dibarengi dengan keberadaan peraturan yang keras. Hal itu sudah dibuktikan oleh negara Eropa Barat, Jepang, Korea, dan Taiwan, yang sejak semula telah membangun infrastruktur keselamatan nuklir, sebelum pengembangan PLTN. Dunia banyak belajar tentang pentingnya keselamatan infrastruktur keselamatan nuklir dari kecelakaan nuklir di Three Mile Island dan Chernobyl.

Sedangkan dari kebocoran reaktor nuklir Fukushima, orang melihat betapa infrastruktur keselamatan yang dimiliki Jepang keteteran saat menghadapi kecelakaan akibat tsunami yang kedahsyatannya di luar perkiraan manusia. Orang di seluruh dunia melihat, tingkat kedisiplinan orang Jepang yang tinggi dan infrastruktur keselamatan negeri itu yang andal jadi terkesan lamban dalam mengatasi kebocoran reaktor itu. Akibatnya, tingkat kepercayaan masyarakat Jepang turun drastis pada keamanan PLTN. Maka, sejak Mei 2012, Jepang hidup tanpa PLTN; entah sampai kapan.

Melihat sejumlah kasus itu, pemerintah Indonesia sebenarnya tak perlu lagi mempromosikan kecanggihan teknologi PLTN dan keefektifan reaktor itu dalam menghasilkan listrik. Secara teknologi, pendukung dan penolak memiliki pengetahuan yang sama soal kecanggihan reaktor nuklir dengan persepsi berbeda. Yang perlu diketahui masyarakat sebenarnya adalah justru upaya pemerintah dalam menyiapkan infrastruktur keselamatan PLTN. Dalam kalimat lain, promosi pembangunan PLTN harus disertai dengan skenario yang memperlihatkan kesigapan aparat menangani segala permasalahan jika kecelakaan terjadi.

Melihat sejumlah kasus, maka, pembangunan reaktor nuklir untuk PLTN harus dibarengi dengan kesiapan menghadapi dan menangani kecelakaan rektor itu. Ada bahaya laten kecelakaan dibalik kecanggihan PLTN. Soal itu tentu saja termasuk kesiapan menangani limbah radioaktif yang dihasilkan reaktor PLTN. Masalah itu yang harus didiskusikan secara terbuka, karena risiko yang timbul saat adanya kecelakaan di reaktor nuklir memang selalu sangat mengerikan.

BJ Habibie, beberapa saat setelah disahkannya UU Ketenaganukliran, 1997, menyatakan bahwa UU itu justru dibuat untuk mempersulit pendirian PLTN. Ilmuwan itu memang tidak membahas lebih jauh alasan mengenai pernyataannya itu. Tapi, itu bisa diterjemahkan bahwa pembangunan reaktor PLTN tidak bisa dianggap sebagai pekerjaan yang mudah. Pekerjaan itu harus dianggap sebagai sesuatu yang luar biasa dan ditangani secara luar biasa pula.

Siapkah pemerintah mendiskusikan berbagai hal yang terkait infrastruktur keselamatan PLTN?

www.antaranews.com