Cari di Blog Ini

Sabtu, 17 Maret 2012

Penelitian Ulang Neutrino Membenarkan Pernyataan Einstein, Tak Ada Yang Lebih Cepat Dari Cahaya

Neutrino
Einstein Benar, Tak Ada yang Lebih Cepat dari Cahaya

Tim peneliti ICARUS pimpinan Carlo Rubia yang melakukan eksperimen ulang tentang neutrino menemukan bahwa neutrino bergerak tak lebih cepat dari kecepatan cahaya. "Hasil penelitian sangat meyakinkan dan memberi tahu kita bahwa ada yang tidak beres dengan temuan OPERA," kata Rubia seperti dikutip AP, Jumat (16/3/2012).

September 2011 lalu, tim yang tergabung dalam eksperimen Oscillation Project with Emulsion-tRacking Apparatus (OPERA) menemukan bahwa kecepatan neutrino melebihi cahaya (300.000 km/detik). Neutrino adalah partikel dasar dengan massa yang sangat kecil. Partikel ini tercipta dari peluruhan radioaktif, reaksi fusi yang terjadi di matahari atau reaktor nuklir atau ketika sinar kosmik menabrak sekelompok atom.

Dalam penelitian yang dilakukan di Gran Sasso National Laboratory, Italia, di kedalaman 1.400 meter, peneliti menguji neutrino yang ditembakkan dari Laboratorium Organisasi Eropa untuk Riset Nuklir (CERN), Swiss. Tim OPERA menemukan bahwa neutrino bergerak 60 nanodetik lebih cepat dari cahaya. Temuan ini menggegerkan sebab Albert Einstein menyatakan bahwa tak ada partikel yang bergerak lebih cepat dari cahaya.

Beberapa peneliti meragukan temuan tersebut dan menganggapnya hal yang tidak mungkin. Banyak pihak yang menyebutkan adanya kesalahan, baik dalam instrumen maupun tata cara penelitian. Tim peneliti lain kemudian mencoba melakukan eksperimen ulang untuk membuktikan kebenaran hasil tim OPERA. Salah satu upaya pembuktian dilakukan tim ICARUS. Tim ICARUS melakukan eksperimen menggunakan 600 ton-4300 argon cair untuk mendeteksi kedatangan neutrino yang dikirimkan pada kedalaman 730 km dari CERN.

Menegaskan kembali hasil penelitian, Sandro Centro, juru biacara tim ICARUS, mengungkapkan bahwa kecepatan gerak neutrino sama dengan kecepatan cahaya, dengan sedikit deviasi. "Sekarang kita 100 persen yakin bahwa kecepatan cahaya adalah kecepatan neutrino," ungkap Centro seperti diberitakan BBC, Jumat kemarin.

Menurut Centro, temuan kontroversial tim OPERA adalah buah dari ketidakcermatan dalam penelitian, seperti yang sempat diakui sendiri oleh tim OPERA pada bulan Februari 2012. Diberitakan Nature pada 22 Februari lalu, OPERA menyakatan bahwa kesalahan pengukuran bisa diakibatkan oleh kesalahan koneksi yang berpengaruh pada hasil bacaan GPS dan jam master OPERA.

Hasil penelitian ICARUS tentu sedikit melegakan, terutama bagi yang tak percaya hasil riset OPERA. Kini, ilmuwan bisa yakin bahwa teori Einstein belum terbantahkan.

Menanggapi hasil penelitian ICARUS, Antonio Ereditato yang merupakan anggota OPERA mengatakan, "Hasil ini sesuai dengan temuan terbaru kami bahwa ada komponen yang tak berfungsi dalam eksperimen kami."

Ditanya apakah tim OPERA kecewa dengan hasil terbaru riset neutrino, Ereditato menuturkan, "Beginilah ilmu pengetahuan bekerja. Apa pun itu, semua adalah kemajuan dalam pengetahuan kita secara global."

sains.kompas.com

Selasa, 06 Maret 2012

Indonesia Kembangkan Teknologi Sel Surya Sejak 1980, Tapi Hingga Kini Belum Punya Industrinya

Pembangkit Listrik Tenaga Surya
Indonesia harus bangun industri sel surya

Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Marzan Azis Iskandar mengatakan Indonesia harus membangun industri sel surya untuk memenuhi kebutuhan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan mengurangi ketergantungan impor sel surya. "Indonesia sudah mengembangkan teknologi tenaga surya sejak 1980, tapi sampai sekarang belum ada industrinya sehingga kita tergantung dengan produk impor," kata Marzan pada peluncuran hasil studi kelayakan industri sel surya di Indonesia, di Jakarta, Selasa.

Indonesia mempunyai potensi energi surya yang sangat besar yaitu 4,8 kWh/m2/ hari setara dengan nilai peak sun hour (PHS) sebesar 4,8 jam/hari tapi pemanfaatan untuk energi masih sangat rendah. Tercatat hingga 2011 total aplikasi baru mencapai 17 MWp. Jika dibandingkan dengan kapasitas terpasang pembangkit listrik di Indonesia sebesar 33,7 GW, maka kontribusi tenaga surya untuk pembangkit listrik baru sebesar 0,05 persen.

Berdasarkan Perpes No 5 Tahun 2006 pemerintah sudah mencanangkan target memperbesar kontribusi sumber energi terbarukan dalam bauran energi sampai dengan 17 persen termasuk tenaga surya sebesar 0,2-0,3 persen pada 2025. Menurut Marzan, untuk mengejar target tersebut diperlukan sekitar 0,8-1,0 GW kapasitas terpasang PLTS. Maka diperlukan penambahan kapasitas 65 MW per tahun tapi pemanfaatannya masih rendah hanya 2,5 MW per tahun. "Untuk memenuhi target itu kita harus membangun industri sel surya karena tidak mungkin sel surya kita impor semua. Karena itu, BPPT melakukan studi kelayakan pembangunan industri sel surya di Indonesia dan dari empat teknologi yang diuji kristalin silicon yang paling tepat," kata Marzan.

Menurut Marzan, saat ini Indonesia masih mengimpor komponen teknologi sel surya hingga 60 persen.

Hasil studi menunjukkan teknologi kristalin silikon lebih dipilih dibandingkan Thin Film sebab teknologinya lebih baik, dari pertimbangan biaya investasi kristalin silikon lebih kecil sebab bisa dibagi menjadi beberapa industri tersendiri. Setelah dihitung, investasi industri surya menggunakan kristalin silikon sebesar 45,2 juta US dolar mampu menghasilkan 60 MW. Sementara jika mengimpor harga sel surya mencapai satu juta dolar per watt peak.

Disamping itu, kristalin silikon mempunyai masa pemanfaatan yang lebih panjang mencapai 25 tahun dibandingkan Thin Film yang rata-rata hanya 10-15 tahun. "Dengan adanya industri, kita juga bisa mengendalikan kualitas sehingga ke depan sel surya yang beredar di Indonesia yang berkualitas baik," kata Marzan.

www.antaranews.com