Cari di Blog Ini

Rabu, 29 Februari 2012

Indonesia-Jepang Kembangkan Turbin Angin Tomonokaze Penghasil Energi Listrik

Turbin Angin Tomonokaze
BPPT-Jepang kerjasama kembangkan turbin angin

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bekerja sama dengan Jepang untuk mengembangkan teknologi turbin angin Tomonokaze yang mampu membangkitkan listrik dengan baik dari kondisi kecepatan angin yang rendah seperti di Indonesia. "Berbeda dengan Eropa yang rata-rata kecepatan anginnya sampai 12 meter per detik, di Indonesia kecepatan anginnya hanya 3 sampai 6 m/detik," kata Kepala BPPT Dr Marzan A Iskandar seusai Penandatangana nota kesepahaman (MoU) kerja sama dengan Jepang mengembangkan turbin angin Tomonokaze di Jakarta, Rabu.

Dengan kecepatan angin rendah, lanjut dia, turbin angin sulit berputar, atau kalaupun bisa berputar daya listrik yang dihasilkan sedikit, namun teknologi Tomonokaze mampu membuat turbin bisa berputar cepat meski dengan kecepatan angin 3-6 m/detik dan memberi daya yang juga lebih besar. Karena itu pihaknya bersama Tomo Wind Energy akan menguji kelaikan teknologi tersebut di Taman Teknologi Terbarukan di pantai Baron Yogyakarta sebanyak satu unit dengan kapasitas 4 kW. Saat ini di taman tersebut sudah ada pembangkit listrik tenaga bayu/angin (PLTB) 15 kW, surya 36 kW dan biofuel 25 kW. "Jika sudah dikembangkan sesuai dengan kondisi di Indonesia, Jepang berminat membangun industri turbin angin di Indonesia dengan material yang juga berasal dari Indonesia," katanya.

Selama ini, ujarnya, untuk memenuhi kebutuhan energi yang dibangkitkan dari angin, Indonesia mengimpor turbin, karena BPPT (laboratorium aerogasdinamika dan getaran) dan Lapan hanya memenuhi pesanan-pesanan kecil saja dimana investasi yang diperlukan 8 dolar AS per Watt. Saat ini Indonesia baru memanfaatkan energi angin sebesar kurang dari 2 MW, padahal potensinya 9.300 MW. Hanya saja potensi itu diakuinya tersebar di lokasi-lokasi terpencil misalnya di tepi pantai selatan Jawa dan Indonesia timur.

Sementara itu Deputi teknologi informasi energi dan material BPPT Dr Unggul Priyanto mengatakan keunggulan teknologi Tomonokaze terletak pada disainnya yang dilihat dari "blade" dan motornya, serta terletak pada materialnya yang ringan dan kuat dari bahan yang seluruhnya komposit.

Sementara itu, CEO Tomo Wind Energy Kazuki Nomoto mengatakan, pihaknya sudah mengembangkan teknologi turbin angin sejak 20 tahun lalu, sedangkan teknologi terbaru Tomonokaze adalah yang keempat. "Teknologi ini sudah dicoba dan terpasang di Kyusu yang kondisi kecepatan anginnya sangat rendah, hanya 1 meter/detik, setinggi 6 meter. Namun turbin ini bisa berputar dengan cepat," katanya sambil memperlihatkan foto.

Daya listrik yang dihasilkan dari PLTB ini, jelasnya, tergantung dari kecepatan anginya. Jika kecepatan angin hanya 4-5 m/ detik daya yang dihasilkan sekitar 10 kW per hari.

www.antaranews.com

Senin, 27 Februari 2012

Bayi Belajar Berbicara Dengan Cara Membaca Gerak Bibir

Bayi membaca gerak bibir

Sebuah penelitian mengungkapkan bayi menggunakan gerak bibir sebagai alat untuk memahirkan kemampuan berbicara. Selama ini banyak orang yang terbiasa melihat pandangan bayi yang serius ke mata pengasuhnya. Penelitian yang dilakukan Universitas Florida Atlantic ini menjelaskan hal yang terjadi di balik tatapan tersebut.

Ketika bayi berusia sekitar enam bulan, bayi mengalihkan pandangan dari mata ke arah mulut sehingga mereka bisa mempelajari kata-kata yang mereka dengar. Profesor David Lewkowicz yang memimpin tim peneliti mengatakan jika tahapan enam bulan sudah lewat, maka bayi lebih banyak membaca gerak bibir. "Bayi berkonsentrasi pada mulut orang yang berbicara dengan mereka selama beberapa bulan sampai ulang tahun pertama, sekitar 12 bulan, ketika mereka sudah memahirkan dasar suara dari bahasa mereka."

Penyebab autisme?

Setelah mengembangkan kemampuan suara, bayi kemudian kembali melakukan kontak mata. "Pada saat ini mereka akan melihat lebih banyak ke arah mata karena di situlah banyak informasi sosial tersedia. Di situ bayi bisa mengetahui yang dipikirkan orang, apa yang akan mereka lakukan pada masa mendatang dan seterusnya," tambah Profesor Lewkowicz.

Peralihan dari kontak mata ke gerak bibir dan kembali lagi ke mata membawa makna terjadinya komplikasi serius pada bayi-bayi yang tidak berhasil mengikuti tahapan tersebut, terlepas dari apapun penyebab kegagalan itu. Salah satu konsekuensinya adalah masalah dalam melakukan komunikasi sosial. "Jika bayi tidak melakukan peralihan kembali ke mata pada ulang tahun pertamanya, mereka tidak akan mampu berinteraksi sosial secara tepat dengan rekan sosialnya. Dan kita tahu anak-anak yang didiagnosa dengan autisme tetap melihat pada mulut pada usia dua tahun."

Tim peneliti Universitas Florida Atlantic menggunakan sebuah peralatan 'pelacak mata' yang memungkinkan mereka memonitor secara tepat dan terus menerus atas eksperimen pandangan bayi. Mereka berharap temuan ini bisa membantu untuk menjelaskan penyebab autisme.

www.bbc.co.uk