Cari di Blog Ini

Jumat, 09 November 2012

Telepati, Menembus Ruang Dan Waktu

Telepati
Seringkali kita mendengar cerita tentang orang yang tiba-tiba diserang rasa gelisah atau was-was tanpa sebab-sebab yang jelas. Padahal dirinya dalam keadaan baik-baik saja dan tidak sedang dalam masalah. Beberapa waktu kemudian dia baru mengetahui bahwa keluarga atau teman dekatnya telah mengalami musibah, dan musibah itu terjadi bersamaan saat dirinya tiba-tiba diserang rasa oleh gelisah itu. Seolah dia merasakan saat musibah itu sedang berlangsung. Bagaimana itu bisa terjadi? Padahal mereka berada di tempat yang berbeda, bahkan sering kali sedang terpisah oleh jarak yang sangat jauh. Mungkin banyak diantara pembaca yang pernah mengalami hal seperti itu. Banyak yang menyebut hal ini sebagai fenomena telepati. Apakah telepati itu memang benar-benar ada dan bisa dibuktikan secara ilmiah?

Menurut beberapa definisi yang ada, dapat disimpulkan bahwa telepati bisa diartikan sebagai usaha untuk berkomunikasi jarak jauh dengan menggunakan kekuatan fikiran atau perasaan. Tentunya tanpa perantara telepon, radio, atau peralatan komunikasi jarak jauh lainnya. Telepati merupakan istilah dari bahasa Yunani yang tersusun dari dua kata, yaitu tele yang berarti jauh dan pathos yang artinya kejadian atau perasaan. Istilah ini awalnya dipopulerkan di Perancis pada tahun 1882 oleh Fredric W.H. Myers, pendiri Society for Psychical Research (SPR). Menurut Myers, istilah telepati lebih tepat digunakan untuk menggantikan beberapa istilah serupa yang sebelumnya sudah ada. Misalnya Communication de Pensees, Thought-Transference, dan Thought-Reading. Untuk selanjutnya, telepati dan psikokinesis menjadi dua cabang utama dalam bidang parapsikologi.

Menurut penjelasan dalam bidang parapsikologi, telepati merupakan bentuk penginderaan diluar panca indera (mata, telinga, hidung, lidah, dan kulit) atau dikenal juga sebagai penyampaian informasi (pesan) yang ditransfer secara psikologis. Beberapa percobaan pernah dilakukan untuk menguji fenomena telepati ini. Yang paling terkenal adalah uji coba dengan menggunakan kartu Zener dan percobaan yang dinamakan Eksperimen Ganzfeld.

Kartu Zener merupakan kartu yang masing-masing kartu memiliki symbol tersendiri (tampak seperti pada gambar). Dalam uji coba ini melibatkan dua orang, satu orang sebagai pengirim pesan dan seorang lainnya sebagai penerima pesan. Pengirim pesan akan memilih salah satu kartu secara acak dan penerima akan berusaha menebak symbol kartu yang telah dipilih. Hasil uji coba dianggap bagus jika setelah berulang-ulang mendapatkan skor diatas 20%. Sayang sekali uji coba dengan cara ini belakangan dianggap memiliki kelemahan terhadap beberapa kecurangan yang mungkin saja dilakukan oleh orang-orang yang diuji coba kemampuan telepati-nya. Untuk mengatasi hal tersebut digunakan metode Ganzfeld. Si pengirim dan penerima pesan diletakkan pada tempat yang terpisah. Selanjutnya si pengirim mencoba menyampaikan beberapa pesan kepada si penerima. Setiap sesi percobaan akan selalu berubah pola pesannya.

Salah satu percobaan yang mungkin bisa dianggap cukup penting adalah percobaan yang dilakukan oleh astronot Edgar D. Mitchell pada misi Apollo-14 di tahun 1971. Mitchell melakukan percobaan dengan mengirimkan pesan telepatis kepada empat orang penerima di Bumi. Sebuah jarak yang terpisah sejauh 150.000 mil. Meskipun hasil dari percobaan ini masih belum sesuai dengan yang diharapkan, tapi ini sudah bisa memberikan sumbangan yang bagus untuk perkembangan penelitian di bidang parapsikologi. Bahwa jarak yang sangat jauh sekalipun bukan jadi penghalang untuk melakukan komunikasi menggunakan telepati.

Pada awal penelitian terhadap telepati, fenomena ini semula dianggap sebagai bagian dari atau sama dengan hipnotis. Tapi selanjutnya para peneliti menemukan bahwa kedua kemampuan itu adalah sesuatu yang berbeda. Dengan segera beberapa ahli dalam bidang ini merumuskan pendapat yang hamper sama. Sigmun Freud menyebutkan bahwa telepati adalah sebuah kemampuan berkomunikasi yang telah hilang seiring dengan berjalannya proses evolusi tapi sewaktu-waktu dapat timbul pada kondisi dan situasi tertentu. Psikiater Carl G. Jung merumuskannya sebagai fungsi Synchronicity.

Dalam banyak kasus yang ditemukan, fenomena telepati sering terjadi secara spontan, bukan disengaja. Misalnya usaha atau pengharapan yang dilakukan seorang korban kecelakaan untuk menyampaikan permintaan tolong pada orang-orang tertentu yang secara emosional dianggap dekat dengan dirinya. Dalam keadaan seperti itu, secara naluriah hal itu yang biasanya akan dilakukan. Telepati nampaknya berkaitan dengan kondisi emosional masing-masing pribadi. Hal ini jadi semacam persyaratan yang harus dimiliki oleh pengirim dan penerima pesan telepati. Pada beberapa kasus, ternyata wanita terbukti bisa menjadi pelaku telepatis yang baik. Hal ini dimungkinkan karena wanita cenderung menggunakan emosinya dibanding pria.

Tapi meskipun banyak bukti ditemukan dan telah banyak penelitian dilakukan, penjelasan tentang fenomena telepati yang sudah dirumuskan masih dirasa belum memadai. Masih sering ditemukan penjelasan yang berbeda dari para ahli. Misalnya saat Filsuf Yunani kuno, Democritus, menawarkan teori gelombang dan sel darah untuk menjelaskan telepati. Lalu pada abad ke-19, seorang fisikawan dari Inggris, William Crookes pernah menjelaskan bahwa telepati merupakan gelombang radio yang menggunakan otak sebagai transmiter sekaligus receiver. Kemudian Lawrence Leshan, psikolog dari Amerika, menjelaskan bahwa setiap individu itu dapat diumpamakan sebagai pulau-pulau yang bertebaran di lautan. Pada permukaannya, mereka seolah sebagai daratan yang terpisah. Tapi jika dilihat pada dasar laut, pulau-pulau itu sebenarnya tetap saja sebuah satu daratan. Menurutnya ini pemahaman tentang telepati.

Dari sekian banyak penjelasan yang ada, keberadaan telepati masih cukup sulit untuk dijelaskan secara sistematis dan ilmiah. Tapi sebagian orang percaya bahwa suatu saat, setelah melalui tahap evolusi, telepati akan menjadi bentuk komunikasi yang universal. Meninggalkan semua peralatan komunikasi yang pernah dibuat manusia. Sebuah cara berkomunikasi yang dapat dilakukan tanpa bahasa dan huruf. Metode komunikasi yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Bahkan bisa digunakan untuk berkomunikasi dengan mahluk hidup lainnya, binatang dan tumbuhan.