Cari di Blog Ini

Selasa, 13 November 2012

Sejarah Teknologi Solar Cell (Photovoltaic)

Solar Cell (Photovoltaic)
Pemakaian sinar matahari sebagai sumber energi masih terhitung baru dalam sejarah kehidupan manusia. Meskipun dewasa ini sudah umum kita mendapati sumber energi alternatif itu (sinar matahari) yang dikonversi menjadi daya listrik. Di banyak negara berkembang, termasuk Indonesia, penerapan teknologi Solar Cell yang mengubah sinar matahari menjadi energi listrik belum dilakukan secara massal. Penggunaan teknologi ini masih dalam skala kecil. Mungkin karena teknologinya masih relatif mahal dan tingkat efisiensinya untuk menghasilkan energi belum maksimal. Meskipun demikian sinar matahari akan menjadi salah satu pilihan utama setelah bahan bakar konvensional mulai habis persediaannya di Bumi ini. Mengingat sinar matahari adalah sumber energi yang tersedia dalam jumlah yang sangat besar.

Sejarah pengembangan teknologi Solar Cell atau yang juga disebut Photovoltaic dimulai ketika seorang fisikawan di Perancis, Antoine-César Becquerel, melakukan serangkaian penelitiannya pada tahun 1839. Becquerel menemukan bahwa tegangan listrik terjadi saat cahaya jatuh pada elektroda yang digunakannya pada penelitian tersebut. Inilah pengamatan yang pertama kali dalam sejarah terhadap efek dari Photovoltaic. Istilah photo atau foto berasal dari bahasa Yunani yang berbunyi "phos" dan berarti cahaya. Sedangkan kata voltaic merupakan pengembangan dari istilah Volt yang diambil dari nama Alessandro Volta, seorang pelopor dalam pengembangan energi listrik. Photovoltaic secara harfiah kurang lebih berarti cahaya listrik. Selanjutnya sebutan Photovoltaic lebih sering disingkat dengan PV saja.

Menurut Encylopedia Britannica, orang yang pertama kali membuat Solar Cell adalah Charles Fritts pada tahun 1883. Ilmuwan berkebangsaan AS ini menggunakan lapisan Selenium sebagai semikonduktor yang sangat tipis dan dilapisi dengan emas. Tapi sinar matahari yang dikonversi menjadi listrik dengan menggunakan Solar Cell buatannya itu hanya menghasilkan efisiensi sebanyak 1% saja. Bisa dikatakan bahwa Solar Cell buatannya masih sangat jauh dari efektif.

Ilmuwan lain yang punya andil penting dalam pengembangan Photovoltaic adalah Russel Ohl. Sarjana yang bekerja pada AT & T Bell Labs ini juga menjadi ilmuwan yang mempelopori penelitian di bidang semikonduktor. Pada tahun 1941 Ohl menggunakan silicon pada Solar Cell yang dibuatnya. Dan panel surya buatan Ohl ini mendapatkan paten bernomor US2402662. Dengan segera nama Russel Ohl dikaitkan dengan pengembangan Solar Cell modern.

Langkah yang lebih besar untuk pengembangan bidang photovoltaic ini terjadi tahun 1954 ketika tiga orang peneliti (Gerald Pearson, Calvin Fuller dan Daryl Chapin) dari Laboratorium Bell secara tidak sengaja menemukan bahwa silicon dengan impurities tertentu menjadi sangat sensitif terhadap cahaya. Dan mereka bertiga pun menjadi orang yang pertama membuat perangkat praktis yang mengkonversi sinar matahari menjadi energi listrik. Panel surya buatan mereka bisa mengubah sinar matahari menjadi tenaga listrik dengan tingkat efisiensi sebanyak 6%. Kemudian battery solar cell pun dibuat pertama kali pada tanggal 25 April 1954. Dan satelit buatan manusia yang pertama kali menggunakan perangkat solar cell adalah Vanguard 1 yang diluncurkan pada bulan Maret 1958. Satelit ini menggunakan battery solar cell yang dibuat oleh perusahaan Hoffman Electronic. Selanjutnya pada tanggal 4 Oktober 1955, perusahaan Bell telah berhasil menggunakan battery solar cell buatannya untuk mengoperasikan system operator telepon di Georgia.

Dengan menggabungkan Galium dan Arsenik untuk dijadikan sebagai bahan semikonduktor yang lebih maju, Zhores Ivanovich Alferov seorang ilmuwan Rusia yang juga merupakan politikus dan anggota parlemen di negaranya, telah berhasil membuat panel surya yang lebih efektif. Penemuan ini kemudian dikembangkan oleh para ilmuwan AS hingga bisa dibuat panel surya yang memiliki efisiensi 17% dalam menghasilkan energi listrik. Angka efisiensi itu terus meningkat karena lebih banyak lagi kalangan ilmuwan dan industri yang berperan aktif dalam pengembangan bidang photovoltaic ini.

Saat ini ada lima negara yang berperan sebagai produsen utama perangkat photovoltaic yaitu Jepang, Cina, Jerman, Taiwan, dan Amerika. Dan pada tahun 2008 lalu, Cina telah mengukuhkan diri sebagai negara produsen photovoltaic dengan jumlah terbesar di dunia.

inventors.about.com, wikipedia.org