Cari di Blog Ini

Selasa, 13 November 2012

Memahami Gempa Bumi

Gempa Tektonik
Beberapa daerah di tanah air sering dilanda bencana gempa bumi. Kerugian yang diakibatkan sudah sangat besar, meliputi korban jiwa manusia dan harta benda. Bencana gempa bumi yang terjadi secara beruntun ini bisa dikatakan sebagai bencana alam nasional seperti bencana tsunami yang melanda Aceh dan sekitarnya beberapa tahun yang lalu. Ini murni bencana karena alam dan bukan karena ulah manusia seperti misalnya bencana banjir yang umumnya disebabkan karena penggundulan hutan oleh manusia itu.

Karena seringnya di banyak kawasan di negeri kita yang dilanda gempa, mungkin ada baiknya kita lebih berusaha memahami seluk beluk gempa. Menurut Wikipedia, gempa bumi didefinisikan sebagai getaran atau goncangan yang terjadi di permukaan bumi yang dikarenakan beberapa penyebab. Umumnya ada tiga faktor penyebab timbulnya gempa bumi. Dan biasanya penamaan jenis gempa bumi disesuaikan dengan penyebabnya juga.

Gempa Tektonik
Gempa tektonik bisa terjadi disebabkan adanya pergeseran, pergerakan, dan benturan pada lempeng lapisan terluar (kerak) bumi. Seperti kita ketahui, bumi terdiri atas beberapa lapisan. Lapisan paling atas adalah yang paling keras, semakin kedalam lapisan semakin lunak bahkan cair (magma). Secara logika, lapisan keras yang berada pada permukaan seperti terapung menutupi lapisan cair pada bagian bumi yang lebih dalam. Lapisan luar yang keras pada bumi ini sering disebut dengan nama lempengan bumi. Lempengan bumi ini sewaktu-waktu akan bergerak karena tarikan dan tekanan yang secara alami diperlukan untuk menstabilkan permukaan bumi. Umumnya pegerakannya kecil saja. Tapi berhubung mencakup daerah yang sangat luas, pergerakan kecil tersebut menimbulkan energi yang besar sehingga menimbulkan getaran atau goncangan yang besar juga. Dan terjadilah gempa bumi seperti yang baru-baru ini melanda Padang.

Gempa Vulkanik
Gempa vulkanik terjadi karena adanya aktifitas gunung berapi. Secara teori, gunung berapi adalah lubang tempat keluarnya magma dari dalam perut bumi. Pada saat sebuah gunung berapi meletus, bisa menimbulkan energi yang sangat besar hingga menggoncangkan permukaan bumi di sekitarnya. Kita bisa membayangkan seberapa besar energi yang tercipta karena letusan gunung berapi mampu melontarkan ribuan bahkan jutaan ton material dari perut bumi melalui lubang kawahnya. Tapi dilaporkan jarang sekali gempa bumi yang terjadi karena letusan gunung berapi. Contoh letusan gunung berapi yang sangat besar adalah saat meletusnya gunung Krakatau di selat Sunda pada tahun 1883. Begitu dahsyatnya letusan gunung tersebut hingga suara letusannya bisa terdengar sampai ribuan kilometer jauhnya. Menurut kabar hingga 5.000 kilometer. Karena gunung Krakatau terletak di selat Sunda, letusannya menimbulkan gelombang tsunami setinggi 36 meter! Letusan dahsyat tersebut menelan korban 36.000 jiwa manusia.

Gempa Longsoran / Runtuhan
Gempa jenis ini terjadi karena terjadinya goa besar dalam tanah yang tiba-tiba runtuh, atau karena terjadinya tanah longsor dalam skala besar yang energinya bisa mengakibatkan goncangan pada permukaan bumi. Jenis gempa bumi inipun jarang terjadi. Seandainya ada, kerugian yang ditimbulkannya pun tidak sebesar seperti jika terjadi gempa tektonik dan gempa vulkanik karena radius bencananya sangat sempit.

Skala Ritcher

Untuk mengukur atau menyatakan kekuatan gempa bumi digunakan Skala Ritcher. Skala pengukur kekuatan gempa ini dibuat dan dikembangkan oleh Charles Francis Ritcher pada tahun 1935. Sebelum penggunaan Skala Ritcher menjadi populer, orang lebih dulu mengenal skala pengukuran gempa yang dibuat oleh de Rossi pada tahun 1880-an dan Giuseppe Mercalli pada tahun 1902. Namun keduanya masih menggunakan skala kualitatif berdasarkan tingkat kerusakan bangunan setelah terjadi gempa bumi. Tentu saja ini hanya bisa diterapkan di tempat yang ada bangunannya dan sangat tergantung dari jenis material pembuat bangunannya.

Skala Ritcher dikenal juga dengan sebutan Skala Magnitudo Lokal (ML). Secara garis besar, skala Ritcher membagi kekuatan gempa pada 10 tingkatan dimana pada skala 1 adalah gempa dengan kekuatan paling lemah dan pada skala 10 adalah gempa dengan kekuatan yang paling besar. Tapi pada kasus gempa tertentu, digunakan juga skala yang melebihi tingkatan skala 10, misalnya hingga 13,0 Skala Ritcher. Tapi gempa bumi seperti itu sangat jarang terjadi dan umumnya gempa bumi yang pernah terjadi di masa lampau.

Berikut ini merupakan penggambaran kekuatan gempa bumi menurut Skala Ritcher dengan urutan kolom: Angka Skala Ritcher : Deskripsi Gempa : Dampak yang diakibatkan.

Kurang dari 2,0 : Mikro : Tidak terasa getaran / goncangan
2,0 – 2,9 : Minor : Umumnya tidak terasa dan hanya tercatat pada mesin seismograf
3,0 – 3,9 : Minor : Bisa dirasakan tapi jarang menyebabkan kerusakan
4,0 – 4,9 : Light / Ringan : Menyebabkan beberapa benda menjadi bergerak, menimbulkan suara berderak, kerusakan minimal
5,0 – 5,9 : Moderat / Menengah : Menyebabkan kerusakan yang serius pada bangunan yang tidak terlalu kokoh
6,0 – 6,9 : Kuat : Menimbulkan kerusakan serius hingga pada kawasan dengan luas radius 160 kilometer
7,0 – 7,9 : Besar : Menyebabkan kerusakan kawasan hingga diatas radius 160 kilometer
8,0 – 8,9 : Hebat : Menimbulkan kerusakan serius pada luas daerah hingga radius ratusan mil
9,0 – 9,9 : Hebat : Menibulkan bencana yang hebat hingga meliputi kawasan seluas radius ribuan mil
10,0 + : Epic : Kerusakan yang terjadi setara dengan akibat dari ledakan bom dengan kekuatan antara 1 tera ton TNT hingga 100 tera ton TNT.

Gempa datang tanpa tanda. Tidak seperti hujan-badai yang didahului langit gelap, awan hitam, petir menyambar-nyambar, dan suasana muram. Gempa seperti pekerjaan besar yang dilakukan secara diam-diam dan misterius. "Belum bisa diramalkan kapan datangnya," kata Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Surono.

Cara terbaik menyikapi potensi gempa adalah dengan meningkatkan kewaspadaan. Indonesia dikepung tiga lempeng tektonik dunia, juga merupakan jalur cincin api Pasifik. Kenyataan ini menempatkan Indonesia sebagai negeri yang rentan terkena gempa bumi. Tercatat 28 wilayah di Indonesia dinyatakan rawan gempa bumi yang bersifat merusak.

Menurut Kepala Pusat Gempa dan Tsunami, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, Fauzi, pada dasarnya, aktivitas gempa tidak melukai dan membunuh. Namun, lanjut Fauzi, efek yang ditimbulkan gempalah yang berpotensi melukai dan merenggut nyawa makhluk hidup. "Rumah dan bangunan-bangunan yang tidak kuat dan infrastruktur fisik yang tidak tahan gempa, itu yang mengkhawatirkan," kata Fauzi.

Kesadaran masyarakat Indonesia atas bahaya gempa terhitung masih sangat rendah. Untuk itu, diperlukan kerja keras guna mengubah paradigma masyarakat mengenai "tradisi" gempa dan sosialisasi tentang persiapan menghadapi situasi darurat serta langkah-langkah darurat ketika gempa terjadi.

Teknologi Ramal Gempa

Upaya mencari teknologi untuk meramalkan gempa bumi dilakukan ahli geologi dari pelbagai negara. Seperti dilansir Reuters, ahli geologi dari National Taiwan University mengklaim telah menemukan alat pendeteksi gempa bumi. Alat itu diklaim hanya memerlukan waktu sekitar 30 detik untuk menganalisis bencana yang akan terjadi.

Alat berbahan logam itu juga diklaim mampu menganalisis ukuran kekuatan gempa dan memperkirakan waktu terjadinya gempa. Caranya, dengan mendeteksi tanda-tanda gempa bumi. Menurut seorang peneliti, Wu Yih-min, harga alat tersebut hanya US$ 302 atau sekitar Rp 3,4 juta.

Meski begitu, alat itu diakui masih harus melalui uji coba tahap akhir, yakni menghubungkannya dengan sistem komputer. Temuan itu juga masih diragukan para ahli. Menurut Kepala Bidang Geodinamika dan Geodesi Bakorsurtanal, Cecep Subarya, belum ada satu pun alat bikinan manusia yang bisa meramalkan gempa.

Adapun yang telah tersedia, kata Cecep, adalah alat untuk mendeteksi pergerakan lempengan bumi dan sistem peringatan dini tsunami yang bekerja setelah gempa terjadi. Kini Indonesia memiliki empat alat sensor terkait gempa. Yakni sensor tsunami early warning system yang dikoordinasi BMKG. Juga sensor seismoneter untuk menentukan kedalaman gempa dan besaran gempa serta sensor GPS untuk memonitor perubahan elastis bumi bila terjadi gangguan oleh gempa, yang dikelola Bakorsurtanal. Ditambah lagi sensor pasang surut laut, yang dikelola BPPT.

Dengan empat alat canggih itu, para ahli masih sulit memprediksi terjadinya gempa bumi. Hal ini disebabkan karakteristik dan struktur batuan yang berbeda-beda. Selain empat alat sensor itu, Bakorsurtanal dan BMKG juga melakukan penelitian menggunakan alat bernama Superconducting Gravimeter. Alat ini merupakan bagian dari Global Geodynamics Project.

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Fauzi, menyatakan bahwa alat itu digunakan untuk mengukur perubahan gaya berat dan belum digunakan secara operasional untuk memprediksi gempa bumi. ?Masih sebatas penelitian,? kata Fauzi kepada Sandika Prihatnala dari Gatra. Superconducting Gravimeter dioperasikan BMKG untuk mengukur variasi tingkat gaya tarik tersebut selama 24 jam.

Selain itu, alat ini juga digunakan untuk memantau perilaku kerak bumi yang dipengaruhi konstelasi bumi terhadap planet lain yang berperan dalam memicu gempa bumi. Meski belum mampu mendeteksi kapan dan seberapa hebat terjadinya gempa bumi, data yang diperoleh dari alat-alat itu diharapkan bisa digunakan untuk mengalkulasi kemungkinan terjadinya gempa.

wikipedia.org, geohaz.org, gatra.com