Cari di Blog Ini

Jumat, 09 November 2012

De Javu: Kemampuan Menerawang Masa Depan. Benarkah?

Deja Vu
Fenomena Deja Vu cukup banyak dialami orang. Dan orang awampun beranggapan bahwa Deja Vu adalah pengalaman mistik yang istimewa. Identik dengan kemampuan para cenayang untuk menerawang peristiwa-peristiwa yang akan terjadi. Tapi di kalangan ilmuwan punya pendapat lain. Deja Vu dianggap bisa terjadi karena kelemahan seseorang dalam mengontrol dan mengakses memori otak.

Mungkin situasi seperti ini pernah atau sering kita alami. Misalnya pada suatu kesempatan Anda mengunjungi suatu tempat yang belum pernah Anda datangi, tapi anehnya Anda jadi merasa sudah akrab dan seakan-akan pernah berada di tempat itu. Atau mungkin suatu ketika Anda sedang bercakap-cakap dengan seorang teman, dan Anda pun jadi merasa juga bahwa percakapan itu sudah pernah dilakukan sebelumnya. Padahal Anda tahu bahwa itu sama sekali belum pernah terjadi. Jika situasi atau kondisi seperti itu terjadi pada Anda maka Anda dikatakan sedang mengalami Deja Vu. Suatu istilah yang diasosiakan sebagai perasaan bahwa pernah mengalami, merasakan, melihat, atau melakukan sesuatu yang justru pada saat itu baru dialami. Misalnya pada saat kita sedang melakukan sesuatu yang baru pertama kali kita lakukan, tapi perasaan kita menganggap bahwa sesuatu itu sudah pernah kita lakukan sebelumnya. Lalu banyak orang yang mengatakan bahwa Deja Vu termasuk sebagai kemampuan untuk melihat masa depan. Apakah memang benar begitu?

Menurut penelitian, hampir 70% orang yang ditanya tentang Deja Vu menjawab bahwa mereka pernah mengalami Deja Vu setidaknya satu kali dalam hidupnya. Dan ada sekitar 40 teori yang mencoba untuk menjelaskan apa dan bagaimana Deja Vu bisa terjadi. Dari teori yang berkaitan dengan hal-hal mistis hingga teori yang berpijak pada proses memori yang bekerja di dalam otak manusia.

Istilah Deja Vu berasal dari bahasa Perancis yang secara harfiah berarti sudah terlihat. Menurut fenomena yang dialami, De Javu terbagi menjadi tiga. Yaitu Deja Vecu yang berarti sudah pernah mengalami, Deja Senti artinya sudah pernah merasakan, dan Deja Visite yang artinya sudah pernah melihat.

Seorang ilmuwan Perancis, Emile Boirac, adalah orang yang pertama kali mempelajari fenomena De Javu dan Boirac juga yang menggunakan istilah Déjà Vu untuk menamakan fenomena seperti itu pada tahun 1876. Istilah Déjà Vu digunakannya dalam bukunya yang berjudul "L'Avenir des Sciences Psichyques". Tapi Boirac tidak melakukan riset yang mendalam untuk mempelajari fenomena Déjà Vu sehingga bukunya itu tidak bisa dijadikan salah satu pegangan untuk menjelaskan bagaimana Déjà Vu bisa terjadi.

Mungkin penjelasan dari Sigmund Freud bisa dianggap sebagai teori yang pertama kali bisa diterima untuk menjelaskan bagaimana Déjà Vu bisa terjadi. Freud mengatakan bahwa penyebab terjadinya Déjà Vu dikarenakan keinginan dari kondisi psikis tertentu yang membuat orang tidak bisa mengakses memori otak dengan sebagaimana mestinya seperti jika dalam keadaan normal. Selama bertahun-tahun di abad 20 para ahli yang meneliti Déjà Vu berpegang pada teori Freud ini dan menyebutnya sebagai teori Paramnesia.

Banyak orang yang menggunakan istilah Déjà Vu tapi tidak untuk merujuk pada arti atau pengertian Déjà Vu yang sebenarnya. Yang umum terjadi dalam penyalahgunaan istilah Déjà Vu adalah fenomena ini diartikan sebagai gejala Precognitif atau kemampuan melihat sesuatu yang akan terjadi. Para ahli yang mempelajari Déjà Vu pun memiliki definisi masing-masing untuk menggambarkan fenomena ini. Tapi pada umumnya fenomena Déjà Vu diartikan sebagai perasaan sudah pernah melihat atau mengalami sesuatu pada saat sesuatu itu sedang terjadi. Bukan sebaliknya.

Lalu, bagaimana dengan Déjà Vu yang didapat dari mimpi?

Beberapa orang peneliti, termasuk seorang ilmuwan berkebangsaan Swis, Arthur Funkhouser, sangat percaya bahwa mimpi precognitif merupakan pengalaman Déjà Vu yang paling banyak terjadi. JW Dunne, seorang engineer yang pernah merancang pesawat tempur pada Perang Dunia II, pada tahun 1939 melakukan penelitian dengan obyek para mahasiswa Universitas Oxford. Hasil penelitiannya menemukan bahwa 12,7 persen mahasiswa yang menjadi sukarelawan dalam penelitian itu mengaku pernah bermimpi tentang sesuatu yang akan terjadi di masa depan. Studi serupa yang dilakukan oleh Nancy Sondow pada tahun 1988 juga memiliki hasil angka yang hampir sama, yaitu 10 persen.

Para peneliti juga mendapati bukti bahwa mimpi precognitif ini merupakan pengalaman Deja Vu yang bisa terjadi dimana saja dari satu hari ke delapan tahun kemudian. Pertanyaan yang timbul adalah mengapa pengalaman-pengalaman Déjà Vu yang mereka miliki mirip dengan kejadian-kejadian yang sehari-hari yang sudah sering dialami. Salah satu penjelasan dari Funkhouser adalah sesuatu yang lebih menarik menjadi lebih mungkin untuk diingat dan suatu saat itu membuat timbulnya sebuah pengalamanan Déjà Vu. Mereka (para pakar Deja Vu itu) menduga bahwa mimpi tersebut sebenarnya tidak pernah ada. Hanya karena kondisi psikis tertentu yang membuat memori para subyek penelitian mengatakan bahwa mereka pernah bermimpi tentang hal itu.

Bagaimana pun, dari dulu hingga kini, studi terhadap fenomena Déjà Vu tetap saja memberikan hasil yang kontroversial. Dan akhirnya para peneliti lebih berpijak pada disfungsi kinerja pada otak sebagai pemicu timbulnya pengalaman Déjà Vu. Misalnya seperti yang dikemukakan oleh John Gabrieli dari universitas Stanford pada tahun 1997. Beliau menemukan bahwa Hippocampus (bagian dari otak) memungkinkan orang untuk selalu mengingat suatu peristiwa. Beliau juga menemukan bahwa parahippocampal gyrus (juga salah satu bagian dari otak) menyebabkan orang bisa menentukan apa yang terasa akrab (menarik atau menyenagkan) dan apa yang tidak. Kedua bagian dari otak itulah yang diduga sebagai penyebab timbulnya Déjà Vu. Itu bisa menjelaskan mengapa Déjà Vu paling sering atau banyak terjadi pada orang-orang yang berusia antara 15 hingga 25 tahun. Perbandingannya dengan kelompok usia yang lain mencapai angka 60 persen.

Para ahli masih berbeda pendapat tentang pengelompokan usia pemilik kecenderungan ber-Déjà Vu ini. Tapi secara umum mereka berpendapat bahwa semakin lanjut usia seseorang kemungkinan untuk mengalami Déjà Vu semakin berkurang. Juga telah didapati bahwa memiliki pendapatan tinggi, yang memiliki status ekonomi yang baik, dan orang-orang dengan latar belakang pendidikan tinggi, dilaporkan lebih sering mengalami Déjà Vu. Mungkin dikarenakan kelompok ini memiliki imaginasi yang aktif dan cenderung meletakkan impian atau pengharapan yang lebih tinggi dibanding orang-orang yang termasuk dalam kelompok yang sebaliknya. Jika suatu saat imajinasi atau pengharapannya itu benar-benar terjadi, maka mereka biasanya cenderung merasakan bahwa hal itu sudah pernah dialaminya sebelumnya dikarena imajinasi atau pengharapan itu sudah sedemikian kuat melekat dalam memori otak mereka.

howstuffworks.com, web.mit.edu,wikipedia.org