Cari di Blog Ini

Senin, 29 Oktober 2012

Sebutir Pasir Bisa Menjadi Sumber Bencana

Gurun Pasir Sahara
Sebutir Pasir Bisa Menjadi Sumber Bencana

Sir Edmund Hillary penjelajah ulung sang penakluk Mount Everest untuk pertama kalinya, puncak tertinggi dunia di pegunungan Himalaya, pernah ditanya oleh para wartawan apa yang paling ditakutinya sebagai seorang penjelajah alam. Dia mengaku yang paling ditakutinya adalah "Sebutir Pasir yang terselip di sela jari kaki". Wartawan heran, kemudian sang penjelajah melanjutkan pembicaraannya, "Sebutir pasir yang masuk disela jari kaki sering kali menjadi awal malapetaka. Ia bisa masuk menyelinap diantara kuku dan mengifeksikan kulit tersebut sehingga membusuk. Tanpa sadar kaki tidak dapat digerakkan, inilah petaka yang besar bagi seorang penjelajah karena ia harus ditandu".

Singa, buaya, beruang, walaupun buas secara secara naluriah mereka takut kepada manuasia. Sedang untuk menghadapai ganasnya padang pasir, dinginnya bongkahan es dan terjalnya gunung, seorang penjelajah telah menyiapkan dirinya secara optimal, jadi tidak perlu terlalu dikawatirkan. Tetapi menghadapi sebutir pasir yang akan masuk kedalam kulit seorang penjelajah, tak pernah mempersiapkan diri dan cenderung mengabaikannya.

Jika direnungkan apa yang dikatan Hillary sama dengan kita kala menunda-nunda serta menumpuk-numpuk pekerjaan yang dianggap kecil, begitu sampai pada waktunya kita merasa tercekik karena masalah-masalah kecil tersebut telah menggelayuti semua energi kita untuk menyelesaiankan pekerjaan tersebut dalam waktu yang bersamaan.

Banyak orang yang kebablasan menganggap remeh hal-hal kecil akhirnya menjadi kebiasaan dan membudaya sehingga sulit untuk berubah lagi. Satu hal yang pasti "Semua masalah besar berawal dari hal kecil". Seperti perang dunia ke I berawal dari huru-hara di Sarajevo (Bosnia), dari masalah lokal menjadi international dan menyeret para negara super power saat itu, saling unjuk gigi untuk memenangi perperangan.

Bukankah Hadist Nabi telah mengingatkan kita tentang manajemen waktu yang berbunyi :
"gunakan waktu luangmu sebelum waktu sibukmu sampai, manfaatkan waktu mudamu sebelum masa tuamu datang dan pakai sehatmu sebelum sakitmu menjemput".

Jadi, bercermin dari hal diatas, sudahkah kita mengunakan waktu dengan bijak?