Cari di Blog Ini

Minggu, 28 Oktober 2012

Performance Paradox

Performance Paradox

Performance atau lebih dikenal dalam bahasa sehari-hari adalah kinerja merupakan hal yang selalu dibicarakan disetiap perusahaan. Kinerja merupakan output dari beberapa proses dalam melakukan kegiatan tertentu yang dapat dilihat bilamana mempunyai sebuah ukuran. Sebuah pertandingan balap karung kemenangan ditentukan oleh jarak yang harus dilalui, dan catatan waktu yang diperoleh. Penjual sayur mendapat keuntungan dari biaya yang ia keluarkan untuk membeli, dan harga jual yang ia tawarkan ke pelanggan. Tanpa ukuran yang jelas, maka kinerja akan menjadi argumentatif bahkan cenderung subjektif yang pada akhirnya menjadi polemik.

Bayangkan bila seorang pilot berhasil membawa pesawatnya ke tujuan yang jaraknya 500 km dalam waktu 3 hari! Tentunya keberhasilan tersebut bila tidak mempunyai target sebagai ukuran spesifik, maka akan menjadi sebuah perdebatan yang berkepanjangan apakah kinerja tersebut dinilai baik, namun seberapa baik, atau buruk, tapi seberapa buruk.

Bila kita telaah mengenai ilustrasi tersebut, maka untuk memudahkan pengidentifikasian permasalahan sebenarnya kinerja memiliki mekanisme sistem yang menunjang sebuah keberhasilan optimal. Sebuah sistem membutuhkan manusia, material, teknologi, dan waktu.

Manusia merupakan pelaksana dari dimulainya sebuah aktifitas. Material merupakan informasi data atau bahan yang akan diproses. Teknologi merupakan cara / teknik yang digunakan untuk melakukan / mengolah proses produksi / jasa. Dan waktu, merupakan periode dimana aktifitas tersebut dimulai dan selesai.

Kinerja karyawan dalam perusahaan berkaitan dengan Manusia dan Teknologi. Dalam kasus pilot tadi, kinerjanya akan menjadi lebih jelas jika sistem atau bisnis proses telah di setup targetnya.

Pertama adalah bagaimana kemampuan pilot tersebut? Informasi atau indikasi apa yang ia peroleh sebelum dan selama penerbangan? Tindakan apa yang dilakukan dengan informasi yang ia miliki? Dan, berapa lama penerbangan dibutuhkan untuk sampai tujuan? Kinerja tanpa ukuran yang spesifik sudah pasti akan subjektif.

Di dalam perusahaan, hubungan tersebut akan terbawa pada hubungan kerja antar karyawan, motivasi kerja, komunikasi atasan dan bawahan, serta budaya kerja yang tidak produktif. Dampak terbesar dari hasil kinerja yang tidak terukur secara spesifik adalah kerugian. Kinerja beserta penilaiannya merupakan proses pembelajaran bagi setiap individu.

Tantangan saat ini tidak dapat dipastikan sama akan terjadi pada saat berikutnya. Keahlian kita sebelumnya belum tentu dapat digunakan untuk memecahkan masalah saat ini. Pengetahuan yang kita miliki tidak menjamin terjadi di masa yang akan datang. Dan sikap kerja kita sehari-hari tidak selalu dapat kita pertahankan dengan emosi yang baik. Pencapaian konsistensi dalam bekerja harus ditempuh setiap individu dengan cara belajar dan berbuat. Belajar mendengar, belajar melakukan, belajar berpendapat.

Kegagalan maupun keberhasilan menjadi bagian realita, dan konsekuensi yang harus dapat diterima dalam sebuah penilaian kinerja. Manusia dan teknologi adalah sebuah paradox dalam mencapai kinerja. Bila karyawan dinilai sama kinerjanya, apakah manusia atau teknologi-kah penyebabnya?