Cari di Blog Ini

Senin, 29 Oktober 2012

Meningkatkan Motivasi Kerja

Kotabumi Lampung Utara
Meningkatkan Motivasi Kerja

Penelitian (research) mengenai kompeten atau tidaknya seseorang didalam melakukan sesuatu pekerjaan sebenarnya sudah dilakukan sejak lama. Pada tahun 1973 David McCleland sang guru "motivasi" telah memperkenalkan kompetensi pada bukunya yang provokatif yang berjudul "Testing competence rather than intelligence". Esensinya di buku tersebut dikatakan bahwa ada sesuatu karakteristik dasar yang lebih penting dalam memprediksikan kesuksesan kerja, yang lebih berharga daripada kecerdasan akademik, dan dapat ditentukan dengan akurat. Berawal dari hal ini lah nilai kompeten seseorang dapat dibedakan kedalam golongan star performer dan dead wood.

Dari hal tersebut muncul suatu ukuran yang mendasar terhadap keberhasilan kerja seseorang pada suatu posisi, dan menjawab satu pertanyaan, "Pengetahuan, keterampilan dan perilaku seperti apa yang dapat atau diperlukan untuk berhasil dalam suatu posisi tertentu?". Dengan demikian kompetensi (baca: becus) menjadikan supplemen atau pelengkap terhadap deskripsi jabatan atau spesifikasi jabatan yang kita sudah kenal selama ini. Orang yang sangat becus sekali, becus, tidak becus ,dan tidak becus sama sekali akan teridentifikasi terhadap lingkup pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya oleh kompetensi.

Didalam melakukan kegiatan sehari-hari pada pekerjaan yang kita laksanakan besar kemungkinan tidak disadari dan tidak menjadi perhatian oleh kita bahwa kita membawa perilaku atau sifat dasar kita untuk bekerja. Nilai dan sifat dasar kita yang secara gen yang kita bawa sejak lahir dari orang tua kita, lalu beradaptasi dengan lingkungan, dan berakhir pada budaya kerja di lingkungan kerja, dengan pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki telah membawa perilaku kita jauh dari perhatian / pandangan kita. Seluruh kegiatan yang kita lakukan baik di lingkungan keluarga, tempat tinggal, tempat kumpul sampai ke dalam lingkungan kerja membawa perilaku kita semakin jauh lagi dari pengamatan bahwa kita telah melakukan sesuatu.

Dari indikasi-indikasi tersebut merupakan indikator yang akan membedakan keunggulan seseorang di dalam melakukan sesuatu hal. Seseorang yang unggul melakukan pekerjaan tentunya memiliki indikator perilaku yang membuat dia kompeten dalam menyelesaikan pekerjaan, dan indikator tersebut pun memiliki tingkatannya. Apakah ia merupakan seseorang yang memiliki indikator perilaku yang cukup dalam bertindak; sangat menyadari terhadap tugas dan tanggung jawabnya, memahami kegiatan dan dapat mengendalikannya sesuai dengan tindakan yang dibutuhkan pada kondisi-kondisi tertentu; atau ia amat sangat terampil didalam menentukan, mengevaluasi, dan menjaga kesempurnaan didalam melakukan bermacam hal? Sebaliknya, bilamana indikator perilaku seseorang yang memiliki kekurangan dalam melakukan sesuatu?

Pertanyaan selanjutnya yang dapat kita renungkan bersama-sama adalah di mana posisi indikator perilaku kita masing-masing?