Cari di Blog Ini

Minggu, 28 Oktober 2012

Menghargai Sesama

Menghargai Sesama

"Tak seorangpun dapat memahami hati manusia kecuali jika dia memiliki simpati yang dibangkitkan oleh cinta"
( Henry Ward Beecher )

Kunci pergaulan ada pada diri kita sendiri. Sebagai manusia, hendaknya kita selalu menjaga perbuatan kita sehari-hari, sehingga bermanfaat baik bagi kita sendiri maupun orang lain. Pergaulan akan langgeng kalau kita bisa menghargai orang lain layaknya kita menghargai diri sendiri. Orang lain akan menaruh hormat pada kita jika kita mampu menghormati dan menghargai orang lain.

Dalam hidup bermasyarakat tenggang rasa, tepa selira penting dikedepankan. Sifat-sifat mulia yang dimiliki orang timur ini terbukti menjadi salah satu daya tarik para wisatawan mancanegara. Banyak turis yang tertarik pada negeri-negeri di kawasan timur karena adat istiadat dan budayanya yang bernilai tinggi. Di negeri-negeri Barat budaya seperti ini tidak mungkin dijumpai. Namun bukan itu alasan utamanya, melainkan manfaatnya yang amat besar dalam menjalin interaksi dan membangun toleransi sesama manusia.

Orang dinilai bukan karena harta kekayaan dan ketinggian ilmunya, melainkan oleh sikapnya yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Bangsa Indonesia mengutamakan sikap dan perilaku manusia sebagai dasar dan etika pergaulan. Karena itu sejak dulu bangsa ini dikenal sebagai bangsa yang ramah tamah. Pemahaman akan pentingnya nilai-nilai luhur dalam pergaulan yang diwarisi dari nenek moyang kita, selanjutnya menjadi pesona tersendiri dalam menjalin hubungan di dalam lingkungan bisnis.

Kebanyakan kita menilai lingkungan bisnis adalah lingkungan yang keras, semuanya diatur dengan uang. Fokusnya adalah bagaimana mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya, kalau perlu dengan cara-cara yang tidak halal. Di manapun lingkungan bisnis memang keras. Perasaan dinormor duakan, kadang dibuang jauh-jauh karena dianggap tidak kondusif dalam menjaring konsumen sebanyak-banyaknya.

Kita tidak perlu heran jika menjumpai sales produk tertentu masuk di desa dan setengah memaksa warga untuk membeli produknya. Mereka bertindak begitu karena terikat oleh target yang ditetapkan perusahaan. Jika tidak memenuhi target, otomatis pendapatan mereka berkurang. Tetapi semakin pesatnya saingan, lingkungan bisnis yang semula tidak ramah berubah menjadi ramah. Walaupun keramahan tersebut tidak tulus, namun para penyelenggara perusahaan menyadari pentingnya perilaku dan sikap yang menghargai konsumen. Bahwa pembeli adalah raja, semua orang sudah tahu. Tetapi tak semua produsen mau mengaplikasikan dalam aktivitas bisnisnya sehari-hari.

Hidup memang keras, itulah soalnya. Kemballi pada sikap tadi, nilai-nilai luhur nenek moyang yang bersumber pada ajaran agama kemudian menghiasi kantor-kantor pemerintah dan swasta. Mereka berlomba-lomba menampilkan citra sebagai kantor yang berbudaya tinggi dengan slogan-slogan yang manis. Say with smile – katakan dengan senyum misalnya begitu. Dan senyum yang memang murah meriah itu menjadi komoditi yang bernilai tinggi. Mereka agaknya sudah mengerti bahwa untuk dihargai orang lain, dirinya sendiri harus terlebih dulu memberikan penghargaan kepada orang lain. Mana mungkin orang lain akan menghargai kita, jika kita bersikap cuek kepada mereka?