Cari di Blog Ini

Senin, 29 Oktober 2012

Mencerdaskan Perusahaan

Mencerdaskan Perusahaan

Suatu ketika, di mata para petinggi Xerox, sudah terjadi pemborosan waktu yang dilakukan oleh para teknisi mereka yang bertugas untuk memperbaiki mesin-mesin foto copy buatan Xerox yang digunakan para pelanggan. Sebuah kinerja yang buruk menurut para manager itu. Mereka mendapati bahwa para teknisi itu sering terlihat menghabiskan waktu senggang di sela jam kerja dengan cara ngobrol di sebuah gudang suku cadang sambil menikmati kopi hangat. Mereka berbincang tentang pengalaman-pengalaman saat bertugas memperbaiki mesin foto copy yang rusak milik pelanggan mereka.

Jika dinilai dari sudut efisiensi secara umum, kebiasaan seperti yang dilakukan para teknisi itu bisa dianggap sebagai hanya buang-buang waktu saja. Apa lagi bagi orang-orang di belahan dunia barat sana, waktu adalah uang. Tapi John S. Brown tidak sependapat dengan anggapan itu. Pria ini bertugas sebagai imuwan kepala di Xerox, perusahaan yang memproduksi mesin-mesin foto copy kelas dunia itu. Brown lalu menindakinya dengan menugaskan seorang antropolog yang menguasasi bidangnya untuk mengamati kebiasaan para teknisi dengan lebih dekat. Dan antropolog itu mendapatkan bukti bahwa acara "ngobrol-ngobrol" itu bukan "hanya buang-buang waktu saja", tapi justru mempunyai peran penting dalam menentukan keberhasilan para teknisi itu untuk dapat menyelesaikan tugas dengan baik di lapangan.

"Pekerjaan lapangan" bisa digambarkan sebagai pekerjaan sosial. Banyak didapati pada pekerjaan dalam bidang yang sejenis akan membentuk komunitas profesi secara alamiah diantara para pelakunya. Para teknisi itu tidak hanya sekedar memperbaiki kerusakan pada mesin, tapi mereka juga menambah wawasan tentang cara memperbaiki mesin dengan cara yang lebih baik. Pekerja lapangan adalah orang-orang yang mengandalkan pengetahuan pada bidangnya. Secara naluriah, acara "ngobrol" di gudang itu akan menjelma sebagai ajang saling tukar pengetahuan diantara mereka. Dan itu akan makin melengkapi wawasan para teknisi tersebut terhadap bidang pekerjaannya. Selanjutnya Brown mengatakan, "Perusahaan yang benar-benar genius akan memanfaatkan cara-cara yang tidak formal, spontan, yang seringkali bersumber dari inspirasi, untuk mendapatkan solusi guna menyelesaikan masalah-masalah yang pelik, yang tidak terselesaikan dengan proses formal".

Bekerja atau pun belajar adalah proses interaksi sosial. Dan perusahaan bisa digambarkan sebagai jaringan partisipasi. Menanamkan antusiasme dan komitmen adalah kunci untuk mendapatkan kinerja yang prima. Dua hal tadi dapat diusahakan namun tidak bisa dipaksakan. Antusiasme dan komitmen menjelma dari ketertarikan. Dan itu bisa terjadi jika semua pekerja di sebuah perusahaan bersedia untuk bergabung dengan sukarela dalam membuat komitmen kepada sesama teman kerja, perusahaan tersebut dapat meraih keberhasilan. Satu hal yang harus dihindari, jangan menimbulkan situasi dimana diantara mereka akan menjadi saling curiga karena beberapa hal. Misalnya tentang isue anak emas, teman dekat, atau kelompok. Perusahaan yang cerdas akan membuang kemungkinan itu jauh-jauh.