Cari di Blog Ini

Minggu, 28 Oktober 2012

Membangun Kemampuan Pribadi

Membangun Kemampuan Pribadi

Tatkala tenaga dan pikiran terkuras oleh berbagai persoalan dan krisis yang mendera, sering kali orang merasa seperti ikut lumat bersama. "Habis, dunia sudah kiamat," begitu yang ada dibenaknya. Pikiran semacam itu harus segera dienyahkan. Sebab,sesungguhnya setiap individu memiliki kemampuan keluar dari kemelut persoalan. Syaratnya? Setiap SDM harus mau menggali seluruh potensi internalnya, selain memanfaatkan situasi eksternal untuk memperkuat daya pribadi (personal power), suatu potensi kekuatan yang tersembunyi dalam diri setiap manusia yang mampu menjadikannya sebagai manusia baru.

Lewat program pengembangan pribadi, banyak aliran dan konsep menempa daya pribadi ditawarkan, dengan iming-iming kesuksesan dan kebahagiaan dikemudian hari. Intinya, menempatkan pribadi sebagai sumber kekuatan dan inspirasi. Dialah yang mampu "mengatur" arah kebutuhan dan tuntutan hidup agar berjalan optimal. Untuk itu, ada nilai-nilai yang harus dipompa kencang, keras, atau sedang. Dan sebaliknya adapula nilai-nilai yang harus dikendalikan dalam kadar berbeda-beda. Dan semuanya itu kembali ke sasaran yang hendak dituju.

Dalam beberapa hasil diskusi dari para pengamat SDM, disimpulkan bahwa menempa daya pribadi bisa dipelajari sendiri. Yang terpenting, untuk bangkit dengan cepat dibutuhkan kondisi yang kondusif, dari segi eksternal maupun internal. Fakta yang terungkap, masih banyakSDM yang terkungkung dalam ketidak berdayaan, sikap pesimistis, kemalasan, mudah menyerah, putus asa, dan sebagainya. Mereka cenderung meletakkan nasib di tangan orang lain yang dianggap jauh lebih berdaya. Dibawah ini adalah tip menempa daya pribadi yang disimpulkan dari diskusi di atas.

Pertama, harus menghilangkan kecenderungan tergantung pada faktor eksternal, seperti guru, atasan, dan bahkan senior. Karena, hal itu akan melahirkan rasa takut, tidak bebas berpendapat dan berbuat. Kendala aktualisasi dan ekspresi diri membuat potensi SDM tidak muncul.

Kedua, agar daya pribadi muncul, harus berani introspeksi, menyadari kekurangan, kelemahan dan keterbatasan diri. Selain itu, kita juga perlu menggali kelebihan diri. Setiap orang pasti memiliki kelebihan dibanding orang lain, tanpa harus menjadi sombongatau lupa diri. Kelebihan dan kekurangan itu dapat digali dari aspek fisik, keterampilan, sikap, inteligensia, dan lain-lain. SDM juga harus memiliki kemauan berbagi dan belajar dari pengalaman orang lain. Hal ini mutlak karena pengalaman itu heterogen, sama dengan latar belakang manusia.

Tiga, SDM harus berusaha menumbuhka nenergi positif dalam dirinya. Ini akan melatih orang berpikir positif, karena pada dasarnya manusia itu makhluk rasional. Namun diingatkan, tak semua ide maupun informasi bisa melahirkan energi positif. Harus ada seleksi untuk mengasah daya pribadi.

Empat, menempa daya pribadi dibutuhkan pendekatan multidisiplin. Setiap SDM sah-sah saja mengembangkan daya pribadi dengan teknik yang dipercayai dan dikuasai. Namun, karena semua sisi kepribadian manusia tidak mungkin diolah sendiri, perlu kerjasama atau pendekatan terpadu dengan pihak lain.

Lima, kualitas hidup SDM ditentukan oleh kualitas komunikasinya, dengan diri sendiri, dengan sesama / alam dan dengan Tuhannya. Kalau komunikasi dengan diri-sendiri bagus, maka dasarnya memang bagus. Begitu pula, jika komunikasi dengan sesama bagus, maka dasarnya akan baik pula. Dalam hal ini, kesadaran pada keseimbangan yang membuat manusia berdaya. Manusia harus menyadari bahwa dirinya adalah hardware dan sekaligus software. Kecerdasan, keahlian, keterampilan, dan semua kebanggaan duniawi, tidak lebih dari atribut, bukan tujuan.

Enam, SDM harus siap menerima tanggung jawab sebagai pembelajaran, pemimpin dan guru. Sebagai pembelajar yang baik, ia tidak akan pernah berhenti belajar dan mempraktekkan pelajaran yang sudah didapat. Ia pun siap diuji dan dievaluasi kapan saja. Bila ia seorang pimpinan, selalu menjaga agar tindakannya sesuai dengan ucapannya. Sementara sebagai seorang guru, harus bias membimbing, mengarahkan dan member teladan.

Tujuh, daya pribadi akan tumbuh dan berkembang dengan efektif melalui proses pendidikan yang diikuti dengan penerapan. Dipercayai, hanya tindakan yang membuat perubahan, bukan pikiran atau ide-ide statis belaka. Secemerlang apapun ide itu, tak akan berarti apa-apa bila tidak diimplementasikan. Tantangan terhadap daya pribadi bukan terletak pada proses transfer of knowledge saja, melainkan juga pada kondisi internal.