Cari di Blog Ini

Minggu, 28 Oktober 2012

Kikir, Sifat Yang Harus Dihindari

Kikir, Sifat Yang Harus Dihindari

Kikir atau bakhil termasuk akhlaq yang tercela, sebab orang yang kikir memiliki sikap mental "enggan mengeluarkan harta yang menjadi kewajibannya untuk dikeluarkan". Orang yang kikir amat cinta terhadap hartanya, yang karena kecintaannya itu ia melalaikan kewajiban yang harus ditunaikan. Dengan demikian pada hakekatnya ia lebih mementingkan harta daripada amal-ibadah.

Simbol dari sifat kikir, ( juga sombong dan iri ), dipersonifikasikan pada diri KABIL, putra Nabi Adam, ketika kepadanya disuruh untuk memberikan korban kepada Allah. Seperti diketahui , Kabil adalah gambaran manusia egoistis, yang hanya memburu kenikmatan hawa nafsu. Tujuan hidupnya semata-mata mengejar kepuasan hawa nafsu berupa harta, tahta dan wanita. Untuk mendapatkan apa yang dikehendakinya ia akan melakukan apa saja, terhadap siapa saja dan kapan saja.

Adiknya yang bernama HABIL menjadi korban dari perbuatannya yang sangat keji. Habil merupakan personifikasi dari sifat-sifat yang baik seperti dermawan, ikhlas dan rendah hati. Ketika keduanya dihadapkan dengan tugas berkorban untuk Allah, sikap, tanggapan dan perilakunya pun berbeda. Kabil, yang merasa bahwa harta benda sebagai surga yang dapat membahagiakannya bersikap negatif. "Mengapa harta benda yang membahagiakan itu mesti dikorbankan? Bukankah harta benda yang dimilikinya adalah sepenuhnya hasil cucuran keringat sendiri?"

Bisikan dan fikiran buruk sebagai konsekuensi logis dari sipak negatifnya, menyebabakan dia memberikan pengorbanan secara minimal, karena terpaksa. Dipilihnya buah-buahan yang paling buruk, tak enak dimakan dan tidak bermanfaat, serta dipilihnya binatang ternak yang kurus-kering tak berdaging. Sungguh berbeda sekali keadaannya dengan HABIL. Ketika menerima kewajiban berkorban, tumbuh rasa ikhlas dan syukur dihatinya, ia mempersaembahkan korban yang paling baik, buah-buahan segar dan ternak yang gemuk. Sikap mentalnya yang positif dalam menerima tugas kewajiban itu menyebabkan segala perilaku terarah pada tindakan yang baik.

Perbedaan sifat mental, anggapan serta perilaku tersebut menyebabkan berbeda pula penerimaan Allah terhadap amal (korban) yang dipersembahkan. Allah tidak menerima persembahan korban Kabil dikarenakan sifat kikir dan tidak ikhlas, sedangkan persembahan korban Habil diterima oleh Allah karena keikhlasan dan kedermawanannya.

Ternyata keputusan Allah yang adil itu masih membawa buntut lain. Kabil merasa tidak puas terhadap keputusan itu, ia merasa iri terhadap adiknya yang dianggap lebih rendah darinya. Sikap iri dan sombong inilah yang kemudian menyebabkan ia tega membunuh adiknya Habil.

Setelah peristiwa pembunuhan, dunia terasa sempit bagi Kabil yang selalu dikejar-kejar rasa bersalah, kemanapun ia lari suara lantang mengutuknya terngiang-ngiang ditelinganya, tak ada rasa aman dan udara yang segar, yang ada hanya suara dan udara yang senantiasa mengutuknya.

Begitulah keadaan orang kikir yang dilukiskan pada surah Al-Lail ayat 8-11:
"Adapun orang yang bakhil dan merasa tidak butuh pada pertolongan dan mendustakan kebaikan, maka akan kami mudahkan dia kepada jalan yang sempit. Tidak ada guna baginya harta kekayaannya bila dia terjerumus".

Kikir tidak akan mendapatkan manfaat apa-apa dari harta yang amat dicintai, sebaliknya akan mendapatkan kesulitan dan kerugian-kerugian besar dengan hartanya itu. Nabi Muhammad SAW telah memperingatkan akan bahaya sifat kikir ini dengan sabdanya yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:
"Jagalah dirimu daripada sifat aniaya, karena aniaya itu akan merupakan kegelapan di hari Qiyamat nanti, dan peliharalah dirimu dari pada sifat kikir, karena sifat kikir itu membinasakan ummat-ummat sebelum kamu, mendorong mereka mengadakan pertumpahan darah dan menghalalkan semua yang diharamkan Allah".

Abu Bakar Siddiq menggambarkan tujuh bahaya kikir :
  1. Orang kikir akan meninggalkan hartanya itu pada ahli waris yang tidak mampu mengurusnya, sehingga harta itu akan dihambur-hamburkan untuk sesuatu yang tidak bermanfaat.
  2. Harta yang ditinggalkan itu dirampas oleh pengusasa yang dzalim.
  3. Hartanya untuk melampiaskan keinginan nafsu seksualnya hingga ludes.
  4. Hartanya dipergunakan untuk membangun sesuatu yang rapuh, kemudian roboh.
  5. Hartanya habis karena dicuri, terbakar atau sebab-sebab lain.
  6. Hartanya yang tidak bermafaat itu semata-mata untuk biaya berobat dirinya yg menderita penyakit kronis.
  7. Hartanya itu hilang karena ditanam di suatu tempat yang dia lupa tempat manakah itu ?
Agar terhindar dari semua bahaya yang tidak kita harapkan, marilah sejak sekarang kita hilangkan sifat kikir secara bertahap. Pertama kali, kita introspeksi diri kita, sejauh mana tingkat kekikiran kita, kemudian setiap hari berusaha untuk mengurangi dengan selalu menyadari bahayanya. Selanjutnya kita tumbuh kembangkan dan suburkan sifat dermawan dengan cara selalu mengingat sabda Nabi Muhammad SAW:
"Tangan diatas (yang memberi) lebih baik dari pada tangan yang di bawah (yang diberi)".

Memberi tanpa banyak fikir apa yang kita miliki menurut kadar ukuran kita, apakah yang akan kita berikan itu berupa harta benda, ilmu pengetahuan ataukah tenaga. Dengan selalu membiasakan memberi, secara berangsur-angsur niscaya sifat dermawan akan tumbuh menjadi akhlaq kita, dan sebaliknya sifat kikir akan terkikis habis dari jiwa kita. Dan sungguh beruntung jika kita dapat terpelihara dari kekikiran (kebakhilan) dan bersifat dermawan. Allah menjanjikan kebahagiaan kepada kita seperti yang difirmankan dalam surah Al-Hasyr ayat 9:
"Dan barang siapa yang terpelihara dari kekikiran dirinya, maka merekalah orang-orang yang beruntung"