Cari di Blog Ini

Rabu, 31 Oktober 2012

Human Capital

Human Capital
Kapital cenderung dimaknai dan memiliki persepsi sebagai aset, atau kekuatan. Dalam lingkungan bisnis, kapital berkonotasi sebagai sumber uang dimana berarti seluruh kegiatan ekonomi perusahaan dapat dimulai atau diawali. Pada era industrialisasi, dimana banyak perusahaan-perusahaan manufaktur atau minyak dan gas menitikberatkan usahanya dengan penguasaan sumber daya yang seluas-luasnya. Baik itu mulai dari hulu ke hilir, dari bahan mentah ke barang jadi, dari pembuatan barang jadi sampai ke perakitan, semua hal tersebut dilakukan sendiri dengan tujuan mereka dapat lebih fleksibel untuk melakukan penghematan biaya, menguasai pasar, atau masuk ke lingkungan pasar yang berbeda. Kemampuan ini merupakan bagian dari sistem kapitalis, yang menyatakan barang siapa yang memiliki sumber daya yang lebih besar, maka ia akan memimpin segalanya.

Pada kira-kira pertengahan tahun 1980-an, hal sepert tersebut diatas telah bergeser. Muncul pertanyaan yang sangat mendasar, siapakah yang akan mengelola semua sumber daya tersebut? Apa yang membedakan kesuksesan antara sebuah perusahaan yang mempunyai margin laba yang besar dengan yang memiliki volume produksi yang tinggi pada sebuah industri? Jawabannya adalah, selamat datang di era Human Capital (modal berbasis manusia).

Mungkin ini bukan sebuah ide yang spektakuler, atau bahkan fenomenal, semua orang secara rasional dapat membenarkan alas an tersebut. Namun setelah sekian lama teori tersebut dikenal keberadaannya, nampaknya hal ini tidak semudah yang kita bayangkan dalam penerapannya.

Berbicara mengenai Human Capital, berarti tidak boleh kita lewatkan mengenai knowledge capital (modal berbasis pengetahuan). Dimulai dari pada pertengahan dasawarsa 1990, perusahaan Microsoft yang kita kenal saat ini digunakan sebagai pembuat software sistem pengoperasian komputer sampai ke word office yang memudahkan kita saat ini dalam bekerja. Pada saat itu saham mereka melambung signifikan dengan nilai rata-rata $70 yang padahal sebenarnya tercatat pada nilai buku sebesar $7. Dengan kata lain untuk setiap $1 dolar yang tercatat berarti pasar melihat $9 tambahan sebagai nilai tambah. Bagaimana hal ini terjadi? Jawabannya bukan pada asset tangible (jelas, terlihat, kongkrit), tetapi semuanya terletak pada asset intangible-nya (tidak jelas, tidak terlihat, tidak konkrit) yakni kemampuan menggunakan pengetahuannya dalam memahami produk, pasar/bisnis, dan keinginan pelanggan.

Tiga langkah yang harus ditempuh dalam mengimplementasikan pengetahuan sebagai fokus strategi pengembangan perusahaan jangka panjang adalah: kepemilikan kompetensi dari tiap karyawan, struktur internal perusahaan yang meliputi system manajemen, teknologi, dan penelitan pengembangan, serta struktur eksternal perusahaan yang mencakup hubungan dengan pelanggan dan vendor / partner bisnis yang dimiliki.

Ada dua hal yang berbeda disini antara pemberdayaan pengetahuan dan kepemilikan informasi. Perbedaan yang sama dapat dijumpai juga pada definisi umum antara efektif dan efisien. Efektif berhubungan dengan keluaran / hasil / output yang terjadi akibat masukkan / input. Efisien hanya berhubungan dengan besarnya ukuran variabel input. Strategi pengetahuan mengedepankan peningkatan kualitas proses, sedangkan dengan informasi secara umum menempatkan input diatas segalanya sebagai pertimbangan.

Maka kesimpulannya, apakah kita akan mengelola perusahaan dengan moto bahwa karyawan adalah sebagai biaya, atau karyawan sebagai keuntungan. Mari kita jawab dengan memberdayaan diri kita masing-masing pada area atau lingkungan kerja yang menjadi tanggung jawab kita agar lebih efektif, sehingga berarti mencapai efisiensi dan menaikkan produktifitas.