Cari di Blog Ini

Kamis, 25 Oktober 2012

Cermin

Cermin

Semua orang mengenalnya, bahkan suka kepadanya. Tiada satu rumah, betapapun fakirnya sang pemilik, pasti ia punya benda yang satu ini. Begitu lekat benda ini dengan kehidupan kita, seakan ia adalah bagian dari hidup kita yang tak terpisahkan.

Kala becermin, kita curahkan seluruh perhatian kepadanya. Dengan penuh ketulusan hati, kita ikuti kritik dan nasihat-nasihatnya. Setelah itu, dengan kritik dan nasihat yang ia berikan, kita tampil dengan penuh percaya diri dalam panggung kehidupan ini.

Aktivitas bercermin kadang kita lakukan lebih dari sekali sehari, dan setiap kali kita lakukan, setiap kali pula kita peroleh kritik dan nasihat darinya. Semua itu, kita terima dengan penuh keikhlasan, tanpa merasa kritik atau nasihat itu menyakitkan hati.

Lalu, apa hikmah yang bisa kita ambil dari cermin? Nabi Muhammad saw menunjukkan kepada kita lewat hadis riwayat Iman At Tarmudzi. Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw bersabda, "Sesungguhnya setiap kalian adalah cermin bagi saudaranya, Maka, apabila ia melihat noda pada dirinya, hendaklah dibuangnya". Dalam riwayat Abu Dawud, hadis tersebut lebih dipertegas bahwa seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin yang lain.

Alangkah indahnya bila kita bisa bercermin kepada saudara kita tentang berbagai kebaikan yang dilakukannya. Demikian pula sebaliknya, mencoba menghindari serta mengoreksi saudara kita manakala berbuat keburukan. Dan ketika saudara kita memberi nasihat atau kritik, tak pernah terbesit dalam hati serta pikiran kita tentang niat buruk atas nasihat atau kritik tersebut. Yang ada, kesadaran bahwa itu hanya perwujudan dari keikhlasan seorang mukmin melihat saudaranya senantiasa selalu dalam kebaikan.

Sebaliknya, bila kita melihat salah seorang saudara kita berbuat kurang baik, adalah kewajiban untuk memberi nasihat dan kritik, ibarat bercermin, tak mau melihat wajah ’bayangan’ kita tercoreng atau kotor akibat lumpur atau kotoran’ dosa. Tentu saja, semua nasihat atau kritik disampaikan dengan penuh kelembutan dan kata-kata baik. Bukan persoalan kita lagi, bila nasihat dan kritik telah tersampaikan, namun ’wajah kotor’ tak hendak dibersihkan. Sebagaimana layaknya cermin, kita hanya berfungsi sebagai pantulan dari wajah sesungguhnya seorang mukmin, wajah penuh kebaikan. Untuk itu, tidak ada kata bosan dalam hal ini ketika mengingatkan saudara kita agar tetap dalam wajah terbaiknya sebagai seorang mukmin.

Berkaitan dengan upaya tersebut, Rasulullah saw juga mengingatkan agar pandai-pandai dalam memilih teman. Teman adalah cermin kepribadian seseorang. Sifat baik seseorang sangat tergantung kepada siapa ia berteman. Sebaliknya, sifat jahat dari teman akan memantul dalam diri seseorang kendati dirinya muslim. Bahkan, mengenali seseorang bisa dilakukan lewat pengenalan teman dekatnya. Bila demikian, sudahkah kita menjadi cermin terbaik bagi orang lain lewat semua kebaikan yang kita perbuat?